Wednesday, December 17, 2014
DuaPuluhTiga
Berbeda dengan satu, dua ataupun tiga tahun yang lalu, 14 Desember kemarin sengaja saya rayakan dengan kesendirian. Kala itu saya merasa tak siap untuk bertemu dengan siapapun dan berbagi kabar dengan sejumlah keengganan. Saya ingin menikmati sepanjang hari itu dengan kebebasan dan kebisuan, bukan hiruk pikuk yang semu dengan bermacam-macam topeng ekspresi. Rasanya aneh bagi saya untuk menjejak angka duapuluhtiga, sementara saya merasa semakin kehilangan waktu untuk melakukan beberapa hal. Memang, pada akhirnya sebagian manusia terkalahkan oleh waktu yang tak pernah puas.
Pada hari itu, saya membiarkan diri saya tenggelam dalam arus memori dan kilas balik. Setidaknya dengan itu, saya dapat tetap mengingat siapa dan seperti apa diri saya. Saya tenggelam pada berbagai lamunan perjalanan, baik yang sudah maupun belum saya jalani. Saya merasa bahwa saya masih memiliki jarak dengan apa-apa yang selama ini saya cari, meskipun saya tak tahu apakah jarak tersebut semakin menjauh atau justru saling mengejar. Entahlah.
Semoga Allah selalu melindungi saya.
Wednesday, November 5, 2014
November Rain
Malam ini, untuk kesekian kalinya, saya berada dalam suatu perjalanan kereta. Menuju ke barat tepatnya, ke sebuah kota yang begitu rimba bagi saya. Sebuah kota yang, jika saya boleh memilih, tidak saya minati untuk menjadi tempat saya untuk "pulang".
Malam ini, dalam sepenggal perjalanan saya, hujan turun dengan derasnya. Ini hujan pertama di bulan November untuk saya. Hujan ini membuat saya kembali memeras memori. Kenangan akan hal-hal yang dulu begitu menyenangkan, hingga kenangan tentang hal-hal yang hingga kini masih sulit untuk saya bicarakan. Ada alasan tertentu, pada setiap hal yang tidak terungkapkan. There are words, better unheard, better unsaid...
Seperti biasa, saya suka perjalanan kereta, karena saya bisa mengamati berbagai macam orang. Kali ini, di depan saya duduk seorang ibu muda, beserta seorang anak perempuannya yang masih balita. Tidak ada yang aneh dari kedua orang tersebut. Akan tetapi, saya melihat suatu hal yang luar biasa darinya: cinta.
Tak banyak memang yang bisa saya ceritakan, selain bahwa ibu muda itu meladeni anaknya yang sedang rewel di sepanjang perjalanan. Tapi dari situ saya menemukan cinta, dimana seorang perempuan muda mengorbankan satu bagian besar hidupnya untuk satu makhluk kecil yang pasti akan memberikan sebentuk kesedihan dan kebahagiaan yang nyata. Ia memiliki alasan dan tujuan, dan terikat dengan cintanya. Sementara saya di sini masih berlarian tak tentu arah, mencari hal-hal yang belum pasti, atau bahkan tak memiliki ujung kepastian.
Seperti hujan, yang akan kembali menjadi laut. Akankah saya menemukan hal yang sama?
Wednesday, August 13, 2014
Mimpi Berpola
Tapi sepagi tadi, mimpi itu berhasil membangun kerinduan yang lebih dalam terhadap sosok lama orang itu, sosok yang saya kenal bertahun-tahun lalu. Sebentuk sosok yang saya tahu sudah tidak melekat lagi pada dirinya saat ini.
Tuesday, August 12, 2014
Teguran
Saya kaget, karena saya ingat betul bahwa Mbak W bilang bahwa kamar kos tersebut tidak kosongan. Lgipula, jika begitu saya tidak mungkin untuk memilih kos tersebut sebagai tempat tinggal saya, karena saya tidak ingin direpotkan dengan banyaknya perabotan yang harus saya bawa jika saya pindah kelak. Seketika saya merasa ingin menangis, namun saya tahan sebisa mungkin. Saya merasa tertipu dan terdzalimi. Selain itu, saya merasa sangat tidak enak pada orangtua saya. Dengan perlahan, saya meminta maaf pada ibu saya karena telah menyusahkannya, wallaupun hal tersebut bukan kesalahan saya. Ibu saya pun kesal dan sempat mengeluarkan omelan, yag walau bukan tertuju untuk saya, tetap saja membuat hati saya semakin sedih. Saat itu juga diam-diam saya berdoa pada Tuhan, untuk memberikan kesadaran pada pemilik kos akan kedzalimannya karena telah menipu saya. Namun, beberapa saat kemudian saya mendengar Mbak W memanggil saya. Ketika saya keluar kamar, saya melihat Mbak W membawa kasur lipat. Katanya, kasur tersebut akan ia pinjamkan untuk saya sementara waktu, dan pada akhir bulan ia berjanji akan memberikan kasur untuk kamar saya. Sepertinya ia menyadari kesalahan yang telah ia lakukan, walaupun tidak sepenuhnya. Mengenai perabotan lain, ia bilang bahwa saya harus menambah biaya sekian ratus ribu. Secara otomatis saya menolak. Dengan harga segitu, saya bisa membeli perabotan baru sendiri.
Mbak W sempat meminta maaf pada saya, namun rasa sakit hati saya tidak sepenuhnya terobati. Bukan masalah uang sebenarnya, tapi kebohongan yang saya peroleh. Bahkan untuk memastikan bahwa saya benar, ibu saya sampai menelpon sepupu saya yang dulu menemani saya saat mencari kos. Sepupu saya jelas kesal, bahkan ia berkata akan mendatangi pemilik kos untuk protes karena telah berbohong. Tapi, walau saya merasa sakit hati, saya tidak ingin memperpanjang masalah, karena bagaimanapun juga, kos tersebut akan menjadi tempat tinggal saya untuk satu tahun mendatang. Biarlah Tuhan yang memberikan balasan terhadap orang-orang yang dzalim.
Teguran kedua datang ketika adik saya yang paling kecil akan berangkat ke kota G di pulau seberang karena telah memasuki tahun ajaran baru. Sebelumnya, orangtua saya telah memesankan tiket pesawat G****a pulang-pergi untuk adik saya melalui travel milik salah seorang saudara ayah saya (sebut saja Pak J) dengan harga yang lumayan tinggi dibandingkan biasanya, karena berada pada musim mudik lebaran. Saat penerbangan dari kota G menuju ibukota, tiket adik saya sempat error, hingga pada akhirnya pihak travel mengganti penerbangan adik saya dengan maskapai L**n A*r. Orangtua saya pikir kejadian tersebut tidak akan terulang. Namun ternyata kami salah. Pada malam hari tanggal 9 Agustus sebelum waktu keberangkatan, ayah saya menelpon Pak J untuk memastikan tiket adik saya. Ternyata setelah di cek, kode booking tiket adik saya error (saya tidak tahu apa sebabnya). Pak J pun mencari jadwal penerbangan lainnya yang tersedia. Satu-satunya penerbangan yang tersedia terjadwal pada pukul 15.20 WIB. Adik saya panik, karena ia harus sudah berada di sekolahnya paling telat pada pukul 15.00 WITA, atau ia akan terkena hukuman paling ringan berupa skorsing. Sekolah adik saya kebetulan merupakan sekolah asrama milik pemerintah yang memiliki peraturan sangat ketat. Bahkan permohonan izin dari orangtua pun tidak berlaku di sana, yang artinya jika adik saya terlambat, ia akan tetap terkena sanksi tegas.
Ibu saya segera meminta Pak J untuk mencarikan tiket penerbangan yang terjadwal pada pagi hari. Saat itu sudah pukul 21.00, sedangkan adik saya harus berangkat paling telat pukul 02.00 menuju bandara di ibukota agar tidak terlambat. Beberapa waktu tidak ada kabar, ibu saya pun menelpon pak J berkali-kali, namun tidak diangkat. Suasana semakin memanas dan adik saya semakin panik. Dalam kondisi kacau, saya mencoba mencari tiket pesawat melalui internet, namun tidak ada penerbangan yang tersedia. Ibu saya pun segera menelpon pihak maskapai G****a untuk menanyakan masalah kode booking penerbangan adik saya. Ternyata, tiket adik saya telah dibatalkan oleh pihak travel. Adapun kursi yang tersedia untuk penerbangan pagi menuju kota G adalah kursi bussiness class, dengan harga mencapai lima kali lipat dari harga tiket yang dibeli untuk adik saya sebelumnya.
Ibu saya tidak patah arang. Ia pun mencoba menelpon maskapai lainnya, namun tidak ada lagi kursi kosong yang tersedia. Dengan terpaksa, tiket penerbangan business class pun harus dibeli, karena tidak ada pilihan lain. Namun masalahnya, kami tak bisa dengan mudahnya membeli tiket tersebut karena tidak begitu mengerti tata caranya sedangkan waktu menuju keberangkatan semakin menipis. Akhirnya, pada pukul 01.00 ibu saya menelpon sahabatnya untuk membantu proses pembelian tiket. Prosesnya pun tidak mudah karena terus-terusan error, hingga akhirnya tiket tersebut bisa didapat pada pukul 02.30.
Meskipun sedikit terlambat berangkat, namun adik saya tidak terlambat sampai di bandara karena ayah saya mengebut sepanjang jalan. Ketika sampai di rumah sepulang dari mengantar adik saya, ibu saya berkata bahwa hingga waktu tersebut Pak J tetap tidak bisa dihubungi. Ibu saya pun menumpahkan kekesalannya terhadap Pak J melalui SMS. Hingga saat ini, Pak J belum meminta maaf maupun menghubungi orangtua saya, atau mencoba bertanggung jawab terhadap kelalaian yang telah ia perbuat. Bahkan uang tiket sebelumnya pun tidak dikembalikan. Entah bagaimana nasib tali silaturahmi antara keluarga saya dengan Pak J kelak.
Dalam waktu kurang dari satu minggu, keluarga saya diberi teguran kecil berupa dua kedzaliman orang yang menimpa pada kami. Memang, tidak begitu besar kerugian yang ditimbulkan. Namun tetap saja hal tersebut meruntuhkan kepercayaan kami terhadap beberapa orang dan mengingatkan kami untuk selalu waspada, bahkan pada orang yang telah dikenal sekalipun. Waspada, namun bukan penuh curiga. Kedua teguran ini berhasil menyadarkan kami untuk bersikap hati-hati dalam menaruh kepercayaan terhadap orang lain. Semoga, ya semoga saja, Tuhan memberikan kesadaran bagi mereka yang telah sengaja berbuat dzalim terhadap orang lain.
Thursday, July 24, 2014
Wednesday, June 4, 2014
Pulang
Minggu ini sepertinya menjadi saat-saat terakhir saya tinggal di kota S. Saya berencana pulang dan menetap untuk beberapa bulan di rumah sebelum akhirnya pindah ke kota Y, kalau jadi. Dulu sewaktu saya masih kuliah, saya begitu bersemangat untuk tinggal di kota Y. Tapi entah kenapa bagi saya kota Ysekarang seakan kehilangan daya magisnya. Saya merasa begitu asing. Berbeda dengan kota S yang dulu ingin saya tinggalkan. Kini belum apa-apa saya sudah merindukan kota S. Ah, entahlah.
Terlalu banyak kenangan di kota S, dari kenangan terburuk hingga terbaik. Kota S adalah tempat saya belajar dan mencoba untuk mengenal diri saya sendiri. Kota ini adalah tempat dimana saya berubah dan mengambil beberapa keputusan penting mengenai hidup saya. Bagi saya, kota S telah meninggalkan jejak begitu dalam.
Meninggalkan tempat yang begitu berarti bagi saya, ternyata menyisakan sebuah perasaan yang begitu menyesakkan. Saya tidak tahu jenis apa perasaan itu. Tapi perasaan itu yang mengantarkan saya untuk menelusuri kembali sudut-sudut kota S sendirian. Terlalu melankolis memang, apalagi saya tahu bahwa saya akan memiliki beberapa alasan untuk kembali singgah ke kota ini. Yah, saya memang tidak bisa hidup di masa lalu.
Ada beberapa hal yang akan saya tinggalkan seiring dengan kepindahan saya dari kota S, termasuk perasaan saya. Sudah seperti menjadi kebiasaan bagi saya, bahwa kepindahan adalah kehidupan baru, yang artinya akan ada beberapa bagian dari diri saya yang saya coba untuk tinggalkan. Mungkin ini memang sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal, ya! :)
Wednesday, April 30, 2014
Another Step
"Haha, iya. yah, manusia kan senang membuat kenangan. Jadi ketika sudah di dunia nyata, manusia perlu media untuk kembali ke dunia fana, atau singkatnya, ngelamunin masa lalu, hehehe..."
Perkataan itu adalah sepenggal percakapan saya dengan salah satu teman jauh saya. Jauh, karena memang kami belum pernah bertatap muka langsung karena tidak ada kesempatan. Sejak tadi pagi kami asyik mengobrol tentang wisuda via chat "mukabuku". Kebetulan momentnya pas, karena tanggal 25 dan 29 April lalu saya diwisuda, dan sekarang saya resmi menyandang titel S. Hum. sekaligus "pengacara" (pengangguran banyak acara, hehehe).
Teman saya itu berpendapat bahwa acara wisuda itu useless. Aneh katanya, sebab melepas pengangguran kok pakai dirayakan. Dipikir-pikir, memang ada benarnya juga teman saya itu. Toh rasa senangnya cuma dirasakan pada saat acara wisuda berlangsung. Beberapa hari kemudian saat mulai kembali pada kenyataan hidup, baru para mantan mahasiswa itu kebingungan, termasuk saya. Bingung karena dihadapkan pada beberapa pilihan yang memang belum dapat menawarkan kepastian apa-apa; akan melamar kerja, berwirausaha, meneruskan studi, atau bersenang-senang menjadi "pengacara". Saya sendiri sepertinya akan memilih opsi ketiga, dengan segala resikonya.
Berbicara soal resiko, untuk melanjutkan kuliah bagi saya perlu pemikiran dan perenungan yang matang. Masalah paling krusial tentu saja adalah waktu dan biaya. Saya perempuan, dan sekarang umur saya sudah duapuluhdua. Bagi masyarakat kebanyakan, seumur saya itu sudah pantas untuk mencari jodoh. Bohong kalau saya bilang saya tidak memikirkan hal itu. Tapi saya juga masih ingin menjalani dan mengalami berbagai hal yang saya tahu akan sulit tercapai bila saya sudah menikah.
Masalah kedua adalah biaya. Saya belum sanggup membiayai sekolah pascasarjana saya sendiri, karena saya memang belum bekerja. Palingan saya cuma ikut proyekan, atau mencari pekerjaan part time. Soalnya, setahu saya jadwal kuliah S2 di universitas tujuan saya begitu padat, sehingga sulit untuk mencari pekerjaan yang menggunakan jam kantoran. Apalagi ketika mencari beasiswa, saya belum menemukan beasiswa yang pas dengan jurusan yang akan saya ambil. Apakah saya masih harus bergantung pada orang tua? Kedua orangtua saya memang masih sanggup untuk membiayai, tetapi sebagai anak sulung, hal itu memberikan beban moral yang sangat besar bagi saya.
Dan masalah terakhir adalah kesiapan diri. Jika orang lain mempermasalahkan "otak", bagi saya masalah mental dan moral adalah yang terpenting. Tetapi, sejak dulu saya berusaha meyakinkan diri saya untuk tidak takut. Bagi saya, memang akan ada hal yang dikorbankan untuk mencapai segala sesuatu. Maka yang harus saya lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terbaik, maupun terburuk.
Resiko dan masalah memang akan selalu ada. Tetapi semoga saya bisa melewati semua itu. Selamat datang ke dunia nyata, semoga saya tidak hanya dapat melangkah, tetapi juga berlari untuk mencapai keinginan-keingininan saya. :)
P.S. Semoga beberapa bulan lagi status saya sudah berubah menjadi mahasiswa kembali ya..
Friday, March 28, 2014
Mencapai Jeda, Sejenak
Kabar baik di awal tahun ini, saat sedang bimbingan skripsi dosen pembimbing saya (sebut saja Pak S) berkata pada saya, "Kamu mau revisi lagi sekarang, atau setelah sidang?" Perkataannya tersebut bisa diartikan sebagai izin untuk mendaftarkan sidang skripsi saya. Memang, setahu saya semua skripsi di jurusan saya pasti mengalami revisi setelah sidang, walau hanya untuk perbaikan redaksional. Tapi, setelah saya berdiskusi singkat dengan Pak S mengenai beberapa kesulitan saya dalam pengerjaan skripsi, saya memutuskan bahwa skripsi saya masih membutukan perbaikan. Ya, semacam sentuhan akhir hingga saya benar-benar merasa bahwa skripsi saya cukup layak untuk diujikan.
Tapi, apakah skripsi saya memang benar-benar layak untuk diujikan? Saya tak tahu. Saya pribadi merasa bahwa saya belum maksimal dalam pengerjaan skripsi, terutama karena terkadang saya kesulitan dalam memilah-milah permasalahan yang harus ditulis secara kronologis berdasarkan urutan waktu, tidak hanya bersifat tematik. Apalagi permasalahan yang saya ambil begitu luas, karena memang pada awalnya saya sempat kebingungan untuk mengerucutkan permasalahan, dikarenakan oleh keberadaan data yang masih simpang siur. Saking luasnya, saya pikir skripsi saya dapat dipecah setidaknya menjadi 2-3 judul penelitian. Hasilnya, skripsi saya hampir menembus 200 halaman. Itu pun sudah ada beberapa bagian yang saya potong. Padahal skripsi lain di jurusan saya rata-rata hanya memiliki 100an halaman, jarang yang mencapai 150 halaman.
Pada bulan Februari, saya kembali menemui Pak S, dan saat itu juga saya diizinkan untuk daftar sidang. Saya pun menjalani sidang dengan agak terburu-buru, karena ketua penguji sidang saya ternyata akan berangkat ke Belanda. Hari Jum'at tanggal 21 Februari saya sidang, itu pun baru mulai pukul 15.30 karena harus menunggu ruang sidang kosong setelah dipakai untuk seminar S2.
Tak banyak kendala yang saya alami selama sidang. Koreksi pun hanya sedikit, sebatas kurang detailnya beberapa penjelasan dalam skripsi saya. Selama sidang jadinya saya semacam berdiskusi dengan para dosen penguji. Mereka bilang isi skripsi saya menarik, karena di jurusan saya memang masih jarang yang menulis tentang kondisi masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa. Ah iya, saya memang mengambil tema sejarah maritim, tentang kehidupan sosial ekonomi nelayan di suatu daerah di pesisir selatan Jawa Barat.
Lega rasanya, karena saya mendapat kelancaran dalam sidang skripsi, bahkan mendapatkan "pencerahan" untuk beberapa hal. Dosen penguji malah terang-terangan memuji skripsi saya, dengan mengatakan bahwa skripsi saya bagus dan "berbobot". Tapi di sisi lain, saya masih merasa belum puas. Saya rasa seharusnya saya masih bisa mengeksplor pembahasan dalam skripsi saya, walau saya sebenarnya bingung harus diapakan lagi.
Tidak banyak sih revisi yang harus saya kerjakan. Tapi revisi terberat justru datang dari Pak S. Ia menyarankan saya untuk mengganti judul skripsi. Sebetulnya gampang saja, tapi jadinya saya harus merombak bab 1 dan bab 4, jadi ya merepotkan. Saya sampai sebal sendiri, kenapa baru sekarang menyuruh saya ganti judul. Selain itu, ada beberapa bagian yang harus dijelaskan dengan lebih detail, sehingga jumlah halaman skripsi saya bertambah. Ya sudahlah.
Akhir bulan April nanti saya akan diwisuda, dan resmilah saya menyandang titel S. Hum.. Selain itu, saya juga resmi menambah jumlah pengangguran di negara ini, karena sejauh ini saya belum mendapatkan (bahkan belum melamar) satu pun pekerjaan tetap. Tapi setidaknya, saya masih punya "pekerjaan" yang harus saya lakukan hingga Juni nanti. Yah, bahkan mungkin jadinya saya harus meninggalkan Pulau Jawa untuk beberapa waktu, kalau jadi. Semoga jadi. :)
Kehidupan saya sebagai mahasiswa untuk sementara mengalami jeda, dan saya harap belum mencapai titik akhir. Masih banyak hal-hal yang ingin saya lakukan, dan melalui "jeda" ini, semoga jalan saya semakin dilapangkan, aamiin!
Thursday, November 14, 2013
Done!
Dengan ini, tuntas sudah tanggung jawab saya sebagai Pimred Hawe. Rasanya campuran antara bahagia dan sedih...
Wednesday, November 13, 2013
SEMAR-BAYA
Saya yang kekurangan dana karena masih berstatus mahasiswa *blushing*, akhirnya memilih kereta ekonomi Kertajaya sebagai alat transportasi saya menuju Surabaya. Selain harga tiketnya yang 50% lebih murah dan waktu perjalanan 3-5 jam lebih singkat daripada bus, saya juga terhindar dari bahaya mabuk perjalanan. Tapi, tapi, perjalanan kereta harus saya tempuh di malam hari, yaitu jam 22.00-03.30 WIB. Takut? Mmh, sebenarnya nggak sih :D
Ya, karena saya sudah biasa, hehehe. Namanya juga mahasiswa pas-pasan tapi seneng jalan-jalan. Apapun caranya, yang penting bisa jalan, hehehe :D
Sebenarnya, kedatangan saya ke Surabaya bukan untuk pertama kali. Dulu saya pernah mampir ke kota itu, ketika dalam perjalanan mudik menuju Lombok bersama keluarga saya dengan menggunakan mobil pribadi. Tapi, karena cuma mampir sekaligus numpang lewat, saya tak benar-benar merasakan pernah ke Surabaya. Jadi, bisa dibilang kemarin adalah pertama kalinya saya keliling-keliling kota Surabaya.
Satu kesan saya saat pertama kali menginjakan kaki di Surabaya; PANAS. Padahal katanya Semarang sempat menjadi kota dengan suhu terpanas di Jawa. Ternyata, suhu Surabaya jauh lebih ganas *fiuhh*. Bahkan teman saya bilang kalau Surabaya pernah mencapai suhu 40 derajat celcius, errr.. -_____-"
Tak banyak tempat yang saya kunjungi di Surabaya, karena memang waktu kunjungan saya singkat. Tapi seperti biasa, bukan tujuannya saja yang menjadi poin utama. Bagi saya, terkadang hal terpenting adalah proses dari perjalanan itu sendiri. Dan seperti biasa pula, dalam proses perjalanan itu saya merenung mengenai banyak hal, tentang apa yang telah terjadi dan (mungkin) akan terjadi pada diri saya.
Anyway, saya tak menyesal dengan kepergian saya ke Surabaya (kayak pernah nyesel aja kalo jalan-jalan :D). Dan mungkin lain kali saya akan kembali ke kota itu, entah kapan. Lagipula, saya belum puas mengelilingi Surabaya. Tapi tak apa, setidaknya satu janji saya pada seorang teman telah tertuntaskan :)
Next destination? Mungkin ke luar Pulau Jawa, entah sendiri atau bersama teman. Semoga budget saya mencukupi :)
Sunday, September 8, 2013
(Not Just an Ordinary) Wedding :)
Ternyata kemarin tidak sekadar menjadi suatu pernikahan yang biasa saja. Saya ketemu banyak teman lama yang rata-rata lebih tua dari saya. Senang rasanya menjadi orang yang lebih muda di antara orang yang "sudah tua", hehehe. Berhubung di kampus saya sudah termasuk mahasiswa akhir, untungnya belum menjadi mahasiswa bapuk. Tapi, tapi, ada satu orang yang berhasil membuat saya kaget dengan kedatangannya. Seorang teman lama yang cukup dekat dengan saya, atau mungkin hanya saya yang berpikiran seperti itu, haha. Saya terkejut dengan perubahan fisiknya. Dia yang dulu sangat kurus berubah menjadi jauh lebih berisi. Raut mukanya pun terlihat lebih segar. Kami sudah lama tidak bertemu, mungkin terakhir sekitar 7 bulanan yang lalu. Melalui pesan singkat, dia bilang tidak bisa datang. Selain itu, kami juga sempat bertengkar sedikit. Salah saya sih, karena saya sedang sedikit tertekan sehingga maunya menjadi egois.
Teman saya itu membawa seorang perempuan, sepertinya kekasihnya. Walaupun kaget dan bingung harus bersikap apa, tapi saya senang. Akhirnya dia sudah menemukan salah satu apa yang dia cari, mungkin. Tapi saya sedih juga dengan kehadiran teman saya itu, karena pada mulanya dia seperti menghindari saya dan menskip saya ketika bersalaman dengan keluarga Hawe. Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena pertengkaran kami sebelumnya ya. Tapi beberapa waktu kemudian, suasana mencair dan dia bisa memperlakukan saya dengan "normal".
Pada akhirnya setiap orang sama-sama berjuang untuk mendapatkan kebahagiannya dalam bentuk yang berbeda-beda :)
Beberapa waktu lalu teman saya itu juga mengajak saya untuk naik gunung, dan ketika saya tanya kemarin, katanya dia serius. Jujur, saya sangat bersemangat sekaligus khawatir. Naik gunung, terutama Mahameru dan Rinjani, sudah menjadi mimpi saya sejak dulu. Tapi saya khawatir, karena saya belum bisa mengukur kemampuan fisik saya. Setelah kewajiban-kewajiban (skripsi dan majalah) saya selesai saya juga berencana untuk traveling lagi, walaupun saya belum tahu apakah saya mampu, terutama secara finansial. Tapi, mimpi itu bukan hanya sekadar untuk diucapkan kan? :)
Ah iya, kembai lagi ke pernikahan Mas Udin dan Mba Ida, semoga pernikahan mereka langgeng dan setia sampe tujuan :D. Dan semoga saya cepat menemukan orang yang tepat, orang yang dapat membuat saya yakin untuk mendampingi saya kelak, aamiin! :)
Friday, June 21, 2013
Daily Babbling
Memang, urusan mengerjakan skripsi atau tugas akhir itu tidak mudah. Butuh penelitian dan observasi bagi orang sosial seperti saya, serta eksperimen bagi orang-orang sains. Tapi bukan berarti "mencatut" seperti itu dapat dibenarkan. Bagi saya, skripsi bukan hanya sebagai sebuah syarat kelulusan, tetapi juga karya. Dan saya tentu saja tidak mau karya saya jelek dan asal-asalan.
Saya mengambil skripsi tentang sejarah maritim. Bukan hal yang mudah membuat skripsi sejarah, apalagi yang bertemakan maritim. Awalnya terasa seperti "bunuh diri", karena sulit sekali untuk mendapatkan data-data primer. Di Indonesia sendiri sudah bukan rahasia lagi jika rakyatnya tidak terlalu menghargai arsip. Tetapi karena saya menyukai hal yang saya teliti, maka saya kira saya bisa bertahan dengan semua proses kerasnya.
Ah iya, lokasi penelitian saya di Palabuhanratu, sebuah daerah wisata di selatan Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Sukabumi. Jadi tidak salah kan jika saya menikmati proses pembuatan skripsi saya, karena saat mencari data saya seperti sedang setengah liburan. Walaupun terkadang terasa sepi juga, karena sudah jauh-jauh ke Palabuhanratu, tapi saya tidak ada teman untuk menikmati waktu "liburannya".
Sekarang bahkan saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali saya ke luar kota benar-benar untuk liburan.. :|
Sunday, March 10, 2013
Selfnote..
Ah, melantur lagi..
Sekarang saya sudah semester delapan, semester dimana seharusnya saya sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Oke, sebenarnya sih belum. Kuliah saya sudah habis, tapi saya masih saja berkutat pada pembuatan proposal skripsi. Bukannya saya malas, tapi memang menyusun skripsi sejarah itu nggak gampang. Apalagi saat menentukan topik apa yang ingin dibahas, belum lagi memikirkan ketersediaan arsip dan sumber primer lain. Jadi hasilnya, di jurusan saya ini jarang sekali mahasiswa yang bisa lulus tepat waktu. Dalam jangka empat tahun maksudnya. Sementara orang tua saya sudah memaksa saya untuk lulus cepat. Saya juga penginnya sih lulus cepat, semoga bisa.
Umur saya sudah 21 tahun, dan di akhir tahun nanti umur saya naik kelas ke 22 tahun. Kalau kata orang, umur segini ini sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan. Secara jujur saya juga sudah memikirkannya. Hanya saja saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Mencarikah, atau menunggukah. Tapi yang jelas, yang saya lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri dan mencoba untuk memantaskan diri.
Pernah saya bertemu dengan seseorang, yang pada akhirnya menjadi beberapa orang, kemudian saya berpikir bahwa dialah orang yang tepat. Saya memang tidak menerapkan kriteria yang berlebihan. Saya hanya ingin bersama dengan orang yang mampu menuntun saya, membimbing dan melindungi. Tapi ternyata perkiraan saya terhadap beberapa orang itu salah. Bukannya dia tidak memenuhi kriteria saya, hanya saja memang bukan dia orangnya. Sehingga secara perlahan, saya dan dia berpisah secara baik-baik.
Namun perpisahan yang baik-baik saja pun terkadang menyisakan luka yang begitu dalam. Karena baik-baiknya itu, maka tidak ada rasa sakit hati yang mampu membantu saya untuk melupakan. Entah kapan saya bisa lupa. Maka jadinya saya seperti ini, menyimpan rindu yang tak bisa disampaikan.
Mungkin saya bisa lupa saat saya sudah bertemu dengan orang yang tepat. Semoga saat itu segera datang...
Friday, December 14, 2012
Wednesday, November 14, 2012
SEMOGA
Saya pengin teriak keras-keras sampai guling-guling karena kecapekan. Rasanya otak saya kepenuhan dan isinya udah meluber kemana-mana. Nah, saya yang bingung nyari wadah buat luberan isi "otak" malah jadinya cuma bengong-bengong doang, bingung mau ngapain.
Sudah beberapa waktu ini banyak hal yang saya lakukan dan pada akhirnya malah tidak berguna dan menghasilkan apa-apa, useless. Jadinya saya juga sempat uring-uringan ga jelas. Apalagi kalau ingat dengan deadline hawe (LPM Hayamwuruk), tema majalah dan proposal skripsi. Kepala saya rasanya kayak ditumpuki batu-batu kali yang berat banget. Dan ga tau kenapa, akhir-akhir ini di pikiran saya cuma ada dua hal; Hawe dan (calon) skripsi, hmm...
Nekat ga sih, saya yang sudah termasuk angkatan tua, sudah mulai persiapan skripsi tapi masih (mencoba) tetap aktif di organisasi . . .
Ah, toh pada awalnya saya saja yang kepedean, yakin bahwa saya pasti bisa untuk menghandle semuanya. Tapi ternyata saya salah, pada akhirnya juga saya malah kewalahan sendiri untuk membagi pikiran.
Saya butuh liburan, kayaknya. Penginnya sih pergi ke laut atau gunung, atau minimal pergi dari kota mimpi, walaupun tujuannya masih ga jelas. Dan dari beberapa minggu yang lalu sebenarnya saya sudah punya banyak rencana untuk pergi-pergi, termasuk pada hari libur nasional di minggu ini. Tapi, tapi, semua rencana malah gagal. Ada saja hal-hal di luar dugaan yang datang silih berganti. Sementara saya sudah beberapa kali membatalkan acara luar kota yang tidak terlalu saya prioritaskan, jadi menyesal rasanya. Ah, sepertinya saya memang ga ditakdirkan untuk rehat sejenak deh... :(
Ga tau kenapa minggu-minggu ini kebanyakan yang saya lakukan berujung pada satu kata: useless. Semoga minggu-minggu kedepan apa-apa yang saya lakukan tidak lagi berujung pada kata useless . . .
Ya, semoga.
Wednesday, October 17, 2012
SELFNOTE
Suasana hati saya kembali buruk, ga tau kenapa. Tiba-tiba saya bisa jadi sangat sensitif. Karena beberapa alasan juga sih, sepertinya akhir-akhir ini sedang ada beberapa orang yang terus berusaha membuat saya kesal.
Saya sedang kesepian, saya akui itu. Orang-orang yang dekat dengan saya seperti jauh. Lingkungan saya tidak sepi, tetapi seperti ada jarak yang memisahkan saya dengan mereka. Saya seperti kehilangan kendali, tenggelam dalam dunia milik sendiri. Sementara mereka juga terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing, dan saya dipaksa untuk mengikuti. Saya lelah, langkah saya sedang terlalu berat.
Saya sedang merasa kurang nyaman dengan beberapa hal. Saya seperti berada di tempat yang salah dengan kondisi yang salah pula. Saya seperti orang asing yang ga tau apa-apa. Saya cuma orang asing, dan tidak ada yang menyenangkan untuk menjadi terasingkan.
Saya merasa banyak hal yang salah pada diri saya akhir-akhir ini. Sifat mudah sinis saya keluar lagi pada akhirnya, dan saya susah mengendalikannya. Jadinya malah saya yang rugi sendiri.
Ah, saya pengin menyepi, tapi saya ga mau sendirian . . . :(
Sunday, September 30, 2012
SEMINAR
Saya lagi pengin cerita nih, tentang salah satu penggalan masa kuliah saya di semester tujuh. Jadi, ada satu momok yang paling menakutkan saat memasuki semester tujuh di jurusan saya, yaitu SEMINAR. Seminar ini berupa proposal skripsi yang terdiri dari bab 1. Kelihatannya sih gampang, cuma bab 1 saja kan. Tapi syarat utama dari seluruh penelitian sejarah adalah sumber, terutama sumber primer. Begitu pula dengan proposal skripsi yang juga harus termuat sumber-sumber primer. Nah, sulitnya disini adalah, sumber primer itu sebagian besar berupa arsip tertulis yang untuk mendapatkannya membutuhkan usaha lebih dan (menurut saya) juga pengorbanan yang besar. Bagaimana tidak, untuk mencari arsip-arsip tersebut, saya harus pergi ke berbagai tempat, dari Jakarta, ibu kota provinsi, hingga ke lokasi penelitian saya. Belum lagi saya juga harus memperhatikan unsur temporal (waktu) yang saya pilih. Lalu, apakah hanya itu bebannya? Tidak.
Untuk seminar di semester tujuh ini, saya sempat bingung untuk memilih judul. Kebingungan saya itu disebabkan oleh banyak hal, seperti kekuatiran saya akan minimnya sumber, finansial, lingkup spasial (tempat, lokasi) dan temporal yang harus dipilih, bahkan hingga kesanggupan saya sendiri untuk menghadapi konsekuensi atas setiap keputusan yang saya ambil. Tetapi, saya pun semakin menguatkan diri dan mencoba untuk yakin, karena saya percaya bahwa bila saya berkeinginan kuat dan berani, saya akan bisa dan harus bisa. Maka dengan modal nekat saya pun menetapkan satu judul, berlokasi di luar Jawa yaitu Lombok dengan tema sejarah maritim.
Padahal di Jawa saja, untuk kajian sejarah maritim terdapat berbagai kendala yang siap menghadang, terutama adalah keterbatasan sumber. Karena kebanyakan mindset orang Indonesia adalah daratan, yang notabene berada pada lingkup agraris, sehingga pemusatan perhatian pada unsur maritim sangat kurang. Apalagi saya, yang dengan pedenya ambil lokasi di Lombok, dimana data-data lebih sulit dicari. Ya saya hanya berharap semoga keputusan yang saya ambil ini bukan keputusan bunuh diri.
Lalu, kendala apa lagi setelah itu? Jawabannya adalah orang tua saya. Orang tua saya bereaksi tepat seperti yang saya duga saat saya memberitahukan rencana judul saya. Ya, mereka cenderung keberatan dengan alasan sulitnya akses dan minimnya data. Bahkan mereka cenderung memaksa saya untuk berganti haluan dan mengambil lokasi di Jawa. Hal tersebut sempat membuat saya gamang dan berpikir ulang selama beberapa minggu. Tetapi kini saya malah semakin yakin dengan keputusan saya tersebut, walaupun saya tahu segala resiko yang akan saya hadapi. Saya hanya mencoba untuk yakin pada pilihan saya, pada hati saya.
Bukannya saya tidak punya pilihan. Saya juga punya beberapa judul lain. Masalahnya adalah, hati saya tidak tertambat disitu. Sudah lama saya menyukai laut dan kehidupan di sekitarnya. Maka tidak salah kan bila saya memilih maritim sebagai topik utama saya. Dan sudah lama juga saya ingin keluar dari area Jawa, membuktikan bahwa di luar sana masih banyak kisah yang perlu diceritakan.
Ya, semoga saja kekuatan yang saya miliki cukup. Semoga itu cukup.
Friday, September 28, 2012
RANDOM
Saya lagi kangen nih, nggak tau sama siapa. Karena bahkan saya tidak mengerti dengan diri saya sendiri. Nggak tau kenapa . . .
Tadi malam saya sedikit ribut dengan seorang teman yang (mungkin) saya anggap sebagai seorang kakak dan sudah beberapa bulan ini jadi tempat saya bercerita. Dia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang mungkin dia anggap sensitif. Sempat terjadi salah paham, entah dia yang tidak memahami saya atau saya yang tak bisa memahaminya. Yah, saya hanya peduli dan mungkin kepedulian saya sedikit salah dimengerti olehnya, atau oleh orang lain yang menganggap apa yang saya lakukan aneh. Ya sudah, biarlah. Saya mencoba tidak peduli.
Teman saya itu bilang kalau saya egois. Terkadang saya seperti tenggelam dalam masalah saya, dan ketika ditanya saya hanya menjawab "Tidak apa-apa". Karena nyatanya memang saya tidak siap untuk melibatkannya dalam masalah saya. Masalah yang sebagian besar justru berputar pada diri saya sendiri, pada hal-hal yang belum saya mengerti. Mungkin saya terlalu banyak berpikir dan merenung. Tapi ternyata diri saya yang seperti itu membuat teman saya sedikit tidak nyaman. Ya mungkin memang benar saya egois, terima kasih sudah mengingatkan.
Saya hanya butuh ditemani untuk beberapa saat, karena saya tak tahu apa yang akan terjadi saat saya sendirian. Saya hanya lelah, mungkin.
Katanya saya aneh. Nyatanya memang dari dulu saya aneh. Tapi jujur saja segala hal yang saya rasakan saat ini berujung pada kebingungan. Saya bingung harus bersikap bagaimana, rasanya seperti kehilangan kendali. Saya tidak terlalu menyukai ide untuk menjadi aneh. Tetapi saya juga tidak mau untuk menjadi biasa, untuk menjadi sama. Saya hanya ingin terlihat seperti saya, bukan saya yang mirip siapa atau apa. Saya hanya suka dikenali sebagai saya.
Tadi malam selepas perdebatan itu teman saya bilang kalau saya mirip dengan seorang teman saya yang lain. Katanya sifat kami mirip, amat mirip untuk beberapa hal. Dan saya tidak suka. Rasanya disamakan dengan orang lain itu sangat menyebalkan. Seperti ada versi lain dari diri saya, entah itu lebih baik atau lebih buruk. Sekilas saya merasa tidak asli. Sementara saat ini tujuan utama saya adalah untuk menjadi diri saya sendiri, menyukai diri saya apa adanya tanpa perlu ada topeng atau dinding pemisah dalam diri saya.
Ya, saya sedang berproses untuk mencapai tujuan-tujuan saya. Dan sedikit banyak teman saya itu turut berpengaruh dalam proses diri saya. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, entah dia menyadari atau tidak, untuk segala hal, untuk segala obrolan panjang di malam hari. Setidaknya obrolan-obrolan itu berhasil membuat saya tetap berjejak di tanah, tidak terlalu mengawang-ngawang lagi.
"Terima kasih untuk segala kejujuran yang telah kau berikan ya."
Wednesday, August 22, 2012
HALO !
Tanggal 15 kemarin, KKN saya (akhirnya) selesai. Senang sih, tapi entah kenapa sampai sekarang saya masih merasa kosong. Mungkin saya hanya belum terbiasa. Jadi, setelah semingguan berpusing-pusing dengan yang namanya LPK, akhirnya tugas saya selesai juga. Rasanya enak banget ketika kepala kosong dan nggak dipaksa untuk berpikir. Pikiran saya sampai melayang-layang. Akhirnya pelampiasan saya tersalurkan lewat perjalanan Pakis Aji (Jepara)-Tembalang (Semarang) dengan waktu tempuh kurang dari dua jam.
Ahiya, LPK ini lho yang bikin saya galau selama seminggu lebih.
Dan akhirnya kegiatan KKN ditutup dengan upacara penarikan di kampus dan aksi pelemparan topi KKN. Penginnya sih juga sama aksi pembakaran jaket KKN, tapi sayang ah. Jadinya jaket KKN punya saya dicorat-coret oleh teman-teman KKN saya, ditandatangani dan ditulisi macam-macam. Tapi begonya saya, kenapa tu jaket dicuci, luntur semua deh tulisannya. Itu semua ternyata gara-gara spidol sn*wm*n yang ternyata kalo kena air luntur *baru tahu, haha.
Eh, eh, pas kemarin balik ke kota mimpi, saya juga sempat nonton Perahu Kertas, sebuah film karya Hanung Bramantyo hasil adaptasi dari novel Perahu Kertas karya Dee (Dewi Lestari). Walaupun saya merasa di beberapa bagian agak sedikit berlebihan, tapi saya suka filmnya. Bukan dari segi kisah cintanya Kugy dengan Keenan, tapi ada sesuatu yang menarik saya, nggak tahu apa, dan saya tersesat di dalamnya.
Dan saya jatuh cinta dengan soundtrack Perahu Kertas yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda.
Sekarang saya sudah di rumah, dan belum apa-apa saya sudah kangen dengan kota mimpi. Saya merasa masih ada yang belum terselesaikan dan saya pengin ketemu beberapa orang. Setelah itu, saya ingin terbang lagi. Doakan saja ya, supaya fisik, finansial, dan waktu saya mendukung.
Saya siap berlari kembali, mencari jawaban.
Friday, August 17, 2012
RANDOM
Saya masih ingin bertemu dengan beberapa orang, menyelesaikan hal-hal yang terasa salah. Terasa ada aliran utang yang belum terpenuhi, janji-janji yang tak tertepati. Saya masih merasa bersalah, tapi tak tahu harus berbuat apa.
Kali ini juga saya ingin pergi lagi, berlari ke timur. Membeli tiket secara random dan berakhir pada antah berantah lagi. Kali ini saya rindu hutan dan pegunungan, setelah satu bulan terkekang dan menjadi anak pantai. Saya butuh sendiri, sementara kedatangan hari raya tidak menawarkan kesendirian yang tengah saya rindukan.
Saya ingin menukar waktu.





