Kenapa semakin lama semakin sulit rasanya bagi saya untuk menulis?
Apakah saya sudah sedemikian berubah?
Showing posts with label kacau. Show all posts
Showing posts with label kacau. Show all posts
Wednesday, March 11, 2015
Friday, August 15, 2014
Tuesday, June 10, 2014
Sunday, May 12, 2013
Feeling Guilty (?)
Saya sedang merasa bersalah pada beberapa orang, tetapi rasa-rasanya saya bukan berada dalam posisi yang patut dipersalahkan. Saya tak tahu harus berbuat apa sekarang..
Thursday, December 20, 2012
KEHILANGAN
Saya kehilangan banyak hal. Entah itu teman, sahabat, orang-orang yang dekat dengan saya, atau bahkan mungkin orang-orang yang saya harapkan ada. Saya kehilangan banyak hal, entah itu perasaan, harapan, bahkan rasa percaya. Entah saya harus percaya pada siapa lagi, saya tak tahu. Karena semua penuh kebohongan, palsu, tidak ada yang benar-benar tulus. Saya lelah, saya penat. Saya ingin pulang, tapi saya tak punya tujuan untuk itu. Lalu saya harus kemana? Nyatanya saya tak tersesat, karena bagaimana bisa tersesat jika saya tak memiliki jalan. Bahkan tersesat pun memiliki tujuan, memiliki alasan. Saya kosong, apakah saya sudah "mati"?
Wednesday, November 14, 2012
SEMOGA
Saya boleh teriak ga?
Saya pengin teriak keras-keras sampai guling-guling karena kecapekan. Rasanya otak saya kepenuhan dan isinya udah meluber kemana-mana. Nah, saya yang bingung nyari wadah buat luberan isi "otak" malah jadinya cuma bengong-bengong doang, bingung mau ngapain.
Sudah beberapa waktu ini banyak hal yang saya lakukan dan pada akhirnya malah tidak berguna dan menghasilkan apa-apa, useless. Jadinya saya juga sempat uring-uringan ga jelas. Apalagi kalau ingat dengan deadline hawe (LPM Hayamwuruk), tema majalah dan proposal skripsi. Kepala saya rasanya kayak ditumpuki batu-batu kali yang berat banget. Dan ga tau kenapa, akhir-akhir ini di pikiran saya cuma ada dua hal; Hawe dan (calon) skripsi, hmm...
Nekat ga sih, saya yang sudah termasuk angkatan tua, sudah mulai persiapan skripsi tapi masih (mencoba) tetap aktif di organisasi . . .
Ah, toh pada awalnya saya saja yang kepedean, yakin bahwa saya pasti bisa untuk menghandle semuanya. Tapi ternyata saya salah, pada akhirnya juga saya malah kewalahan sendiri untuk membagi pikiran.
Saya butuh liburan, kayaknya. Penginnya sih pergi ke laut atau gunung, atau minimal pergi dari kota mimpi, walaupun tujuannya masih ga jelas. Dan dari beberapa minggu yang lalu sebenarnya saya sudah punya banyak rencana untuk pergi-pergi, termasuk pada hari libur nasional di minggu ini. Tapi, tapi, semua rencana malah gagal. Ada saja hal-hal di luar dugaan yang datang silih berganti. Sementara saya sudah beberapa kali membatalkan acara luar kota yang tidak terlalu saya prioritaskan, jadi menyesal rasanya. Ah, sepertinya saya memang ga ditakdirkan untuk rehat sejenak deh... :(
Ga tau kenapa minggu-minggu ini kebanyakan yang saya lakukan berujung pada satu kata: useless. Semoga minggu-minggu kedepan apa-apa yang saya lakukan tidak lagi berujung pada kata useless . . .
Ya, semoga.
Saya pengin teriak keras-keras sampai guling-guling karena kecapekan. Rasanya otak saya kepenuhan dan isinya udah meluber kemana-mana. Nah, saya yang bingung nyari wadah buat luberan isi "otak" malah jadinya cuma bengong-bengong doang, bingung mau ngapain.
Sudah beberapa waktu ini banyak hal yang saya lakukan dan pada akhirnya malah tidak berguna dan menghasilkan apa-apa, useless. Jadinya saya juga sempat uring-uringan ga jelas. Apalagi kalau ingat dengan deadline hawe (LPM Hayamwuruk), tema majalah dan proposal skripsi. Kepala saya rasanya kayak ditumpuki batu-batu kali yang berat banget. Dan ga tau kenapa, akhir-akhir ini di pikiran saya cuma ada dua hal; Hawe dan (calon) skripsi, hmm...
Nekat ga sih, saya yang sudah termasuk angkatan tua, sudah mulai persiapan skripsi tapi masih (mencoba) tetap aktif di organisasi . . .
Ah, toh pada awalnya saya saja yang kepedean, yakin bahwa saya pasti bisa untuk menghandle semuanya. Tapi ternyata saya salah, pada akhirnya juga saya malah kewalahan sendiri untuk membagi pikiran.
Saya butuh liburan, kayaknya. Penginnya sih pergi ke laut atau gunung, atau minimal pergi dari kota mimpi, walaupun tujuannya masih ga jelas. Dan dari beberapa minggu yang lalu sebenarnya saya sudah punya banyak rencana untuk pergi-pergi, termasuk pada hari libur nasional di minggu ini. Tapi, tapi, semua rencana malah gagal. Ada saja hal-hal di luar dugaan yang datang silih berganti. Sementara saya sudah beberapa kali membatalkan acara luar kota yang tidak terlalu saya prioritaskan, jadi menyesal rasanya. Ah, sepertinya saya memang ga ditakdirkan untuk rehat sejenak deh... :(
Ga tau kenapa minggu-minggu ini kebanyakan yang saya lakukan berujung pada satu kata: useless. Semoga minggu-minggu kedepan apa-apa yang saya lakukan tidak lagi berujung pada kata useless . . .
Ya, semoga.
Sunday, November 4, 2012
DUNIA ANTARA
Orang-orang datang, orang-orang pergi. Tak ada yang menetap selain bekas yang ditinggalkannya. Entah itu berbentuk memori, luka atau kenangan.
Beberapa waktu ini saya merasa diri saya sedang bermasalah. Bahkan karena terlalu berat memikirkannya, saya sering mual-mual ingin muntah, sakit perut, hingga demam di malam hari. Ada banyak hal yang mempengaruhi mood saya akhir-akhir ini. Saya pikir setelah saya pulang dan rehat sejenak, masalah saya bisa berkurang. Memang iya, saya tidak terlalu memikirkan masalah-masalah itu, tapi entah kenapa ada satu-dua hal yang malah membuat saya semakin bermasalah. Ternyata tidak semudah itu ya untuk membentuk lupa.
Saya bingung, dan saya banyak mempertanyakan banyak hal. Segala hal terasa samar dan tak teraba. Saya merasa banyak hal yang berubah dari diri saya, dan saya kewalahan menghadapinya. Jadinya saya lebih sering merasa bingung untuk melakukan apa. Lalu saya harus bagaimana untuk mengerti keadaan? Sementara masalah-masalah saya muncul silih berganti saat saya bertemu dengan orang-orang yang justru dari merekalah saya mengharapkan penyelesaian untuk banyak masalah saya.
Saya merasa sangat sepi kali ini. Sepi yang berbeda dari biasanya. Saya yang merasa tidak sanggup pada akhirnya berusaha mencari orang lain, minta ditemani. Saya merasa kali ini jika saya sendirian saya akan meledak. Tapi tidak semua hal bisa saya ungkapkan ke orang lain, dan pada akhirnya yang saya lakukan adalah berdiam diri. Saya masih belajar untuk menerima, untuk melepaskan, walaupun saya tahu konsekuensi dari proses itu. Konsekuensi yang setara dengan kehilangan salah satu bagian dari diri saya.
Kata seorang teman yang menjadi salah satu tempat saya mengadu, saya sedang berada di dunia antara. Dalam artian saya masih bingung untuk memutuskan akan jadi apa diri saya. Saya yang begini adanya, menjadi diri sendiri, atau menjadi apa yang diharapkan oleh orang lain. Sementara hampir sepanjang hidup saya, saya sering dipaksa untuk menjadi orang yang diharapkan orang lain. Mungkin saya lebih mirip robot yang dibentuk oleh orang-orang di sekitar saya. Saya lelah, teramat sangat. Semenjak dulu pun saya sudah terbiasa untuk memberontak dan melarikan diri. Karena ego membuat saya tidak ingin menjadi siapa pun. Saya hanya ingin bebas menjadi diri apa yang saya inginkan tanpa ada yang mendikte. Tapi konsekuensi dari hal itu adalah saya akan terus mengalami kesepian. Dan saya benci itu.
Masalah saya nyatanya tidak memiliki jalan untuk selesai. Tapi saya harus memilih, bukan? Dan itu tidak mudah, karena apapun jalan yang saya pilih nyatanya akan membunuh satu bagian dari diri saya, entah apa.
Pertanyaannya adalah, sudah siapkah saya?
Thursday, October 18, 2012
SELFNOTE
Menjadi orang yang dinomorduakan itu menyebalkan ya. Rasanya menjadi yang tidak dipentingkan dan diperhatikan itu sungguh sesak. Egois memang, karena hampir setiap manusia memiliki sifat "keakuan", entah itu dominan atau tidak. Entahlah, ditengah kesensitifan saya yang sedang kumat-kumatnya, saya merasa sesak dengan kenyataan bahwa beberapa orang-orang terdekat saya, yang bahkan terkadang saya pedulikan melebihi diri saya sendiri, sedikit demi sedikit seakan melupakan keberadaan saya. Saya merasa menjadi orang cadangan, yang baru diperbolehkan untuk beraksi bila dibutuhkan. Semacam pelarian, tidak penting.
Saya hanya sedih. Saya sedang membutuhkan bantuan, dukungan, tetapi yang saya dapatkan hanyalah penyalahan. Sementara di keluarga saya sendiri seringnya keinginan saya itu menjadi prioritas nomor sekian, tidak dipentingkan. Lalu buat apa saya ada, jika nyatanya hidup saya adalah milik orang lain, dimana hanya ada mereka, mereka, dan mereka.
Untuk sekali ini, saya ingin menjadi orang yang egois, boleh kan . . .
Saya hanya sedih. Saya sedang membutuhkan bantuan, dukungan, tetapi yang saya dapatkan hanyalah penyalahan. Sementara di keluarga saya sendiri seringnya keinginan saya itu menjadi prioritas nomor sekian, tidak dipentingkan. Lalu buat apa saya ada, jika nyatanya hidup saya adalah milik orang lain, dimana hanya ada mereka, mereka, dan mereka.
Untuk sekali ini, saya ingin menjadi orang yang egois, boleh kan . . .
Wednesday, October 17, 2012
SELFNOTE
Saya sedang tidak baik-baik saja, lagi . . .
Suasana hati saya kembali buruk, ga tau kenapa. Tiba-tiba saya bisa jadi sangat sensitif. Karena beberapa alasan juga sih, sepertinya akhir-akhir ini sedang ada beberapa orang yang terus berusaha membuat saya kesal.
Saya sedang kesepian, saya akui itu. Orang-orang yang dekat dengan saya seperti jauh. Lingkungan saya tidak sepi, tetapi seperti ada jarak yang memisahkan saya dengan mereka. Saya seperti kehilangan kendali, tenggelam dalam dunia milik sendiri. Sementara mereka juga terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing, dan saya dipaksa untuk mengikuti. Saya lelah, langkah saya sedang terlalu berat.
Saya sedang merasa kurang nyaman dengan beberapa hal. Saya seperti berada di tempat yang salah dengan kondisi yang salah pula. Saya seperti orang asing yang ga tau apa-apa. Saya cuma orang asing, dan tidak ada yang menyenangkan untuk menjadi terasingkan.
Saya merasa banyak hal yang salah pada diri saya akhir-akhir ini. Sifat mudah sinis saya keluar lagi pada akhirnya, dan saya susah mengendalikannya. Jadinya malah saya yang rugi sendiri.
Ah, saya pengin menyepi, tapi saya ga mau sendirian . . . :(
Suasana hati saya kembali buruk, ga tau kenapa. Tiba-tiba saya bisa jadi sangat sensitif. Karena beberapa alasan juga sih, sepertinya akhir-akhir ini sedang ada beberapa orang yang terus berusaha membuat saya kesal.
Saya sedang kesepian, saya akui itu. Orang-orang yang dekat dengan saya seperti jauh. Lingkungan saya tidak sepi, tetapi seperti ada jarak yang memisahkan saya dengan mereka. Saya seperti kehilangan kendali, tenggelam dalam dunia milik sendiri. Sementara mereka juga terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing, dan saya dipaksa untuk mengikuti. Saya lelah, langkah saya sedang terlalu berat.
Saya sedang merasa kurang nyaman dengan beberapa hal. Saya seperti berada di tempat yang salah dengan kondisi yang salah pula. Saya seperti orang asing yang ga tau apa-apa. Saya cuma orang asing, dan tidak ada yang menyenangkan untuk menjadi terasingkan.
Saya merasa banyak hal yang salah pada diri saya akhir-akhir ini. Sifat mudah sinis saya keluar lagi pada akhirnya, dan saya susah mengendalikannya. Jadinya malah saya yang rugi sendiri.
Ah, saya pengin menyepi, tapi saya ga mau sendirian . . . :(
Sunday, September 16, 2012
BROKEN
Tuhan, kali ini saya patah . . .
Saya tak tahu seberapa parah, tapi rasanya sesak sekali. Sesak hingga ingin muntah rasanya.
Saya mengalami hari yang buruk tadi. Saya kembali sakit, sendirian, dan disaat saya benar-benar butuh seseorang saya tidak menemukan satu pun yang bisa mengerti. Jadi, yang saya lakukan hanyalah memacu kecepatan, mencoba melarikan diri lagi. Tetapi kemanapun saya pergi, hati saya tidak akan berubah. Saya kali ini patah.
Dan semua terasa tidak sama lagi.
Malam ini saya menggigil. Rasanya seperti demam. Seperti ada yang tercerabut paksa, entah apa. Ya, tidak penting. Tidak ada yang peduli, bahkan mungkin kehadiran saya memang tidak penting.
Saya lelah.
Saya tak tahu seberapa parah, tapi rasanya sesak sekali. Sesak hingga ingin muntah rasanya.
Saya mengalami hari yang buruk tadi. Saya kembali sakit, sendirian, dan disaat saya benar-benar butuh seseorang saya tidak menemukan satu pun yang bisa mengerti. Jadi, yang saya lakukan hanyalah memacu kecepatan, mencoba melarikan diri lagi. Tetapi kemanapun saya pergi, hati saya tidak akan berubah. Saya kali ini patah.
Dan semua terasa tidak sama lagi.
Malam ini saya menggigil. Rasanya seperti demam. Seperti ada yang tercerabut paksa, entah apa. Ya, tidak penting. Tidak ada yang peduli, bahkan mungkin kehadiran saya memang tidak penting.
Saya lelah.
BODOH
Tuhan, saya kalah . .
Begini ya rasanya kehilangan, kosong. Ada ruang menganga yang ditinggalkan, dan tak akan bisa kembali seperti semula.
Bodoh . . .
Begini ya rasanya kehilangan, kosong. Ada ruang menganga yang ditinggalkan, dan tak akan bisa kembali seperti semula.
Bodoh . . .
Sunday, August 5, 2012
Friday, July 27, 2012
Tuesday, June 5, 2012
TAK TERLIHAT
.Pic taken from random googling.
Saat-saat seperti ini adalah masa ketika saya merasa benar-benar sendirian. Sendirian dan tak terbela. Tinggal di kota mimpi ini, saya sudah terbiasa sejak dulu untuk menebalkan hati dan menulikan telinga, menyiapkan proteksi. Sudah berkali-kali saya mencoba pergi, mencari tempat lain yang lebih "ramah" untuk saya. Namun, semakin keras saya berusaha, saya makin menyadari bahwa saya sudah begitu terikatnya dengan kota mimpi. Saya masih tertahan di sini, di kota mimpi yang saya harap tidak akan menjadi kota tempat realitas saya kemudian berlanjut. Setidaknya dengan begitu saya tidak akan bertemu dengan orang-orang yang sama.
Siang tadi, tiba-tiba seorang teman kuliah (kini saya jadi bertanya-tanya, masih layakkah "dia" untuk saya sebut teman?) mengirim pesan singkat melalui telepon selular. Dia memarahi dan memaki-maki saya, atas akumulasi kesalahannya dan teman saya yang lain. Dia menyalahi saya atas ketidaktahuannya mengenai banyak informasi penting tentang perkuliahan yang sebenarnya sudah diketahui oleh hampir semua orang. Menurut dia, saya tidak becus dalam memenuhi tanggung jawab saya sebagai "Asisten Dosen". Asisten dosen apa? Tiba-tiba titel itu diberikan pada saya yang tidak tahu apa-apa, hanya karena saya dekat dengan beberapa dosen. Ini bukan pertama kalinya ia menyalahkan saya disebabkan oleh berbagai hal. Saya yang tak terima disalahkan terus oleh orang atas kesalahannya sendiri pun berang. Bisa-bisanya dia
"Teman" saya itu beranggapan bahwa saya adalah orang yang harus tahu segalanya mengenai segala informasi perkuliahan. Sekali saja tidak ada update informasi, saya menjadi orang pertama yang disalahkan. Begitu pun bila ada suatu kegiatan di kelas, saya selalu menjadi seksi paling sibuk. Posisi saya adalah "sekretaris abadi", dimana saya bertugas untuk mengurus urusan birokrasi dan urusan-urusan pelik lainnya, di luar tanggung jawab resmi jabatan sekretaris. Bahkan terkadang saya merasa saya bekerja sendiri, dengan seluruh tanggung jawab banyak orang yang tiba-tiba dibebankan hanya pada saya. Sebenarnya saya tidak mau, tetapi saya masih punya rasa peduli, pada keadaan yang sudah sedemikian pasifnya. Konsekuensinya, saya harus siap menjadi bahan omongan banyak orang di kelas saya. Selain banyak yang bilang saya terlalu mendominasi, saya pun sering harus menelan paksa omelan, komplain bahkan caci maki dari banyak orang, atas apa-apa yang seharusnya bukan tanggung jawab saya. Padahal saya dibayar pun tidak.
Saya capek, saya tidak tahan dan saya sakit. Saya lelah menjadi orang yang tidak dihargai di kelas sendiri, padahal di luar saya lebih dihargai dan diapresiasi. Saya lelah untuk terus peduli dan berusaha untuk kepentingan orang lain, sementara orang tersebut hanya mampu menyalahkan atas apa-apa yang dirasa salah. Mungkin mereka hanya menganggap saya "pesuruh", sebagai lebah pekerja dan menjadi tempat penyalahan atas apa-apa yang berada di luar kendali. Dan terkadang bila saya sedang kesal, saya menganggap mereka manusia setengah parasit. Maka salah satu pengharapan saya yang terbesar adalah saya bisa cepat-cepat meninggalkan mereka di belakang, yang hingga kini hanya mampu berjalan di tempat.
Terkadang saya merasa lucu. Saya lebih nyaman berinteraksi dengan orang-orang di luar kelas saya. Mereka menerima saya apa adanaya, dan menilai saya atas kemampuan yang saya miliki, bukan hanya dari omong-omong kosong belaka. Dan entah mengapa, di sanalah saya bisa menemukan sedikit celah kebebasan.
Thursday, April 19, 2012
MEREKA
Hai D.
Keadaan saya semakin memburuk akhir-akhir ini. Saya masih merasa sakit D, baik fisik maupun urusan hati . . .
D, saya lelah. Saya lelah untuk berjuang sendiri, tanpa dibela. Lelah rasanya ketika saya harus terus berjuang untuk kepentingan orang banyak, namun bahkan mereka sendiri tidak mau peduli. Saya capek D, untuk terus menerus menjadi boneka permainan mereka.
Berat rasanya untuk berada di lingkungan yang salah dan menyalahkan. Saya merasa sepi D, karena bahkan kehadiran mereka hanya menempati batas antara ada dan tiada. Secara fisik mereka ada, tetapi naluri saya kerap mengatakan bahwa mereka tidak ada.
Mereka tidak pernah ada untuk saya, sedangkan mereka selalu memaksa saya untuk tetap ada bagi mereka . . .
D, sakit sekali rasanya, ketika saya harus berjuang sendirian, namun pada akhirnya menjadi satu-satunya orang yang disalahkan, bahkan untuk hal-hal di luar kendali saya. Lebih sakit lagi ketika saya melihat orang lain lah yang diberi penghargaan atas semua kerja keras saya.
D, apakah salah bila saya ingin membuktikan diri? Apakah salah bila saya ingin dikenal dari apa-apa yang telah saya lakukan . . .
Mereka tidak pernah mau menghargai saya D, karena menurut mereka saya aneh, saya sok sibuk, bahkan saya dikatai tidak normal, hanya karena saya memegang teguh prinsip-prinsip saya, yang menurut mereka tidak pantas untuk seorang perempuan.
Saya sakit, D . . .
Sudah sejak lama saya mencoba tak peduli D, tetapi nyatanya saya masih punya hati, yang bisa merasakan semua emosi tanpa terkecuali.
Sementara saya ingin meninggalkan mereka pun masih tidak bisa . . .
Keadaan saya semakin memburuk akhir-akhir ini. Saya masih merasa sakit D, baik fisik maupun urusan hati . . .
D, saya lelah. Saya lelah untuk berjuang sendiri, tanpa dibela. Lelah rasanya ketika saya harus terus berjuang untuk kepentingan orang banyak, namun bahkan mereka sendiri tidak mau peduli. Saya capek D, untuk terus menerus menjadi boneka permainan mereka.
Berat rasanya untuk berada di lingkungan yang salah dan menyalahkan. Saya merasa sepi D, karena bahkan kehadiran mereka hanya menempati batas antara ada dan tiada. Secara fisik mereka ada, tetapi naluri saya kerap mengatakan bahwa mereka tidak ada.
Mereka tidak pernah ada untuk saya, sedangkan mereka selalu memaksa saya untuk tetap ada bagi mereka . . .
D, sakit sekali rasanya, ketika saya harus berjuang sendirian, namun pada akhirnya menjadi satu-satunya orang yang disalahkan, bahkan untuk hal-hal di luar kendali saya. Lebih sakit lagi ketika saya melihat orang lain lah yang diberi penghargaan atas semua kerja keras saya.
D, apakah salah bila saya ingin membuktikan diri? Apakah salah bila saya ingin dikenal dari apa-apa yang telah saya lakukan . . .
Mereka tidak pernah mau menghargai saya D, karena menurut mereka saya aneh, saya sok sibuk, bahkan saya dikatai tidak normal, hanya karena saya memegang teguh prinsip-prinsip saya, yang menurut mereka tidak pantas untuk seorang perempuan.
Saya sakit, D . . .
Sudah sejak lama saya mencoba tak peduli D, tetapi nyatanya saya masih punya hati, yang bisa merasakan semua emosi tanpa terkecuali.
Sementara saya ingin meninggalkan mereka pun masih tidak bisa . . .
Wednesday, April 4, 2012
LIVE A LIFE
.Pic taken from random googling."Dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding atas apa-apa yang kau kerjakan."
- Tere Liye (Senja Bersama Rosie) -
Menurutnya saya tidak normal, hanya karena saya tidak sama dengan perempuan lainnya yang sibuk mempercantik diri dan bersikap sok manis. Menurutnya, sebagai perempuan saya terlalu berani, terlalu mandiri. Padahal menurut saya, dia sebagai laki-laki namun tak memiliki nyali yang cukup untuk melakukan hal-hal baru, untuk menghidupkan hidup. Saya marah, pada perkataan sok tahunya tentang saya, padahal dia tidak pernah benar-benar mengenal saya.
Teman saya itu, yang hidupnya terlalu aman dan seperti tanpa masalah, menghakimi saya atas hal-hal yang telah saya lakukan, namun tidak pernah dia lakukan. Dia menyalahi saya karena saya lebih berani untuk keluar dari zona aman saya untuk menikmati hidup, dan dia terlalu takut untuk melihat dunia luar. Menyedihkan, bagaimana seseorang bisa menjadi begitu sok tahu akan kehidupan orang lain tanpa pernah mengerti kerasnya kehidupan di luar zona nyamannya.
Baginya, hidup itu harus santai, mengalir saja. Dan sepertinya dia agak tidak suka dengan saya yang terkadang cenderung menentang arus. Ya, saya punya pendirian dan tujuan, sementara bagi saya, hidup mengikuti arus itu seperti hidup tanpa tujuan, seperti sayur yang tidak pernah dipanaskan, basi!
Saya sangat kesal, pada orang-orang yang suka menghakimi orang lain, atau ikut campur dalam urusan orang lain. Mereka sering bertindak seperti hidup merekalah yang paling sempurna, atau diri merekalah yang paling benar. Padahal bagi saya, terkadang mereka yang suka menghakimi malah memiliki hidup yang terlalu statis dan terlalu kosong, seperti kanvas yang tidak sengaja tertinggal di sudut gelap gudang. Mereka tidak benar-benar hidup, sehingga harus ikut campur atas hidup orang lain.
So pathetic!
P.S. Hingga sekarang saya masih kesal dengan teman saya itu. Bisa-bisanya dia menjelek-jelekkan saya, melihat saya hanya dari satu sisi, seakan-akan dia itu Tuhan yang tahu segalanya.
Sunday, March 25, 2012
Saturday, February 25, 2012
RETAK
Hari ini terasa tak biasa. Entah mengapa beberapa penggal memori yang sempat terlupa meriap-riap keluar, kuat memaksa.
Hari ini saya kembali menyadari, tentang siapa diri saya, tentang bagaimana dan untuk apa hingga saya dulu memaksa lupa. Tentang bagaimana saya sempat mencoba untuk membuang diri saya. Saya yang dulu retak, terduduk diantara rasa utuh dan patah. Dulu, saya yang bahkan sulit untuk berdiri, tetapi dipaksa untuk berlari. Saya yang tertatih-tatih sendirian. Dan saya yang masih sulit untuk memahami, memutuskan untuk pergi, melarikan diri.
Saya dulu memaksa untuk berani di tengah rasa ketakutan. Memaksa untuk kuat, padahal saya lemah dengan segala keterbatasan. Memaksa, berusaha untuk menjadi nomor satu, padahal saya masih terseok-seok seratus nomor di belakang. Saya yang begitu ingin dilihat, walau sekali saja, dan tidak lagi menjadi orang yang disalahkan.
Saya ingat semuanya, tentang bagaimana saya sulit untuk berkata-kata. Saya yang begitu diam, terlalu larut dalam dunia semu saya. Saya yang masih tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang, karena rasanya tidak nyaman, setelah sekian lama terbiasa tersembunyi di balik tirai. Saya yang hingga kini masih sulit untuk menentukan sikap. Saya yang hingga hari ini masih merasa putus asa, karena ternyata lari saja tidak cukup. Untuk apa, toh diri saya hingga kini masih retak.
Saya ingin bebas, bebas dari rasa takut yang masih mengikat saya, karena saya lelah. Rasa takut itu ternyata menghabiskan energi yang begitu besar. Entahlah, saya tak tahu apakah saya masih kuat utuk berlari lagi. Saya hanya ingin jujur, melepaskan semua, dan merasakan utuh kembali.
Hari ini, memori itu meriap-riap memaksa untuk keluar, mengembalikan ingatan tentang diri saya yang dulu, setelah saya secara tak sengaja menemukan file-file lama saya. Entah mengapa tiba-tiba saya kembali membaca buku dan catatan yang dulu biasa saya baca. Dan mood saya langsung berubah ketika secara tak sengaja saya mendengarkan lagu-lagu yang dulu biasa saya dengarkan. Maka ingatan tentang masa lalu saya pun seperti berlomba-lomba untuk hadir di pikiran saya. Ingatan tentang diri saya, yang dulu sempat saya coba buang.
Dan saya menyadari apa yang salah dengan diri saya sekarang. Saya kini merasa seperti orang lain. Ya, saya berhasil membuang sebagian diri saya. Saya sempat melupakan kebiasaan-kebiasaan saya yang dulu begitu lekat dengan diri saya, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai penanda diri saya, penanda bahwa saya bisa berbeda dengan cara saya sendiri.
Ya, hingga kini saya masih tidak suka untuk menjadi sama . . .
Hari ini saya kembali menyadari, tentang siapa diri saya, tentang bagaimana dan untuk apa hingga saya dulu memaksa lupa. Tentang bagaimana saya sempat mencoba untuk membuang diri saya. Saya yang dulu retak, terduduk diantara rasa utuh dan patah. Dulu, saya yang bahkan sulit untuk berdiri, tetapi dipaksa untuk berlari. Saya yang tertatih-tatih sendirian. Dan saya yang masih sulit untuk memahami, memutuskan untuk pergi, melarikan diri.
Saya dulu memaksa untuk berani di tengah rasa ketakutan. Memaksa untuk kuat, padahal saya lemah dengan segala keterbatasan. Memaksa, berusaha untuk menjadi nomor satu, padahal saya masih terseok-seok seratus nomor di belakang. Saya yang begitu ingin dilihat, walau sekali saja, dan tidak lagi menjadi orang yang disalahkan.
Saya ingat semuanya, tentang bagaimana saya sulit untuk berkata-kata. Saya yang begitu diam, terlalu larut dalam dunia semu saya. Saya yang masih tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang, karena rasanya tidak nyaman, setelah sekian lama terbiasa tersembunyi di balik tirai. Saya yang hingga kini masih sulit untuk menentukan sikap. Saya yang hingga hari ini masih merasa putus asa, karena ternyata lari saja tidak cukup. Untuk apa, toh diri saya hingga kini masih retak.
Saya ingin bebas, bebas dari rasa takut yang masih mengikat saya, karena saya lelah. Rasa takut itu ternyata menghabiskan energi yang begitu besar. Entahlah, saya tak tahu apakah saya masih kuat utuk berlari lagi. Saya hanya ingin jujur, melepaskan semua, dan merasakan utuh kembali.
Hari ini, memori itu meriap-riap memaksa untuk keluar, mengembalikan ingatan tentang diri saya yang dulu, setelah saya secara tak sengaja menemukan file-file lama saya. Entah mengapa tiba-tiba saya kembali membaca buku dan catatan yang dulu biasa saya baca. Dan mood saya langsung berubah ketika secara tak sengaja saya mendengarkan lagu-lagu yang dulu biasa saya dengarkan. Maka ingatan tentang masa lalu saya pun seperti berlomba-lomba untuk hadir di pikiran saya. Ingatan tentang diri saya, yang dulu sempat saya coba buang.
Dan saya menyadari apa yang salah dengan diri saya sekarang. Saya kini merasa seperti orang lain. Ya, saya berhasil membuang sebagian diri saya. Saya sempat melupakan kebiasaan-kebiasaan saya yang dulu begitu lekat dengan diri saya, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai penanda diri saya, penanda bahwa saya bisa berbeda dengan cara saya sendiri.
Ya, hingga kini saya masih tidak suka untuk menjadi sama . . .
Monday, January 2, 2012
TOLONG HARGAI SEDIKIT
Saya saat ini sedang sangat kesal. Bila dilihat mungkin muka saya sudah kusut bertekuk-tekuk dengan bibir cemberut. Mood saya benar-benar sedang buruk dan hati saya benar-benar sedang diliputi rasa sebal yang berlebihan. Banyak hal dan kejadian hari ini yang membuat hati saya lelah, padahal saya kira hari ini adalah hari yang menyenangkan.
Saya ingin marah, tetapi tidak baik juga bila saya melampiaskan amarah saya pada orang lain. Jadi lebih baik saya begini saja, diam di kamar sambil mengetik sampah unek-unek saya dalam post ini. Saya benar-benar merasa menjadi orang paling useless hari ini. Omongan saya tidak didengar, dan jujur saja, banyak yang butuh saya tetapi mereka tidak menghargai saya. Bukannya saya bermaksud tinggi hati, tetapi itulah kenyataannya.
Tadi saya rapat, dan dengan sukses saya meninggalkan rapat itu setelah melontarkan kata-kata yang cukup sinis. Ok, saya memang salah dengan bersikap seperti anak kecil. Tetapi saya benar-benar sedang kesal dan saya tidak suka untuk mengikuti rapat dengan keadaan hati yang tidak tenang. Salah satu alasan kekesalan saya adalah ketika saya tidak ada saya dicari, tetapi ketika ada saya tidak ditanggapi. Mereka meminta pendapat saya tetapi ketika saya berpendapat, mereka berteriak pada saya dan berdebat seperti anak kecil. Padahal ujung-ujungnya pendapat saya dibenarkan juga. Saya hanya tidak suka dengan orang yang tidak punya prinsip, yang hanya mengikuti arus dan mudah disetir. Apalagi orang tersebut berbicara selayaknya dia adalah orang yang paling penting padahal dia tidak mengerti apa-apa. Sebenarnya tidak baik juga bila saya berkata-kata seperti itu. Saya bukannya orang yang gila hormat. Saya hanya capek merasa tidak dihargai.
Bukan hanya masalah rapat itu saja. Saya juga sedang sebal dengan teman-teman saya yang meminta bantuan saya. Namanya teman meminta tolong pasti saya usahakan untuk bantu, walaupun saya juga kerepotan dengan urusan saya sendiri. Saya sudah berusaha untuk menyempatkan waktu saya untuk teman saya itu, tetapi mereka malah melanggar janji yang mereka buat sendiri. Saya pun akhirnya membuang-buang waktu percuma untuk hal yang tidak penting. Dan ini bukan untuk pertama kalinya saya seperti itu. Tidak mengertikah mereka bahwa saya juga punya urusan lain yang terpaksa saya tinggalkan hanya demi membantu mereka.
Bukannya apa-apa, minggu-minggu ini saya benar-benar sedang sibuk dan mempunyai banyak masalah. Besok saya mulai UAS, dengan setumpuk tugas yang belum sempat saya kerjakan. Selain itu, saya juga beban banyak di luar masalah perkuliahan. Saya lelah, namun sepertinya tidak ada yang peduli.
Saya lelah dengan pesan-pesan tidak penting yang pada intinya sama, "Hari ini kuliah jam berapa?", "Dosennya siapa?", "Tugas apa aja ya?", "Besok ujiannya apa?", dll. Kesannya mereka hanya menghubungi saya bila sedang butuh saja. Dan saya lelah dengan pesan-pesan tidak penting seperti itu yang sering mampir di pagi hari saya. Padahal saya sangat tidak suka bila pagi-pagi sudah diganggu oleh hal-hal semacam itu. Tetapi mau bagaimana lagi, bila tidak saya jawab, pasti saya dianggap sombong.
Saya lelah. Tidak mengertikah mereka akan batas-batas yang saya miliki? Tolong, hargai saya sedikit . . .
Saya ingin marah, tetapi tidak baik juga bila saya melampiaskan amarah saya pada orang lain. Jadi lebih baik saya begini saja, diam di kamar sambil mengetik sampah unek-unek saya dalam post ini. Saya benar-benar merasa menjadi orang paling useless hari ini. Omongan saya tidak didengar, dan jujur saja, banyak yang butuh saya tetapi mereka tidak menghargai saya. Bukannya saya bermaksud tinggi hati, tetapi itulah kenyataannya.
Tadi saya rapat, dan dengan sukses saya meninggalkan rapat itu setelah melontarkan kata-kata yang cukup sinis. Ok, saya memang salah dengan bersikap seperti anak kecil. Tetapi saya benar-benar sedang kesal dan saya tidak suka untuk mengikuti rapat dengan keadaan hati yang tidak tenang. Salah satu alasan kekesalan saya adalah ketika saya tidak ada saya dicari, tetapi ketika ada saya tidak ditanggapi. Mereka meminta pendapat saya tetapi ketika saya berpendapat, mereka berteriak pada saya dan berdebat seperti anak kecil. Padahal ujung-ujungnya pendapat saya dibenarkan juga. Saya hanya tidak suka dengan orang yang tidak punya prinsip, yang hanya mengikuti arus dan mudah disetir. Apalagi orang tersebut berbicara selayaknya dia adalah orang yang paling penting padahal dia tidak mengerti apa-apa. Sebenarnya tidak baik juga bila saya berkata-kata seperti itu. Saya bukannya orang yang gila hormat. Saya hanya capek merasa tidak dihargai.
Bukan hanya masalah rapat itu saja. Saya juga sedang sebal dengan teman-teman saya yang meminta bantuan saya. Namanya teman meminta tolong pasti saya usahakan untuk bantu, walaupun saya juga kerepotan dengan urusan saya sendiri. Saya sudah berusaha untuk menyempatkan waktu saya untuk teman saya itu, tetapi mereka malah melanggar janji yang mereka buat sendiri. Saya pun akhirnya membuang-buang waktu percuma untuk hal yang tidak penting. Dan ini bukan untuk pertama kalinya saya seperti itu. Tidak mengertikah mereka bahwa saya juga punya urusan lain yang terpaksa saya tinggalkan hanya demi membantu mereka.
Bukannya apa-apa, minggu-minggu ini saya benar-benar sedang sibuk dan mempunyai banyak masalah. Besok saya mulai UAS, dengan setumpuk tugas yang belum sempat saya kerjakan. Selain itu, saya juga beban banyak di luar masalah perkuliahan. Saya lelah, namun sepertinya tidak ada yang peduli.
Saya lelah dengan pesan-pesan tidak penting yang pada intinya sama, "Hari ini kuliah jam berapa?", "Dosennya siapa?", "Tugas apa aja ya?", "Besok ujiannya apa?", dll. Kesannya mereka hanya menghubungi saya bila sedang butuh saja. Dan saya lelah dengan pesan-pesan tidak penting seperti itu yang sering mampir di pagi hari saya. Padahal saya sangat tidak suka bila pagi-pagi sudah diganggu oleh hal-hal semacam itu. Tetapi mau bagaimana lagi, bila tidak saya jawab, pasti saya dianggap sombong.
Saya lelah. Tidak mengertikah mereka akan batas-batas yang saya miliki? Tolong, hargai saya sedikit . . .
Wednesday, December 7, 2011
ERROR
Hari ini sebenarnya saya kenapa? Seharian berjalan dengan tatapan kosong. Apa ini karena pengaruh mata? Kaca mata saya memang sedang patah, sehingga saya terpaksa memakai contact lens berhari-hari. Lebih parahnya, mata saya yang kanan iritasi, dan selama berhari-hari perihnya masih terasa. Bahkan terkadang saya harus terus menutup mata saya karena tidak tahan. Padahal merah-merahnya sudah hilang. Alhasil selama berhari-hari saya terpaksa memakai contact lens hanya untuk mata kiri saya.
Saya sudah berniat untuk membetulkan kaca mata saya, tetapi ada saja halangannya. Saya masih belum sempat. Lagi pula sepertinya kaca mata saya memang sudah harus pensiun. Umurnya sudah dua setengah tahun. Tetapi saya sedang tidak punya uang, sedangkan untuk meminta ke orang tua rasanya segan. Soalnya rumah saya sedang di renovasi dan pasti membutuhkan dana ekstra.
Saya sekarang masih kaget. Setengah jam yang lalu motor saya ditabrak oleh mobil di belokan yang menuju kampus jurusan saya. Motor saya kena, di bagian knalpot. Sedih rasanya. Saya mau marah pun tidak bisa, saya terlalu kaget, sementara pikiran saya malah nge-blank. Setelah ditabrak saya hanya terdiam lama, dan kemudian buru-buru memasuki parkiran fakultas saya. Saya bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang berkerumun dan orang yang menabrak saya. Saya baru bisa berpikir ketika saya sudah di parkiran. Ketika saya cek keadaan motor saya, ternyata penutup knalpotnya hancur . . . :(
Lemas sekali rasanya. Sampai-sampai saya tidak bisa berjalan tegak, terlalu limbung. Apalagi setelah saya ingat, mobil yang menabrak saya mirip dengan mobil dosen saya. Tetapi supirnya mas-mas, masih muda. Saya jadi khawatir. Mungkin itu salah satu alasan saya terdiam lama. Saya tidak ingin ada masalah, dan saya tidak suka menjadi pusat perhatian.
Sebenarnya ada apa dengan saya. Sepertinya ini bukan hanya masalah mata saja. Terlalu aneh bila hanya karena mata, pikiran saya bisa error selama berhari-hari. Mungkin saya harus beristirahat dulu, menenangkan diri dan mendinginkan pikiran.
Saya sudah berniat untuk membetulkan kaca mata saya, tetapi ada saja halangannya. Saya masih belum sempat. Lagi pula sepertinya kaca mata saya memang sudah harus pensiun. Umurnya sudah dua setengah tahun. Tetapi saya sedang tidak punya uang, sedangkan untuk meminta ke orang tua rasanya segan. Soalnya rumah saya sedang di renovasi dan pasti membutuhkan dana ekstra.
Saya sekarang masih kaget. Setengah jam yang lalu motor saya ditabrak oleh mobil di belokan yang menuju kampus jurusan saya. Motor saya kena, di bagian knalpot. Sedih rasanya. Saya mau marah pun tidak bisa, saya terlalu kaget, sementara pikiran saya malah nge-blank. Setelah ditabrak saya hanya terdiam lama, dan kemudian buru-buru memasuki parkiran fakultas saya. Saya bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang berkerumun dan orang yang menabrak saya. Saya baru bisa berpikir ketika saya sudah di parkiran. Ketika saya cek keadaan motor saya, ternyata penutup knalpotnya hancur . . . :(
Lemas sekali rasanya. Sampai-sampai saya tidak bisa berjalan tegak, terlalu limbung. Apalagi setelah saya ingat, mobil yang menabrak saya mirip dengan mobil dosen saya. Tetapi supirnya mas-mas, masih muda. Saya jadi khawatir. Mungkin itu salah satu alasan saya terdiam lama. Saya tidak ingin ada masalah, dan saya tidak suka menjadi pusat perhatian.
Sebenarnya ada apa dengan saya. Sepertinya ini bukan hanya masalah mata saja. Terlalu aneh bila hanya karena mata, pikiran saya bisa error selama berhari-hari. Mungkin saya harus beristirahat dulu, menenangkan diri dan mendinginkan pikiran.
Subscribe to:
Posts (Atom)

