Saturday, May 11, 2013
Orang yang Salah
Pernah pada suatu masa, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Bisa dibilang ia menjadi salah satu orang yang begitu tulus pada saya. Selama beberapa lama saya tak melihatnya sebagai seorang "laki-laki". Bagi saya ia sama dengan teman saya lainnya. Namun selama itu ia hampir tak pernah melepas saya, dan selalu berusaha untuk menemani saya. Hingga akhirnya "hubungan" kami mulai mengendur. Setelah kami "berpisah", saya baru menyadari hal-hal apa saja yang telah ia lakukan untuk dan bersama saya. Saya kemudian sedikit menyesali perpisahan itu. Hanya saja yang paling saya sesalkan, saya tak pernah benar-benar membuat kenangan untuknya. Karena selama itu saya tak benar-benar meresapi kebersamaan kami. Hanya saja ia, yang pertama kali meninggalkan jejak bagi diri saya.
Pernah pada masa lainnya, saya dekat dengan seorang laki-laki. Kami saling "menggenggam" dan "menopang". Kami sama-sama memiliki kelemahan, namun kami juga sama-sama menguatkan. Hampir tak ada lagi rahasia diantara kami. Hingga pada akhirnya saya harus meninggalkan kota kami. Dan ia pun sempat mencetus ingin menyusul saya. Namun saya tak mau, karena ia sempat membuat suatu kesalahan yang tak bisa saya terima. Dan kini ia telah terikat secara sah dengan perempuan lain. Saya bahagia untuknya. Hanya saja kehadiran saya sebagai teman lama dianggap sebagai pengganggu bagi perempuannya kini. Ya, memang sudah saatnya kita berpisah bukan?
Pada masa berikutnya, ada seorang laki-laki yang datang ke kehidupan saya secara tak disengaja. Katanya, ia menganggap saya sebagai teman baiknya, dan melarang saya untuk jatuh hati padanya. Awalnya saya ingin tertawa, karena saya memang bukan orang yang mudah jatuh hati. Namun ternyata saya terlalu percaya diri saat itu. Ia berhasil meruntuhkan benteng yang sempat saya buat dengan caranya yang tak biasa. Selama itu pula, ia memperlakukan saya tak seperti sekadar seorang teman. Entahlah ia menganggap saya apa. Hanya saja saya rasa kami seperti saling mengorbit satu sama lain. Selama beberapa lama ia menguasai dunia saya. Ia membutuhkan saya dan saya membutuhkan dia. Bahkan dengannya, saya seperti menemukan diri saya yang sebenarnya. Namun hal yang paling menyesakkan adalah, saya menyadari bahwa saya baginya bukanlah orang yang tepat, dan ada banyak hal dalam dirinya yang tak bisa saya terima.
Selama beberapa waktu, ia berhasil membuat saya menangis. Ia bilang saya cengeng. Hanya saja ia tak tahu, bahwa saya memang sulit menahan diri ketika berurusan dengannya. Dalam pikiran terburuk saya, ia mungkin memang tak pernah benar-benar "memandang" saya. Dan pada akhirnya perpisahan hadir kembali. Saya menangis di depannya saat itu, karena saya merasakan kehilangan yang amat sangat. Saya berkata padanya bahwa saya tak bisa lupa padanya, walau betapa inginnya saya. Jika bisa pun, saya tak tahu, apakah saya masih bisa mengalami rasa sedalam itu terhadap orang lain..
Saya ingat, dia pernah berkata pada saya, urusan hati adalah urusan pribadi masing-masing orang..
Saya bukan orang yang tepat baginya, mungkin begitu pun dia bagi saya. Ia pernah bilang pada saya, suatu hari saya akan menemukan orang yang tepat, entah kapan. Dan saya pun sudah ikhlas dengan perpisahan itu. Pada akhirnya, saya harus bisa melepaskan, kan..
Thursday, February 14, 2013
Kenangan...
Kau kerap memperolok aku dengan kegandrunganku terhadap masa lalu. Bagiku menelusuri jejak kehidupan manusia adalah suatu hal yang menarik, namun bagimu hal tersebut sungguh tidak berguna dan membosankan. Terkadang kupikir kau menganggap bahwa masa lalu adalah luka dan kau tak ingin mengenangnya, sedangkan aku kau anggap begitu senang mengungkit-ungkit masa lalu. Nyatanya kau dan aku memang berbeda.
Aku teringat dengan pertemuan terakhir kita di sudut kamarmu yang selalu kau biarkan berantakan. Setiap aku bertanya kenapa, kau selalu berkata bahwa keadaan kamarmu yang seperti itu membuatmu nyaman. Kau tak suka diintervensi oleh orang lain dan lebih suka berbuat semau hati. Aku masih teringat dengan obrolan kita di suatu malam. Kau berkata bahwa kau lebih memilih untuk dijauhi oleh orang lain namun kau tetap menjadi dirimu sendiri dan berbuat semau-maumu. Kau tidak ingin menjadi palsu dan menuruti keinginan orang jika itu tidak sesuai dengan hatimu.
"Aku tidak mengerti."
"Kau memang tidak akan pernah mengerti..."
Kau ingin melupakan dan mungkin juga dilupakan. Tetapi kau tahu, bahwa aku tak akan pernah lupa. Dan hingga kini pun aku tetap tak bisa berhenti mengingat, bahkan hingga waktu-waktu setelah kau pergi.
Semoga kau baik-baik saja, dan semoga kau bahagia. Selamat menempuh jalan masing-masing. Terimakasih, untuk telah memcipta kenangan bersamaku.
Monday, January 28, 2013
Semoga Baik-Baik Saja
Kau sering bilang kalau saya cengeng, karena saya beberapa kali menangis di depanmu. Kau hanya tidak tahu, bahwa kau adalah alasan terbesar dari setiap tangisan saya itu. Saya bukan orang yang mudah menangis, hingga kemudian muncul alasan yang begitu mengusik saya terlalu dalam. Kau tak pernah tahu, atau mungkin tak mau tahu ataupun peduli . . .
Saya kira dengan mencipta jarak akan membuat saya lebih tenang. Tapi ternyata saya tak sekuat itu. Saya hanya perempuan aneh yang terus mencoba membohongi diri. Bohong bila saya bilang tak peduli kamu. Dan saya tak bisa lupa, tak kan pernah bisa lupa, pada segala kenangan yang telah mengubah kita.
Dan bahkan setelah kau pergi pun saya masih bisa membauimu di udara, merasakan berkas-berkas kehadiranmu. Saya tak bisa lupa, saya bisa apa . . .
Jaga diri baik-baik ya. Semoga saya dan kamu tetap baik-baik saja.
Wednesday, January 23, 2013
SELAMAT MENJADI ASING
Memang sudah guratnya jika manusia berteman baik dengan keterasingan.
Satu-satunya hal yg tak sempat terasing hanya pikiran.
Maka disitulah kau bebas . . .
Sudah berkali-kali saya menulis tentang kehilangan, tentang apa yang saya rasakan saat beberapa orang yang dekat dengan diri saya pergi. Saya selalu merasa terganggu jika ada orang terdekat saya pergi, entah pergi karena berbagai alasan. Rasanya seperti diri saya terbagi-bagi, dan salah satu bagian itu perlahan memudar, menghilang. Dan yang tersisa hanyalah kekosongan yang sulit untuk terisi kembali.
Saya telah banyak kehilangan orang, baik dalam konteks saya maupun orang-orang itu yang meninggalkan. Ah, bukankah setiap orang memang akan saling meninggalkan? Karena sejak awal manusia memang sudah ditakdirkan untuk sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita menemui jarak dan berteman baik dengan waktu yang tak mengenal tunggu. Ada baiknya kita tak lagi menengok ke belakang, membicarakan masa lalu yang tak lagi akan terjadi. Kita akan baik-baik saja meskipun kita sama-sama menjelma menjadi asing. Pada akhirnya kamu hanyalah sekilas kenangan dalam pikiran yang terus berubah. Hanya jejak yang kau tinggalkan, namun kau telah membawa satu bagian retak dari diri saya. Tapi saya baik-baik saja, setidaknya kita tidak saling menyakiti satu sama lain lagi.
Selamat menjadi asing, untukmu dan untuk saya.
*Bahkan, sebelum kau pergi pun saya telah merasa asing . . .
Sunday, July 22, 2012
THE MORNING MIST
Kamu selalu terasa seperti kabut pagi, sayup menguarkan dingin menusuk. Terlalu hening, dan masih tak teraba.
Saya seperti kehilangan kata. Mungkin benar, kita memang butuh jarak dan sedikit spasi, rehat sejenak.
Saya rindu, pada kesempatan mencuri-curi waktu untuk sekadar menyapa lewat sambungan kabel. Tak mengapa, walau terkadang lebih banyak kau yang berbicara dan saya kerap jatuh tertidur kelelahan di sela perbincangan.
Saya rindu, pada alasan-alasan yang membuat saya terbangun di dini hari untuk menunggu deringan, sebuah tanda panggilan yang kau berikan.
Mungkin memang benar, kau masih terasa seperti kabut pagi. Dingin menyenangkan, namun masih tak teraba.
Thursday, November 10, 2011
BLUE SKY COLLAPSE
As I walk to the end of the line
I wonder if I should look back
To all of the things that were said and done
I think we should talk it over
Then I noticed the sign on your back
It boldly says try to walk away
I go on pretending I’ll be ok
This morning it hits me hard that
Still everyday I think about you
I know for a fact that’s not your problem
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse
As I stare at the wall in this room
The cracks they resemble your shadow
When everyday I see time goes by
In my head everything stood still
I’m waiting for things to unfreeze
Till you release me from the ice block
It’s been floating for ages washed up by the sea
And it’s drowning, thought you should know that
You see people are trying
To find their way back home
So I’ll find my way to you
Wednesday, November 9, 2011
PERTEMUAN
Dan pertemuan itu tak serupa ekspektasi, hambar.Aku tak tahu, mengapa kata-kata itu begitu sulit terlontar. Bahkan untuk sebuah sapaan, "Hai, apa kabar?"
Padahal aku di sini sudah menanti terlalu lama.
Kau memainkan jemarimu, menatapku lamat-lamat, sementara tanganku yang tak mau diajak berkompromi sibuk meremas-remas ujung kemeja, memilinnya hingga kusut tak beraturan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tiba-tiba kamu bertanya.Padahal aku sedang tidak baik-baik saja. Aku masih belum terbiasa dengan kesendirian ini. Sesungguhnya aku ingin berteriak, menangis, mengadu. Semuanya terasa tidak baik-baik saja, ketika di malam hari aku terduduk menatap langit-langit kamar, dan hanya hening yang terdengar.
"Baik . . ."
Aku ingin mengadu bahwa terkadang aku merasa aku tidak diterima. Kata-kata itu telah sampai diujung lidah, namun tetap saja sulit untuk dikatakan. Dan akhirnya tangisan itu pecah, maaf . . .
Mungkin aku tidak sama lagi dengan aku yang dulu. Aku kini lebih rapuh, seperti kapur, yang mudah hancur bila terinjak. Tetapi kau berhasil membuatku tertegun, saat kau mulai berkata-kata . . .
"Ada apa? Ceritakanlah." Tersenyum kau menguatkanku.Terimakasih ya, untuk seluruh waktu yang terbuang. Terimakasih, karena telah mendengarkan cerita yang mengisak itu. Terimakasih, karena telah mengerti . . .
FORGIVE ME

Saya minta maaf ya,Saya tak tahu, apakah kata maaf saja sudah cukup. Saya hanya ingin berharap, semoga tidak ada lagi diam itu . . .
dari hati yang terdalam . . .
Saturday, October 22, 2011
TERLAMPAU WAKTU

Mungkin bila memang telah tiba saatnya, tatapan kita akan beradu.Kemungkinan-kemungkinan itu masih ada, untuk menepis jarak kita yang terlampau.
Saya tak tahu, apakah waktu itu akan menjadi sebegitu lama, sehingga mampu mendinginkan sapaan ini.
Yang saya tahu, saya masih akan menunggu.
Menunggu itu bukan hal yang menjenuhkan, bila itu untuk satu orang.
Untuk kamu.
Karena kamu, saya bersedia untuk berdiri di sudut jalan ini, berjaga-jaga jika kamu berjalan melawan arah dan sedikit tersesat.
Hanya kamu, yang menjadi alasan saya untuk mengulurkan tangan, menjaga agar kamu tidak limbung, kemudian terjatuh.
Karena kamu, saya bersedia memberikan sepercik cahaya, berharap dapat sedikit menerangi gelapnya masa depan, yang membayangi.
Hanya untuk kamu, saya bersedia, karena kamupun begitu . . .
bukan?
Friday, October 21, 2011
KE HATIMU, BOLEH?

Me: "Aku ingin pulang . . ."
You: "Kemana?"
Me: "Ke hatimu, boleh?"
Entah bagaimana mulanya, saya tak tahu. Jejak kita beradaptasi dengan waktu, semakin berjarak. Lalu bagaimana lagi saya bisa pulang?
Bahkan kini saya telah kehilangan kunci itu, satu-satunya penghubung antara jemari kita yang tak pernah terpaut.
Masihkah saya harus mengendap-endap untuk mencoba menyusup dalam jendela hatimu? Ataukah saya harus menyusun kembali serpih-serpih kaca itu, yang kata orang hanyalah sepotong mimpi . . .
Ya, mungkin saya memang harus mencari rumah lain untuk dihinggapi . . .
Monday, June 27, 2011
SEPERCIK RINDU
Ok, saya sedang galau.Ah, lihatlah, sore ini cerah, namun saya tidak memiliki semangat untuk keluar . . .
Sepertinya penghujung semester ini akan berakhir tidak terlalu baik. Terlalu banyak masalah yang saya hadapi. Saya tidak pernah mencari masalah, tetapi entah mengapa masalah selalu menemukan saya . . :(
Saya rindu rumah. Saya rindu akan kebebasan yang saya rasakan di rumah, rindu akan udara dinginnya, kasih sayangnya, hingga kepulan uap hangat di mangkuk berisi sup itu. Sup rumahan biasa, namun sangat saya rindukan. Saya bahkan rindu pada genting-genting rumah saya yang keabuan, tempat di mana saya merenung di kala senja, sambil sesekali memetik buah rambutan yang memerah.
Ah, tak terasa sudah lima bulan saya belum pulang.
Saya rindu dengan teman-teman lama saya, rindu akan kebersamaan itu, rindu akan hangatnya senyuman dan genggaman yang kita bagi bersama. Ah iya, saya juga rindu dengan langkah-langkah kecil kaki kita saat menyusuri trotoar di sepanjang jalan. Dan juga saya rindu untuk bernyanyi dan bermain musik bersama kalian. Ah, saya rindu untuk bereuni dengan kalian. Bereuni dengan momen indah saat bersama-sama kita menyusuri pematang itu.
Saya rindu untuk memeluk kalian . . .
Dan kini apa lagi yang bisa saya peluk, selain mimpi-mimpi untuk bertemu dengan kalian lagi.
Tahukah kalian? Bahkan saya di sini tidak dapat bermain nada . . .
Wednesday, June 22, 2011
TAK INGATKAH KAU
Saya lelah . . .Tak tahukah kau akan segala rasa yang ada, di sini, di lubuk ini. Saya lelah, lelah untuk berusaha menggenggam bayanganmu. Tak bisa, karena bayanganmu selalu membias pada sela jemari, tak tergenggam.
Tak ingatkah kau akan masa itu, masa lalu. Saat di sore hari kau menggenggam tangan ini, menyusuri jalan, terbelai angin.
Tak ingatkah kau akan ilalang itu, ilalang keemasan yang menyapu langkah kaki kita, mengubur semua kenangan, tentang kita.
Tak ingatkah kau akan melodi itu, segenggam nada yang kita mainkan bersama. Saya bersama tuts dan kau bersama senar.
Tak ingatkah kau?
Ah, mungkin kau merasa terbebani dengan ingatan kecil itu. Tak apalah.
Kenangan itu, istimewa bagi saya, apa bagimu juga demikian?
Masih ingatkah kau akan janji itu, janji yang terpancar melalui genggaman hati itu . . .
Namun bayanganmu ternyata masih semu. Harus saya apakan untuk bisa menjadi nyata?
Tolong, beritahu saya. Saya lelah . . .
P.S. Hi D . . . saya rindu . . .
Wednesday, December 8, 2010
KUPU - KUPU
*I used to sing it when I was at senior high school
Eh, lupa bilang. Chō itu berasal dari bahasa Jepang, artinya kupu-kupu.
Saya jadi ingat, lama-lama panggilan Chō berkembang menjadi panggilan-panggilan lainnya, yang bahkan lebih aneh dari sebelumnya. Saya sempat dipanggil Chō-Chō, Mbak Chō (kakak kelas saya rata-rata memakai panggilan ini ke saya, padahal mereka kan lebih tua . . -___-"), Baco (aduh), Cocobi (apa lagi ini . . .), dan Cocang. Haha, terkadang saya sering tertawa sendiri bila teringat dengan teman-teman saya. Mereka berhasil membuat saya tersenyum. Terima kasih ya, atas pertemanan yang terus terjalin hingga kini. Saya kangen kalian, kapan kita bisa reuni lagi? Mungkin ini hanya masalah waktu saja . . .
Saya sempat juga merasa risih, dipanggil dengan nama yang aneh-aneh. Hampir tidak ada yang memanggil saya dengan nama asli saya, kecuali para guru. Ketika saya lulus SMA, saya sempat senang, karena akhirnya saya akan dipanggil dengan nama asli saya. Tetapi ternyata, saya kangen sekali dipanggil dengan nama-nama itu. Entahlah, bila saya dipanggil dengan nama itu, saya merasa . . . spesial, dengan cara yang aneh. Saya merasa bahwa, apapun diri saya, kalian menerima saya apa adanya. Bagaimanapun jeleknya saya, saya adalah teman kalian, dan akan terus begitu. Terima kasih ya . . . :)
Wednesday, December 1, 2010
WE ARE DIFFERENT

Sadarkah kau akan jurang perbedaan ini, yang semakin hari merangkak memisahkan, dan semakin menegaskan keberbedaan kita . . .
Maafkan saya, yang sulit sekali untuk 'menyamai' kalian. Saya hanya sedang membangun jembatan di jurang ini, tetapi kenapa kalian masih menjegal juga?
Saya tak seperti kalian, yang suka membicarakan orang yang kalian suka. Saya lebih suka memendamnya, dan menjadikan rasa itu lebih pribadi.
Saya tak seperti kalian, yang suka jalan ke tempat ramai, seperti mall, dan lain-lain. Saya lebih suka pergi ke tempat sepi, di tempat saya bisa melihat keindahan yang nyata.
Saya tak seperti kalian, yang begitu memperhatikan penampilan. Saya tak tahu kenapa, tetapi saya lebih nyaman dengan gaya saya sekarang.
Saya tak seperti kalian, yang begitu takut dengan cuaca panas, karena takut akan merusak kulit indah kalian. Matahari telah menjadi teman saya dari dulu. Dia yang telah memberikan energi positif bagi saya, untuk memulai hari.
Saya tak seperti kalian, yang membenci hujan, karena takut merusak rambut indah kalian. Hujan telah lama memberi ketenangan bagi saya, serta rasa aman yang dingin.
Saya tak seperti kalian, yang begitu suka memadupadankan warna. Entahlah, mungkin saya memang tak berbakat di bidang itu.
Saya tak seperti kalian, yang begitu suka dengan lagu pop zaman sekarang. Saya lebih suka instrumen, karena saya tahu, musik itu datangnya dari hati, yang telah tertuangkan dengan begitu tulus, oleh sang pencipta lagu.
Saya tak seperti kalian, yang lebih suka untuk berada di depan layar. Saya lebih suka menjadi orang di belakang layar, karena saya pikir, peran saya lebih dibutuhkan disana.
Saya tak seperti kalian . . .
Maafkan saya ya, jika saya terlalu berbeda. Maafkan saya, jika saya masih kaku untuk berbaur dengan kalian . . .
Monday, November 22, 2010
TOPENG
Akhir-akhir ini, saya sering ngidam kopi. Kopi pekat, tanpa pemanis. Saya pikir, rasa pahitnya dapat mengalahkan rasa pahit yang terus merembes dalam hati saya.
Akhir-akhir ini, saya juga sering ngidam mangga mentah, yang dipadukan dengan garam dan cabai pedas. Kenapa? Entahlah . . . Mungkin agar saya bisa belajar untuk menerima rasa masam, seperti yang terkadang terpercik darimu, serta pedasnya kata-katamu yang tak kau sadari.
Saya bingung . . .
Saya ingin bertanya, namun saya takut pada pandangan hambarmu, seperti yang kerap kau berikan ketika saya memanggilmu. Hanya memanggil, dan bahkan sepenggal kata pun belum saya lontarkan.
Apa kamu merasa terusik dengan kehadiran saya?
Katakan saja. Saya tak suka memandangi topeng. Setidaknya, biarkan saya melihat wajah aslimu. Saya tak akan marah. Saya hanya akan merasa kecewa. Bukan, bukan padamu kawan, tenang saja. Saya kecewa pada diri saya sendiri, yang telah menjadi penyebab bagi kamu untuk memakai topeng itu. Maafkan saya ya . . .
Sunday, November 21, 2010
KATUMBIRI
Seperti kau, katumbiri . . .
Terkadang saya rindu kehadiranmu, katumbiri. Saya rindu, untuk bercengkrama bersamamu, di batas hari. Badai ini, sudah terlalu lama. Lalu, kapan kau datang?
Hai, katumbiri. Lihatlah, saya tetap menanti disini, sesuai janji saya. Saya tak akan ingkar, begitupun dengan kamu bukan . . .
Sunday, November 7, 2010
CLOUDY DAY

"Where is the wind?" The bird asked. "I really miss him . . ."
"Where is the rain?" The grass asked. "I really miss him . . ."
"Where are you?"
"I really miss you . . ."
(Hari-hariku masih suram, sesuram awan mendung yang menggantung di sore hari)
Tuesday, November 2, 2010
MAAF
Terkadang, ada tawa yang dirasa berlebihan, tatkala aku sedang berduka. Tahukah kau, tawa itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi luka di hati.
Terkadang, ada ucap yang terlalu berlebihan, tatkala aku kesepian. Tahukah kau, aku hanya sedang mencoba menghibur diri dan mencuri perhatian.
Terkadang ada cerita yang dirasa berlebihan, yang kau kira aku lakukan hanya untuk memuji diri. Tahukah kau, aku hanya sedang mencoba untuk menutupi kekurangan diri, karena terkadang aku merasa begitu malu, hanya untuk berdiri di sebelahmu.
Terkadang ada tindakan yang dirasa terlalu berlebihan. Tahukah kau, aku hanya ingin semua terasa sempurna, agar aku bisa sedikit dihargai.
Terkadang ada keluhan yang dirasa berlebihan. Tahukah kau, aku sedang butuh bantuanmu, tetapi kau hanya membisu.
Terkadang, ada diam yang dirasa berlebihan. Tahukah kau, aku sedang butuh pelukan hangat, bukan kata-kata.
Terkadang, ada sebuah proteksi diri yang dirasa berlebihan. Tahukah kau, aku takut, padamu.
Terkadang, ada hal-hal yang disembunyikan terlalu berlebihan. Tahukah kau, aku sangat ingin berbagi, tapi tak bisa.
Terkadang ada senyum yang dirasa berlebihan. Tahukah kau, aku sangat menghargaimu. aku ingin dekat denganmu, mengenalmu, tetapi aku tak tahu caranya.
Terkadang ada nyanyian yang terasa berlebihan, hingga mengusik malammu. Tahukah kau, aku tengah menutupi tangisanku, dan mencoba mencari pelarian.
Terkadang, ada sikap yang dirasa terlalu berlebihan, maka maafkanlah, jika kau merasa terusik. Aku tak akan mengganggumu lagi. Tetapi aku akan tetap peduli padamu, kawan . . .
Tuesday, October 26, 2010
GERIMIS ITU

Ingatkan aku, akan gerimis itu.
saat berdiri tanpa ternaungi
senja menggantung, tak lagi membayang
hanya kau . . . dan aku . . .
Ingatkah kau, akan gerimis itu.
saat angin meniupkan serat basahnya
membasahi langkah tak berjejak
hanya kau . . . dan aku . . .
Ingatkan aku, akan gerimis itu.
tatkala ucap teradu kata
hangat menyisir sunyi
hanya kau . . . dan aku . . .
Ingatkah kau, akan gerimis itu . . .




