Bagi sebagian orang, idul fitri adalah suatu momen untuk mensucikan diri dengan saling memaafkan. Mungkin bagi saya juga. Tapi yang saya tahu, hanya pada momen inilah saya memiliki kepastian untuk menerima permohonan maaf dari seseorang yang seringkali tak menganggap serius kata "maaf", sehingga sering tidak peduli dengan hal tersebut. Dan pada momen inilah hati saya diliputi oleh kerinduan yang sangat terhadapnya.
Tapi, apakah saya harus menunggu selama satu tahun untuk mendapat kata tersebut secara tulus darinya?
Saya rindu, pada sisi dirinya yang lebih manusiawi...
Monday, July 28, 2014
Thursday, July 24, 2014
Ikhlas
Saya belajar bahwa ketidakikhlasan yang berkepanjangan hanya meninggalkan rasa sesak yang berlarut-larut. Keikhlasan bersifat pribadi dan hanya meninggalkan pengaruh secara sepihak, tidak berkaitan dengan pihak yang menjadi objek untuk diikhlaskan. Keikhlasan itu bersifat seperti kebahagiaan, yang menjadi tanggung jawab diri sendiri dalam perwujudannya.
Keikhlasan tak pernah meninggalkan luka.
Manusialah, yang terlalu sering melukai dirinya sendiri, tanpa disadari.
Keikhlasan tak pernah meninggalkan luka.
Manusialah, yang terlalu sering melukai dirinya sendiri, tanpa disadari.
Thursday, June 12, 2014
Kabar pada Kawan
Kalau saja saya disuruh untuk menggambarkan seluruh perasaan yang saya rasakan selama beberapa waktu ini kawan, maka saya tak akan bisa dengan mudah menjawabnya. Kemarahan itu perlahan sirna, namun ingatan tak akan pernah hilang. Maka dengan begitu saya belum sepenuhnya terbebas. Saya memang tak ingin lupa, tapi saya tak ingin merasa terganggu dengan memori yang begitu membekas. Ah, manusia memang kerap saling menyakiti, walau tanpa sengaja. Namun, dengan sengaja mereka kerap saling menyalahkan...
Kawan, perbedaan itu ada bukan untuk dihakimi, kan?
Tapi rasanya masih sulit untuk menerima beberapa perbedaan. Apakah dengan itu menjadikan saya termasuk manusia yang begitu egois?
Nyatanya lebih banyak manusia yang ingin diterima perbedaannya, tanpa mau benar-benar berusaha menerima perbedaan manusia lain. Dan ada pula manusia yang ingin diterima, tapi tidak mengkondisikan dirinya untuk dapat diterima oleh orang lain. Ah, manusia itu kompleks, bukan?
Satu-satunya solusi adalah, jangan jadi manusia.
Tapi saya sudah terlanjur tercipta jadi manusia, dan saya tak menyesalinya.
P.S. Dan untuk pertama kalinya saya merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui apa-apa.
Kawan, perbedaan itu ada bukan untuk dihakimi, kan?
Tapi rasanya masih sulit untuk menerima beberapa perbedaan. Apakah dengan itu menjadikan saya termasuk manusia yang begitu egois?
Nyatanya lebih banyak manusia yang ingin diterima perbedaannya, tanpa mau benar-benar berusaha menerima perbedaan manusia lain. Dan ada pula manusia yang ingin diterima, tapi tidak mengkondisikan dirinya untuk dapat diterima oleh orang lain. Ah, manusia itu kompleks, bukan?
Satu-satunya solusi adalah, jangan jadi manusia.
Tapi saya sudah terlanjur tercipta jadi manusia, dan saya tak menyesalinya.
P.S. Dan untuk pertama kalinya saya merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui apa-apa.
Tuesday, June 10, 2014
Wednesday, June 4, 2014
Untitled
Kemarin, seorang teman (dengan sengaja) men-share ilustrasi ini ke halaman mukabuku saya. Saya jadinya nyengir lebar melihatnya. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

