Showing posts with label confession. Show all posts
Showing posts with label confession. Show all posts

Wednesday, September 24, 2014

Adaptasi Baru

Tujuan, atau obsesi, kah?
Entahah, saya hanya mencoba menjalani hidup saya dengan sebaik-baiknya cara menurut subjetivitas saya.

Saya seperti mengawang-awang, lupa daratan. Lupa pada diri saya sendiri. Sudah satu bulanan ini saya disibukkan dengan aktivitas baru saya sebagai mahasiswa program magister sejarah. Sibuk kah? Mungkin. Tapi untuk kesekian kalinya saya merasa seperti melayang-layang dalam berbagai dunia.

Ada satu hal yang saya rasakan ketika memasuki sebuah rutinitas baru, tapi saya tidak tahu bagaimana menamakannya. Mungkin bisa dibilang rasa itu merupakan perpaduan dari rasa takut, tidak percaya diri, maupun rasa lain yang terkadang meninggalkan rasa mual di perut saya. Ada kenyamanan dan ketidaknyamanan baru yang saya temui, tapi saya rasa kondisi tersebut sangat manusiawi.

Kami bersepuluh, dalam dunia baru yang tak baru. Tak baru, karena memang masing-masing dari kami memiliki latar belakang pendidikan yang hampir sama, tapi dengan pengalaman yang berbeda-beda. Mungkin hanya saya yang justru paling tidak berpengalaman. Nyatanya, dalam hampir dua tahun terakhir ini saya seakan melupakan dunia sejarah dan tenggelam dalam dunia yang saya ciptakan sendiri. Hasilnya, saya terseok-seok.

Jujur, saya merasa malu, ketika melihat sembilan orang selain saya yang (mungkin) begitu mencintai sejarah dan menerimanya sebagai dunia utama. Bukan berarti saya tidak mencintai sejarah, hanya saja pikiran dan hati saya terbagi dengan berbagai hal lain yang juga saya cintai. Saya merasa seperti peselingkuh, ketika pikiran saya terbagi-bagi seperti saat ini.

Apakah saya bisa survive? Harus bisa. Saya memang harus banyak belajar lagi, mengejar ketertinggalan saya dan meraih kembali apa-apa yang tak sengaja saya lupakan. Dunia saya berubah lagi, kini. Tapi dengan tujuan pencarian yang masih sama.

Tapi kini saya seperti kehilangan waktu untuk memenuhi "keegoisan" saya, sebagai suatu bentuk pemenuhan "rasa haus" dalam diri saya. Dilematis memang, tapi itu adalah konsekuensi yang saya sadar betul, akan saya alami ketika saya mengambil keputusan mengenai hidup yang saya jalani kini.

Memang, ada banyak hal yang masih tak dapat terkatakan. Dan hal-hal tersebut seakan begitu meluap-luap dalam diri saya. Ah, yang saya butuhkan saat ini adalah adaptasi dan penyamaan persepsi, agar saya tidak merasa menjadi "orang lain" lagi. Saya masih harus belajar untuk segala hal, dan kembali fokus untuk menjalankan segala konsekuensi (baik atau buruk) dari keputusan saya.

Thursday, October 3, 2013

Uncover The Mask

"Seberapa pedulinyakah kau dengan pendapat orang lain?"

Dalam hidup, sulit untuk menjadi diri sendiri, tanpa adanya paksaan atau pengaruh dari orang lain. Hampir setiap orang memiliki topeng, berupa tindakan yang berasal bukan dari dirinya secara murni, melainkan tindakan yang ditujukan untuk dilihat orang lain. Bila benar-benar ada tindakan yang dilakukan sebagai keinginan sendiri, bisa jadi hal tersebut malah membuat orang menghakiminya sebagai orang yang egois.

Pada masa lalu saya, saya pernah terbiasa menjadi diri saya sendiri yang tak banyak orang mengerti, bahkan keluarga saya sendiri. Bukankah orang-orang cenderung lebih suka menghakimi daripada mencoba memahami? Saya pernah merasa begitu berbeda, dan rasanya sangat buruk. Saya merasa sendirian karena hampir tidak ada oang yang memahami saya. Hingga suatu hari saya memutuskan "pergi" dan berubah, menjadi orang lain.

Saya yang sekarang berbeda dengan saya yang dulu. Saya paham betul bahwa karakteristik seseorang berkaitan erat dengan pengalaman dan perlakuan yang didapatkannya semenjak kecil. Saya pun merasa sedikit "normal", tapi saya juga merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Well, I created my own mask for covering my real "face".

Ada orang yang mengatakan pada saya, "Jadilah dirimu sendiri," ketika saya sering kebingungan harus melakukan apa. Saya memang selalu bingung karena saya terlalu banyak memikirkan orang lain, tepatnya apa yang diinginkan orang lain. Hidup saya pun terasa seperti terbebani. Sementara beberapa orang terkadang menganggap saya payah karena tidak bisa mengikuti mereka. Yah, sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya berakhir bagus, kan...

Bahkan ada teman saya yang mengatakan bahwa saya terlalu sering ingin campur atas urusan orang lain karena saya sering bertanya "kabar" orang lain. Ia mengatakan bahwa saya terlalu memikirkan diri sendiri karena saya seolah-olah menjaga zona aman saya dan diam-diam siap menusuk orang. Dia menyamakan saya dengan beberapa orang yang sempat ditemuinya, dan memang dia sering menyamakan saya dengan orang lain. Dia merasa kepedulian saya palsu, dan tidak menyadari bahwa saya benar-benar peduli. Karena saya tahu, bagaimana rasanya tidak dipedulikan. Jujur, saya sakit hati diperlakukan demikian, tapi setelah saya pikirkan kembali, mungkin inilah konsekuensi dari keinginan terpendam saya untuk berubah "sama" dengan orang lain, untuk merasa lebih "normal" dan tidak merasa jadi orang aneh.

Saya marah pada teman saya itu, terutama karena dia menggunakan kata-kata kasar pada saya, dan juga karena saya merasa dia menghakimi apa-apa yang ingin saya lakukan, tepatnya hal-hal yang benar-benar  ingin saya lakukan tanpa paksaan dari orang lain. Saya sakit hati, karena ketika saya benar-benar ingin melakukan keinginan saya yang murni dari diri saya sendiri, atau mempertahankan pemikiran saya sendiri, saya dihakimi dan disalahkan dengan menyebut bahwa saya telalu egois.

Sejak kecil saya sudah sering dikasari. Saya hanya tak bisa menerima perlakuan kasar itu, jika keluar dari seseorang yang saya anggap dekat dengan saya. Tapi, saya menyadari bahwa teman saya itu ada benarnya juga, meskipun permasalahan kami berakar pada sifat kami yang (mungkin) sama-sama keras kepala dan egois. Saya terlalu banyak kehilangan diri saya sendiri.

Pernah teman saya yang lain menanyakan apa keinginan terbesar dalam hidup saya. Saya menjawab bahwa saya ingin hidup dengan cara saya sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain. Tapi saya tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, secara keseluruhan. Nyatanya pada sebagian hidup saya, saya telalu banyak memikirkan orang lain, tentang apa keinginan orang lain atau apa yang ingin orang lihat dari diri saya.

Dan mungkin teman saya benar, saat mengatakan bahwa saya telalu sering ingin berada pada zona aman. Entahlah, apakah dia tahu alasan sebenarnya atau tidak. Tapi saya tidak ingin terus-terusan merasakan sakit dan sendirian. Bukannya saya takut pada resiko atau apalah, but I've had enough of it.

Pertengkaran saya dengan teman saya itu membuat saya banyak berpikir ulang. Mungkin selama ini cara saya salah. Saya terlalu banyak berpikir dan mempedulikan apa kata orang lain. Saya juga merasa bersalah pada teman saya itu, walaupun saya tak bisa menjelaskan perasaan saya yang sebenar-benarnya pada dia secara langsung. Saya takut saya dihakimi lagi, tepatnya saya takut penghakiman itu semakin merubah diri saya.

Satu hal yang saya sesalkan. Saya takut pertengkaran saya dan teman saya itu menyebabkan kami menjadi "dingin". Bagaimanapun juga, dia telah jujur pada saya menghargai hal itu, walaupun saya tak bisa mengatakannya secara langsung padanya karena sempat tertutupi oleh kemarahan. Memang bukan salahnya jika dia menghakimi saya karena dia tidak benar-benar tahu alasan dari semua hal di diri saya. Hanya saja, saya tidak tahu apakah saya tahan dihakimi terus-terusan, apalagi untuk hal-hal yang datang dari dalam diri saya sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Saya, masih belum bisa terbiasa diperlakukan seperti itu, walaupun hal itu sudah sangat sering saya alami.

Mungkin, selama ini yang saya pikirkan adalah, saya ingin diperlakukan "normal", bahkan oleh keluarga saya sendiri. Tapi cara saya salah, dan teman saya itu sedikit banyak telah memberikan sedikit kesadaran pada saya. Entahlah, dia mengerti atau tidak. Urusan hati dan perasaan manusia itu bukan suatu hal yang dapat ditebak dengan mudah. Dan saya memang tak bisa membuktikan perasaan saya yang saya katakan padanya.
Tapi, kepada teman saya itulah saya ingin mengucapkan banyak kata maaf dan terimakasih, terutama karena telah mengingatkan saya pada diri saya yang sebenarnya.

Tapi, jika saya tidak suka terlihat "sama" dengan orang lain dan ingin kembali jadi diri saya sendiri yang sebenar-benarnya, akankah saya terus-terusan dihakimi?

Sunday, April 14, 2013

Berbicara Jodoh

Beruntunglah mereka yang telah menemukan pasangan hidupnya masing-masing. Nyatanya menemukan orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup itu tidak mudah. Tidak hanya cinta yang dibutuhkan, tetapi juga pengertian dan kesiapan untuk menerima segala konsekuensi. Karena hidup bersama itu sama saja dengan kehilangan sebagian kebebasan yang dimiliki.

Saya kenal seseorang yang begitu ingin bebas. Mungkin baginya pernikahan itu tidak penting, karena justru hal itu malah akan mengikat dia. Saya sempat kagum dengan jiwa bebasnya, dan memang saya sempat "terjatuh" padanya. Tapi saya rasa saya tidak bisa seperti dia. Saya juga ingin bebas, tapi itu bukan tujuan utama saya. Ya, semoga dia bisa mencapai tujuannya, begitu juga saya.

Saya bukan lagi seorang remaja tanggung, bohong rasanya jika dibilang saya tidak memikirkan kehidupan saya mendatang. Soal pasangan hidup juga menjadi salah satu hal yang saya pikirkan. Saya masih sendiri hingga kini. Banyak yang bilang saya keras kepala, tapi bagi saya mencari pasangan itu bukan hal yang main-main. Tidak seperti memilih pernak-pernik di etalase kaca yang indah secara visual namun rapuh. Yang saya butuhkan adalah orang yang kuat untuk dirinya sendiri, dan mampu menguatkan saya.

Mungkin saya juga bukan orang yang mudah, bukan untuk ditaklukan, tetapi dipahami. Selama ini pun saya seringnya ketemu dengan orang yang "salah". Ada yang main-main, perangainya buruk, hingga orang yang hanya mementingkan fisik. Yang terakhir itu yang paling menyebalkan. Dulu waktu saya SMA, saya pernah direndahkan seseorang karena fisik saya yang mungkin baginya tidak rupawan. Selain itu, penampilan saya dulu memang sembarangan, tomboi. Dan akibatnya dalam sekali, karena hingga sekarang saya masih trauma dan seringkali merasa minder dengan fisik saya.

Dulu saya juga pernah bertemu dengan seseorang yang menurut saya tepat. Dan dia juga menyukai saya apa adanya. Hanya sayang, kami tidak bisa bersama akibat kesalahanya sendiri. Saya pun kembali sendiri.

Seorang teman pernah bilang, jika saya belum menemukan pasangan hidup yang pas, yakinlah bahwa jodoh saya juga sedang berusaha keras untuk mencapai saya, jadi saya harus bersabar. Yang harus saya lakukan adalah mencari dan menunggu, serta berdoa tentunya. Semoga saya bisa segera bertemu dengannya.

Sunday, March 24, 2013

Akar dan Tanah

Sudah beberapa hari ini saya berada di rumah orang tua saya, di tanah dimana saya tak sempat menumpang lahir. Jadi saya tak tahu, apa kota kecil tempat saya tumbuh ini dapat saya katakan sebagai kampung halaman? Saya sendiri terkadang merasa bahwa saya tak layak.

Saya terlahir dengan akar yang berasal dari moyang yang berbeda. Saya kira darah saya terdiri dari campuran, yang karenanya saya tak tahu apakah saya harus bangga atau sedih. Hampir seumur hidup, saya tinggal dengan orang-orang yang memiliki budaya dan bahasa ibu yang berbeda, sehingga di rumah saya dan keluarga terbiasa menggunakan sebuah lingua franca sebagai penengah. Hasilnya, saya tak terlalu memahami bahasa ibu ataupun ayah, bahkan saya nyaris tak pernah diperkenalkan dengan kebudayaan mereka masing-masing. Saya kemudian tumbuh dengan budaya yang saya cari dan pelajari sendiri.

Saya sering merasa, hidup dengan keluarga yang memiliki kebudayaan berbeda yang sama-sama kuat itu sedikit tidak menyenangkan. Saya tak pandai berbahasa daerah, logat saya aneh, bahkan saya tak begitu tahu mengenai adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Terkadang saya merasa seperti alien, orang asing yang tak tahu apa-apa. Ketika saya sendiri akhirnya terjun pada bidang budaya, saya semakin menyadari bahwa saya memang tak banyak mengerti, bahkan pada hal-hal kecil seperti mitos-mitos yang banyak didengungkan oleh orang-orang tua.

Bukannya ibu saya tak pernah mengenalkan budaya daerah pada saya. Hanya saja karena keluarga saya merantau, maka budaya yang sekilas diperkenalkan ibu saya tak terlalu meninggalkan bekas. Saya hidup dengan dongeng-dongeng yang saya temukan dalam buku-buku ataupun yang saya ciptakan sendiri. Pada akhirnya saya memiliki dunia sendiri yang terkadang, saya akui, memisahkan saya dari dunia nyata. Bukan, saya bukan pengkhayal. Hanya saja saya merasa dunia saya berbeda.

Dari dulu saya merasa berbeda, namun bukan berbeda dalam arti yang baik atau kebalikannya. Saya hanya merasa seperti tak mengikuti aturan setempat, aturan tak tertulis atau terkatakan mengenai apa-apa yang seharusnya dilakukan dan dipahami. Bahkan terkadang saya merasa terpenjara dalam dunia yang saya tak mengerti. Saya masih kecil saat itu, belum banyak memahami apa-apa, tapi saya tahu bahwa ada yang salah dengan diri saya. Saya merasa tak terikat dengan tanah tempat saya tumbuh ini. Saya merasa seperti tanah ini bukan rumah saya, bukan tempat saya untuk pulang. Entahlah.

Kemarin saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Entah kenapa saya merasa semakin jauh, seakan bahwa dunia kami berbeda. Saya tak tahu dan jujur saja, saya merasa sedih. Terkadang saya ingin mengeratkan ikatan saya dengan tanah ini dan mengakuinya sebagai kampung halaman saya. Tapi bahkan saya tak mengerti akar dari tanah ini. Itu sebabnya saya merasa tak layak. Maka beginilah saya, tak jelas dan masih berusaha mencari tanah yang bisa saya kenali akarnya.

Jadi, apakah salah jika saya tak memiliki ambisi yang kuat untuk kembali pada tanah ini?

Terkadang saya merasa seperti pengkhianat.

Monday, January 28, 2013

Semoga Baik-Baik Saja

Yang menyebalkan dari kenangan adalah ketika tak bisa terlupa, namun tetap tak mungkin terjadi lagi . .

Kau sering bilang kalau saya cengeng, karena saya beberapa kali menangis di depanmu. Kau hanya tidak tahu, bahwa kau adalah alasan terbesar dari setiap tangisan saya itu. Saya bukan orang yang mudah menangis, hingga kemudian muncul alasan yang begitu mengusik saya terlalu dalam. Kau tak pernah tahu, atau mungkin tak mau tahu ataupun peduli . . .

Saya kira dengan mencipta jarak akan membuat saya lebih tenang. Tapi ternyata saya tak sekuat itu. Saya hanya perempuan aneh yang terus mencoba membohongi diri. Bohong bila saya bilang tak peduli kamu. Dan saya tak bisa lupa, tak kan pernah bisa lupa, pada segala kenangan yang telah mengubah kita.

Dan bahkan setelah kau pergi pun saya masih bisa membauimu di udara, merasakan berkas-berkas kehadiranmu. Saya tak bisa lupa, saya bisa apa . . .

Jaga diri baik-baik ya. Semoga saya dan kamu tetap baik-baik saja.

Friday, September 28, 2012

RANDOM

.Pic taken from random googling.
Saya ingin menjadi senja, menjadi penengah antara siang dan malam yang tak pernah bersua.

Saya lagi kangen nih, nggak tau sama siapa. Karena bahkan saya tidak mengerti dengan diri saya sendiri. Nggak tau kenapa . . .

Tadi malam saya sedikit ribut dengan seorang teman yang (mungkin) saya anggap sebagai seorang kakak dan sudah beberapa bulan ini jadi tempat saya bercerita. Dia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang mungkin dia anggap sensitif. Sempat terjadi salah paham, entah dia yang tidak memahami saya atau saya yang tak bisa memahaminya. Yah, saya hanya peduli dan mungkin kepedulian saya sedikit salah dimengerti olehnya, atau oleh orang lain yang menganggap apa yang saya lakukan aneh. Ya sudah, biarlah. Saya mencoba tidak peduli.

Teman saya itu bilang kalau saya egois. Terkadang saya seperti tenggelam dalam masalah saya, dan ketika ditanya saya hanya menjawab "Tidak apa-apa". Karena nyatanya memang saya tidak siap untuk melibatkannya dalam masalah saya. Masalah yang sebagian besar justru berputar pada diri saya sendiri, pada hal-hal yang belum saya mengerti. Mungkin saya terlalu banyak berpikir dan merenung. Tapi ternyata diri saya yang seperti itu membuat teman saya sedikit tidak nyaman. Ya mungkin memang benar saya egois, terima kasih sudah mengingatkan.

Saya hanya butuh ditemani untuk beberapa saat, karena saya tak tahu apa yang akan terjadi saat saya sendirian. Saya hanya lelah, mungkin.

Katanya saya aneh. Nyatanya memang dari dulu saya aneh. Tapi jujur saja segala hal yang saya rasakan saat ini berujung pada kebingungan. Saya bingung harus bersikap bagaimana, rasanya seperti kehilangan kendali. Saya tidak terlalu menyukai ide untuk menjadi aneh. Tetapi saya juga tidak mau untuk menjadi biasa, untuk menjadi sama. Saya hanya ingin terlihat seperti saya, bukan saya yang mirip siapa atau apa. Saya hanya suka dikenali sebagai saya.

Tadi malam selepas perdebatan itu teman saya bilang kalau saya mirip dengan seorang teman saya yang lain. Katanya sifat kami mirip, amat mirip untuk beberapa hal. Dan saya tidak suka. Rasanya disamakan dengan orang lain itu sangat menyebalkan. Seperti ada versi lain dari diri saya, entah itu lebih baik atau lebih buruk. Sekilas saya merasa tidak asli. Sementara saat ini tujuan utama saya adalah untuk menjadi diri saya sendiri, menyukai diri saya apa adanya tanpa perlu ada topeng atau dinding pemisah dalam diri saya.

Ya, saya sedang berproses untuk mencapai tujuan-tujuan saya. Dan sedikit banyak teman saya itu turut berpengaruh dalam proses diri saya. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, entah dia menyadari atau tidak, untuk segala hal, untuk segala obrolan panjang di malam hari. Setidaknya obrolan-obrolan itu berhasil membuat saya tetap berjejak di tanah, tidak terlalu mengawang-ngawang lagi.
"Terima kasih untuk segala kejujuran yang telah kau berikan ya."

Friday, August 10, 2012

HAMIN LIMA

Tiba-tiba merasa kosong sekaligus penuh hari ini. Ternyata sekarang sudah memasuki hamin lima (h-5) menuju penarikan KKN oleh kampus saya. Waktu satu bulan masa penerjunan sudah hampir selesai, dengan suasana Ramadhan yang hampir tidak saya rasakan, benar-benar datar dan hambar.

Minggu-minggu lalu, saya merasa waktu penerjunan KKN ini adalah sebuah bentuk penderitaan sendiri, dengan banyaknya beban program dan tanggung jawab lain yang rasanya begitu menyesakan, ditambah dengan sulitnya menyatukan berbagai kepala yang baru saja dipertemukan melalui sebuah kebetulan yang saya yakin memang telah terencana olehNya. Nyatanya minggu-minggu awal penerjunan yang saya rasakan adalah serupa himpitan beban. Jauh dari keluarga dan kehidupan "normal" versi saya.

Tetapi entah kenapa, saya kini mulai menikmati semua proses itu. Tiba-tiba rasa sedih itu datang menyelinap ketika saya menyadari bahwa waktu yang tersisa tidak mencapai satu minggu lagi. Saya mulai merasa nyaman, untuk tinggal bersama dengan dua belas orang yang memiliki karakter bermacam-macam. Atau mungkin saya hanya belum siap untuk kembali, for facing the reality.

Bahkan sekarang saja saya sudah mulai merindukan teman-teman KKN saya, merindukan kenangan bersama mereka, bagaimana kami berproses bersama, berjuang. Dan saya merasa nyaman dengan mereka. Hati saya seperti terbagi dua, di satu sisi saya ingin pulang, dan di sisi lain saya ingin tetap seperti ini, diam dalam stagnansi.

Tiba-tiba saya merasa bahwa waktu satu bulan ini adalah masa-masa pelarian saya. Masa dimana saya menghilang sejenak dari realitas.

Monday, July 16, 2012

HAMBAR

Kesalahan terbesar saya saat ini:
(kembali) Terjatuh pada orang yang salah.

Nyatanya salah, karena memang belum berada pada tempat yang semestinya. Rasa itu belum pas bener menyertainya. Seperti secangkir teh dengan gula yang belum teraduk, hanya mampu menyuguhkan rasa manis yang hambar.

Masih belum tepat, ternyata . . .

Sunday, June 10, 2012

RELIEVED

Sore tadi saya pergi dengan seorang teman. Kami hanya janjian untuk bertemu di sebuah toko buku di salah satu mall. Ketika kemarin saya diajak teman saya itu untuk pergi ke luar, saya langsung mengiyakan. Nyatanya berdiam diri di kos pun nggak menghasilkan apa-apa, jadi mungkin saya butuh sedikit penyegaran.

Sejujurnya saya memang sedang ingin pergi, tapi bukan ke tempat ramai seperti mall, apalagi di malam minggu. Namun entah kenapa pertemuan saya dengan teman saya   walaupun kami bertemu di tengah keramaian malam minggu yang sering membuat saya merasa agak nggak nyaman   membuat saya merasa sedikit lega. Kami, dengan masalah masing-masing, saling menemani dan bercerita. Saya nggak tahu, apakah sedikit cerita yang teman saya sampaikan tadi itu benar atau nggak, karena nyatanya kami belum lama saling mengenal, sehingga kemungkinan ia menganggap saya belum bisa dipercaya, begitu pun dengan saya yang (mungkin) menganggapnya seperti itu. Tapi nggak tahu kenapa kepada teman saya itu saya nggak tahan untuk nggak bercerita mengenai sedikit masalah saya, kekhawatiran dan ketakutan saya. Mungkin itu disebabkan oleh rasa asing yang masih melingkupi kami. Saya memang lebih sulit bercerita mengenai keadaan diri saya terhadap orang-orang yang dekat dengan saya. Mungkin walaupun orang-orang itu dekat dengan saya, tetapi secara personal dan emosional saya nggak merasa dekat. Saya tidakbelum merasa aman dengan mereka. Ya, keterasingan membuat saya merasa aman, karena saya bebas melontarkan cerita mengenai diri saya tanpa takut cerita itu akan dijadikan senjata untuk menyerang saya. Saya bukan trauma, hanya saja sedikit mengantisipasi agar hal seperti itu nggak terjadi lagi. Boleh-boleh saja kan?

Saturday, February 25, 2012

RETAK

Hari ini terasa tak biasa. Entah mengapa beberapa penggal memori yang sempat terlupa meriap-riap keluar, kuat memaksa.

Hari ini saya kembali menyadari, tentang siapa diri saya, tentang bagaimana dan untuk apa hingga saya dulu memaksa lupa. Tentang bagaimana saya sempat mencoba untuk membuang diri saya. Saya yang dulu retak, terduduk diantara rasa utuh dan patah. Dulu, saya yang bahkan sulit untuk berdiri, tetapi dipaksa untuk berlari. Saya yang tertatih-tatih sendirian. Dan saya yang masih sulit untuk memahami, memutuskan untuk pergi, melarikan diri.

Saya dulu memaksa untuk berani di tengah rasa ketakutan. Memaksa untuk kuat, padahal saya lemah dengan segala keterbatasan. Memaksa, berusaha untuk menjadi nomor satu, padahal saya masih terseok-seok seratus nomor di belakang. Saya yang begitu ingin dilihat, walau sekali saja, dan tidak lagi menjadi orang yang disalahkan.

Saya ingat semuanya, tentang bagaimana saya sulit untuk berkata-kata. Saya yang begitu diam, terlalu larut dalam dunia semu saya. Saya yang masih tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang, karena rasanya tidak nyaman, setelah sekian lama terbiasa tersembunyi di balik tirai. Saya yang hingga kini masih sulit untuk menentukan sikap. Saya yang hingga hari ini masih merasa putus asa, karena ternyata lari saja tidak cukup. Untuk apa, toh diri saya hingga kini masih retak.

Saya ingin bebas, bebas dari rasa takut yang masih mengikat saya, karena saya lelah. Rasa takut itu ternyata menghabiskan energi yang begitu besar. Entahlah, saya tak tahu apakah saya masih kuat utuk berlari lagi. Saya hanya ingin jujur, melepaskan semua, dan merasakan utuh kembali.

Hari ini, memori itu meriap-riap memaksa untuk keluar, mengembalikan ingatan tentang diri saya yang dulu, setelah saya secara tak sengaja menemukan file-file lama saya. Entah mengapa tiba-tiba saya kembali membaca buku dan catatan yang dulu biasa saya baca. Dan mood saya langsung berubah ketika secara tak sengaja saya mendengarkan lagu-lagu yang dulu biasa saya dengarkan. Maka ingatan tentang masa lalu saya pun seperti berlomba-lomba untuk hadir di pikiran saya. Ingatan tentang diri saya, yang dulu sempat saya coba buang.

Dan saya menyadari apa yang salah dengan diri saya sekarang. Saya kini merasa seperti orang lain. Ya, saya berhasil membuang sebagian diri saya. Saya sempat melupakan kebiasaan-kebiasaan saya yang dulu begitu lekat dengan diri saya, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai penanda diri saya, penanda bahwa saya bisa berbeda dengan cara saya sendiri.

Ya, hingga kini saya masih tidak suka untuk menjadi sama . . .

Thursday, December 29, 2011

MUNGKIN KARENA SAYA ANEH

Kemarin saat saya sedang berkumpul dengan teman saya, dia sempat bertanya, "Na, kok kamu kaku banget. Tumben diam terus, biasanya ngomong."
Kenapa? Karena saya sedang berada di luar zona nyaman saya. Ketika saya tidak berada di zona nyaman saya, saya sering menjadi orang yang begitu diam, tenggelam pada keramaian dalam pikiran saya. Tetapi bila saya sudah memasuki zona nyaman saya, maka saya dapat menjadi orang yang tak bisa diam dan senang untuk berbicara, bercerita. Saya aneh ya? Saking anehnya, ada satu teman saya yang sering tertawa bila melihat tingkah saya. Katanya, saya seperti anak kecil.

Saya sering ketawa-ketawa sendiri, nyengir lebar hingga membuat orang lain merasa aneh. Bukan berarti saya gila, tetapi bagi saya banyak hal di dunia ini yang bisa ditertawakan dan dianggap lucu. Terkadang saya tak mampu mengontrol emosi euforia saya. Saat saya sedang senang, saya bahkan sering berjalan cepat seperti melompat-lompat. Tidak lupa juga saya akan pamer gigi ke semua orang, walaupun orang tersebut tidak ada hubungannya dengan kesenangan saya itu. Dan dengarlah intonasi suara saya yang meninggi saking semangatnya.

Bahkan terkadang saya malah nyengir lebar dan ketawa tak jelas saat mendengar sebuah kabar duka. Bukan kesedihan yang menghampiri saya, tetapi euforia itu. Saya yang bisa begitu mudah menertawakan kesedihan, seolah itu hanyalah sebuah lelucon di siang hari. Dan terkadang saya bisa bersikap begitu sinis sekaligus manis. Jangan tanya saya mengapa, karena saya pun tak mengerti.

Lucu ya, atau mungkin bisa dibilang ironis. Saya sendiri terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran saya. Sering sekali pikiran saya dipenuhi oleh gagasan-gagasan aneh dan begitu kompleks. Bahkan terkadang kehidupan imajinasi saya masih lebih ramai dari pada kehidupan nyata saya. Entah mengapa, di sana saya bisa merasa bebas.

Ya, bebas. Bebas untuk terbang tanpa harus merasakan rasa sakit karena terjatuh. Karena di dunia nyata saya tak pernah bebas, bahkan untuk menjadi diri sendiri.

Ada orang yang memarahi saya karena saya (mungkin) berbeda. Saya tak tahu maksud berbeda menurut dia bagaimana, yang saya tahu, saya akan menjauhi segala hal yang menurut saya tidak benar. Kata orang, jangan jadi orang muna dengan berlagak sok suci. Tetapi menurut saya, muna itu bila seseorang membohongi diri sendiri. Sudah cukup saya dibohongi oleh orang lain, dan saya tidak suka bila beban saya ditambah dengan kebohongan pada diri sendiri.

Saya aneh ya? Tetapi saya bangga untuk menjadi orang aneh dan berbeda.

Ah, sulit sekali untuk merangkaikan kalimat-kalimat ini. Saya bukan penulis yang baik, yang pandai merangkai kalimat-kalimat manis. Saya juga bukan tukang cerita yang baik. Saya hanya ingin berbagi, mengenai semua perasaan saya dan keributan di pikiran saya, agar saya bisa kembali tidur nyenyak, tanpa beban.

Mungkin bagi mereka saya membosankan, karena dunia saya berbeda. Saya yang begitu mencintai buku dan tak suka diam di suatu tempat. Saya suka pergi ke tempat-tempat baru, bahkan terkadang saya bisa nekat. Saya yang cenderung melawan arus, bukan karena tidak suka, tetapi lebih kepada ketidaksukaan saya untuk menjadi sama. Atau mungkin dari sudut pandang saya, yang sering melihat segala sesuatu dari isi, bukan bentuk.

Saya yang terkadang tidak peduli atau terlalu peduli, hingga membuat orang lain kesal. Saya akui memang saya terkadang berlebihan. Saya hanya tidak tahu, kadar mana yang pas bagi tiap-tiap orang. Bukankah setiap orang memiliki racikan kopi sendiri yang bisa diterima di lidah masing-masing.

Ya, saya akui saya memang aneh.

Wednesday, December 28, 2011

SAYA DAN ORGANISASI

Kemarin-kemarin saya agak tersentak ketika membaca salah satu tulisan teman saya di sini. Tulisan itu berisi mengenai dualisme seorang mahasiswa dalam berorganisasi. Mengapa tulisan ini bisa menyentak batin saya? Karena jangankan 2, sekarang saya mengikuti 3 organisasi sekaligus, bahkan 4 jika sebuah grup diskusi juga ikut dihitung.

Saya sibuk ya? Ah, tidak juga. Sebenarnya saya hanya mencoba untuk menyibukkan diri ke dalam hal-hal positif. Mengikuti banyak organisasi masih lebih baik kan dari pada kebanyakan bengong di kamar sambil nonton TV. Lagi pula saya merasakan banyak manfaat dengan mengikuti berbagai aktivitas di luar aktivitas perkuliahan. Saya jadi tidak terlalu anti sosial, karena pada dasarnya saya termasuk orang yang pendiam, dan mungkin agak cenderung introvert. Dan jujur saja, saya lebih menikmati kehidupan saya dalam organisasi dan kegiatan di luar perkuliahan. Bahkan terkadang saya lebih suka berkumpul dengan orang-orang organisasi. Bukannya saya pilih-pilih teman atau bagaimana, tetapi setiap orang secara alami pasti akan mencari tempat yang membuat dirinya nyaman, dimana dia berada dalam satu komunitas dengan minat yang sama.

Saya suka organisasi, tetapi saya tidak suka politik. Terkadang saya lebih suka menjadi pihak oposisi, atau istilah lainnya tukang mengkritik. Ok, ini memang salah satu bad habit saya. Terkadang saya bisa mengatakan hal yang saya tidak suka atau saya anggap tidak benar dengan terlalu jujur dan blak-blakan. Tetapi sekarang kebiasaan itu sudah jauh berkurang. Saya lebih suka memendam rasa ketidaksukaan saya di dalam hati. Toh kritikan saya juga terkadang tidak terlalu berpengaruh, useless.

Ok, back to topic. Dari tadi saya hanya ngalor-ngidul tidak jelas. Saya sedang ingin menulis, tetapi saya tidak tahu mau menulis apa. Kehabisan ide memang sudah menjadi penyakit bagi saya.

Seperti yang tadi telah saya sebutkan, saya mengikuti 3 organisasi. Semenjak dulu saya sudah jatuh cinta dengan dunia teater, maka saya pun mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater Diponegoro (Dipo). Saya juga suka dunia kepenulisan dan jurnalistik, maka saya bergabung dalam LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Hayamwuruk (Hawe). Selain itu, saya juga mengikuti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sejarah di kampus saya. Oia, saya juga masih sempat mengikuti salah satu grup yang bernama Riset Club.

Capekkah saya? Itu pasti. Bahkan terkadang saya keteteran untuk tetap aktif dalam semua organisasi yang saya ikuti. Ini semacam pengakuan dosa juga. Jujur saja, bila dilihat dari tingkat keaktifan, saya lebih aktif di Hawe dan Dipo. Mengapa? Karena saya merasa nyaman, dan saya merasa bahwa kedua organisasi ini sudah menjadi dunia saya. Selain itu, saya merasa lebih dihargai, hal inilah yang kemudian membuat saya nyaman.

Saya sudah terlalu lelah disalahkan dan tidak dihargai. Saya lelah terjebak dalam situasi seperti itu. Maka tidak salah kan bila saya secara alamiah mencari tempat yang bisa membuat saya lebih nyaman. Walaupun dualisme itu tidak bagus, tetapi saya tidak mungkin melepas dua hal yang telah tergabung dalam dunia saya, dunia teater dan kepenulisan. Selain itu, ada satu hal yang saya pegang teguh. Bila untuk tanggung jawab kecil saja saya tidak bisa, apalagi untuk tanggung jawab yang lebih besar. Maka saya pun mencoba untuk konsisten dengan apa yang telah saya pilih. Dan saya siap dengan konsekuensinya bila ternyata saya tidak mampu untuk tetap konsisten.

Friday, November 25, 2011

TAK SERUPA EKSPEKTASI


Dulu saya kira keputusan saya untuk pindah adalah pilihan terbaik yang bisa saya ambil. Saya ingin melupakan semua, membiarkan cangkir-cangkir hati saya kosong kembali, dan menumpahkan seluruh kenangan dalam jejak masa lalu. Saya ingin bertransformasi menjadi orang baru dan memulai lagi dari titik terendah. Itu semua tidak mudah untuk membangun kembali tanpa pondasi.

Saya ingin melupakan diri saya yang dulu tak tahu apa-apa, dan dengan polosnya mencoba menatap dunia. Saya belajar dan melakukan segalanya hampir sendirian, bukan karena saya ingin, tetapi lebih karena saya terpaksa sehingga menjadi kebiasaan. Saya dulu membayangkan, dengan pindah dan mencoba mencuci hati saya, saya tidak akan sendiri lagi. Sendirian itu tidak mudah dan sangat melelahkan. Namun ternyata hidup baru ini tak serupa ekspektasi, hambar.

Dan saya lupa bahwa saya belum tentu cocok dengan orang-orang baru. Walau begitu saya ternyata bisa sedikit beradaptasi, meski terkadang saya merasa masih belum nyaman. Mungkin sekarang saya sedang memasuki titik jenuh. Saya sedang ingin pergi lagi.

Pada awalnya saya kira hidup di tempat baru akan memberikan warna lain selain hitam dan putih, warna pada masa lalu saya. Saya memang mendapat warna baru, abu-abu. Suram ya, haha *menghibur diri.

Ah, tapi tidak juga kok. Saya terkadang menemukan warna merah dan kuning yang tidak sengaja terselip. Terutama saat saya melihat ke dalam matanya. Mata sewarna malam, namun biasnya mampu memberikan warna lain. Walaupun pindah ternyata bukan jalan yang terbaik, namun ada satu sisi baiknya. Bila saya tidak pindah, saya tidak akan pernah menemukan mata sewarna malam itu.
"Cobalah berpikir positif na, di tempat baru pasti ada cerita baru kan. Adventure is out there . . ."
*Menyemangati diri

Wednesday, November 23, 2011

TENTANG DIA


Hi D. Entah mengapa urusan cinta itu begitu membingungkan. Dulu, saya sering mentertawakan orang yang begitu berlebihan saat bertemu dengan cinta, mentertawakan betapa cinta dapat menciptakan kekonyolan di siang bolong. Tetapi kini saya mengerti, betapa seriusnya urusan cinta itu.

Sudah beberapa bulan ini saya kebingungan D, saya seperti orang linglung yang tak tahu berekspresi. Saya lelah D, bahkan untuk tersenyum pun saya membutuhkan banyak perjuangan. Dapatkah cinta menghilangkan senyuman D? Bukankah kata orang cinta justru menghadirkan kehangatan . . .

D, saya bingung dengan rasa yang baru pertama kali saya jumpai. Kali ini serius D, sangat serius hingga bahkan mampu membolak-balik dunia saya.

Sudah beberapa minggu ini saya rutin menyibak jendelanya D. Mengendap-endap, meskipun saya tahu itu percuma karena dia tidak akan menyadari keberadaan saya. Melihatnya dari jauh memberi kekuatan tersendiri bagi saya. Namun saya tidak bisa membohongi hati saya D, saya juga ingin melihat dia lebih dekat, dalam jarak yang mungkin lebih rapat dari sekedar sepelemparan batu . . .

D, tidak apa-apa kan bila saya menambah satu lagi catatan isi hati saya. Sebetulnya saya ingin sekali bercerita langsung padamu, mungkin kapan-kapan ya. Entah mengapa saya sedang merasa ditinggalkan. Saya merasa sedang tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita, atau untuk mencari jawaban atas seluruh hal absurd yang hingga kini tidak mudah saya mengerti.

Salah satu teman karib saya menyuruh saya untuk jujur padanya D. Tetapi saya terlalu takut. Saya mungkin seorang pengecut yang terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Saya tidak tahu harus bagaimana, sedangkan dalam pikiran saya telah terbangun tembok-tembok pembatas yang memilah-milah ruang urusan hati itu.

Tidak mudah untuk jujur D. Betapa sulitnya untuk menjadi diri saya sendiri saat saya menyadari kehadirannya melalui ekor mata saya. Dia serupa matahari D, dengan terik yang begitu menyilaukan sehingga mampu membuat saya terpaku padanya. Bahkan saya sampai lupa dengan kehadiran sang bayang, sebuah realitas yang telah terbiaskan oleh mimpi.

Saya tidak memiliki apa-apa untuk menarik perhatiannya D. Yang saya punya hanyalah bayangan masa lalu, yang kini hanya menyisakan trauma. Betapa kuatnya pengaruh trauma itu D, bahkan hingga kini perasaan pahit akibat rasa takut itu masih dapat tercecap . . .

Dia berbeda sekali dengan saya. Dia seperti memiliki sayap. Dan saya yang masih menjejak tanah terus mencoba berlari, takut kehilangan kelebat kepakannya. Tetapi bukankah perbedaan itu indah D? Perbedaan yang dapat saling melengkapi, saling menyempurnakan.

Haruskah saya bilang padanya D? Memuntahkan seluruh endapan rasa yang memberatkan pikiran saya. Tolong, jangan biarkan saya untuk menoleh ke belakang, ke arah jejak-jejak yang sempat kau tinggalkan. Saya takut tidak bisa kembali lagi, karena hati saya masih terpaut dengan waktu yang sudah berlari jauh denganmu.

Rasa takut itu masih belum hilang D. Dunia saya masih terjebak dalam kotak . . .

Sunday, November 20, 2011

INTROSPEKSI


Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Tidak ada juga orang yang benar-benar disukai oleh semua orang. Ada kalanya seseorang tersebut, walau sebaik apapun dirinya, memiliki teman yang ternyata tidak tulus. Dunia ini tidak hanya berwarna putih saja. Kehidupan itu tidak seperti dunia mimpi, dengan komposisi warna yang mudah diatur.

Saya merasa ada beberapa pihak yang tidak menyukai saya. Wajar, karena saya memang tidak sempurna. Tetapi saya paling sebal jika ada seseorang yang membicarakan saya di belakang, sementara di depan saya dia tersenyum manis. Saya suka bila saya dikritik langsung, walau seburuk apapun itu, karena dengan kritik itu saya bisa introspeksi dan berubah ke arah yang lebih baik. Saya juga lebih suka diberi saran-saran membangun, bukan kata-kata penyalahan yang malah memojokkan saya.

Setidaknya dengan begitu saya merasa masih ada orang yang peduli dengan saya, memperhatikan saya, dan ingin saya berubah ke arah yang lebih baik.

Saya yang dulu berbeda dengan sekarang. Entahlah, saya tidak tahu, apakah perubahan ini baik atau buruk. Yang saya tahu, saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, membiasakan diri dengan norma-norma tentang baik dan buruknya. Apa yang baik di lingkungan lama, belum tentu baik di lingkungan baru. Hanya saja terkadang saya merasa terkekang. Saya pun ingin bebas menjadi diri sendiri, tetapi saya merasa terjegal.

Ah, saya tidak boleh begitu. Saya harus memperbaiki diri saya. Saya harus bisa lebih dewasa. Namun lucunya, kedewasaan di sini terkadang malah dianggap tidak bagus. Ya, bukan hanya saya saja yang berubah, setiap manusia juga berubah. Terkadang untuk menjadi berbeda itu malah tidak indah ya . . .

Saya bingung, saya harus berubah menjadi seseorang yang menurut saya lebih baik, atau seseorang yang menurut mereka lebih baik. Terkadang saya merasa sebagian dari diri saya semakin memudar.

Ah, sepertinya saya harus introspeksi diri lagi . . .

Sunday, October 23, 2011

TWO SIDES

Saya tak tahu harus bagaimana, dan saya tak tahu harus bercerita pada siapa. Saya kira, hanya di sini saya bisa lepas, melepaskan suka dan duka lewat tulisan, karena mereka tak mengerti, tak bisa . . .

Tadi, teman saya datang berkunjung. Dia bercerita bagaimana saya diomongkan oleh orang-orang, yang merupakan teman-teman saya, di belakang saya. Orang-orang itu berkata, bahwa saya terlalu . . . mendominasi, baik dalam kelompok maupun organisasi. Mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Setiap cerita memiliki dua sisi yang berbeda.

Saya termasuk tipe orang yang perfeksionis. Saya ingin segalanya teratur, karena saya memiliki satu ketakutan terbesar yang hingga kini belum bisa saya atasi. Saya takut gagal. Dari dulu saya terbiasa dituntut untuk menjadi sempurna. Karena apa? karena saya butuh sebuah pembuktian. Pembuktian bahwa saya ada, bahwa saya berguna. Masa lalu saya tidak begitu indah. Saya sempat merasakan bagaimana dikucilkan oleh keluarga sendiri, dihina,orang lain, karena saya berbeda. Oleh karena itu, telah tertanam dalam diri saya, saya harus bisa sendiri, harus bisa, karena saya memang sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri.

Saya pun tumbuh menjadi seseorang yang mungkin terlihat mandiri. Saya bukannya tidak butuh orang lain, hanya belum ada orang yang mengerti saya. Saya butuh pegangan, karena tetap saja, saya tidak bisa menopang semuanya dalam bahu saya sendiri. Saya butuh bahu orang lain, untuk berbagi beban. Tetapi mereka tetap tidak mengerti.

Begitu takutnya saya dengan kegagalan, saya pun berusaha keras. Dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya tak mau mengecewakan orang lain, saya tak mau dikucilkan lagi. Saya melakukan banyak hal untuk orang lain, karena saya juga mau dipedulikan, saya ingin dilihat. Karena tetap saja, saya tak bisa sendiri.

Tetapi mereka tak mengerti. Mungkin menurut mereka saya terlalu perfeksionis. Saya terbiasa untuk menyelesaikan hal yang belum selesai, belum sempurna, walaupun itu bukan tanggung jawab saya. Saya hanya berusaha untuk berbuat maksimal, bukan berarti saya turut campur dalam pekerjaan mereka. Toh bila mereka memang bisa mengerjakan, saya tidak akan ikut-ikutan. Bila mereka butuh bantuan, saya siap menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan. Tetapi mereka tidak mengerti, mereka bilang saya terlalu mendominasi.

Mereka bilang saya lebih mendominasi dari pada laki-laki.

Mungkin kesalahan saya juga, yang tidak tahan melihat ketidakberesan. Tetapi bagaimana kasusnya, jika mereka sendiri yang meminta bantuan. Bagaimana jika mereka memang tidak paham dan tidak bisa menyelesaikan tugas. Apa salah, jika kemudian saya melakukan segalanya yang saya bisa? Ah, memang, setiap kejadian itu memiliki dua sisi yang berbeda, dua sudut pandang yang tak bisa diabaikan, untuk melihat kebenarannya.

Saya tidak marah pada mereka yang membicarakan saya di belakang saya. Saya justru bersyukur, akhirnya saya tahu. Itu termasuk sebuah kritikkan untuk saya, agar saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya sangat berterima kasih. Namun saya sedih, mereka menghakimi saya dan hanya melihat dari satu sisi. Mereka tidak pernah tau alasannya. Bila saya beri tahu, mungkin mereka kira saya sedang membela diri. Yasudahlah.

Mungkin saya harus berubah ya. Apa saya harus menjadi orang yang lebih "diam" lagi? Tetapi terkadang, mereka sendiri yang mencari saya. Saya bingung. Saya tak tahu, saya harus bagaimana . . .

Mereka tak tahu, betapa batin saya menagis. Buat apa saya menjelaskan, karena mereka tidak pernah (mau) tahu alasan sebenarnya. Mereka hanya melihat dari satu sisi, sudut pandang personal yang mereka anggap paling benar . . .

Bahkan saya pun butuh pemimpin, penunjuk jalan, karena saya bosan sendiri . . .

Terkadang saya ingin menjadi sama, agar saya bisa lebih diterima. Tetapi tetap saja . . . saya berbeda . . .

Wednesday, June 22, 2011

TAK INGATKAH KAU

Saya lelah . . .

Tak tahukah kau akan segala rasa yang ada, di sini, di lubuk ini. Saya lelah, lelah untuk berusaha menggenggam bayanganmu. Tak bisa, karena bayanganmu selalu membias pada sela jemari, tak tergenggam.

Tak ingatkah kau akan masa itu, masa lalu. Saat di sore hari kau menggenggam tangan ini, menyusuri jalan, terbelai angin.
Tak ingatkah kau akan ilalang itu, ilalang keemasan yang menyapu langkah kaki kita, mengubur semua kenangan, tentang kita.
Tak ingatkah kau akan melodi itu, segenggam nada yang kita mainkan bersama. Saya bersama tuts dan kau bersama senar.
Tak ingatkah kau?
Ah, mungkin kau merasa terbebani dengan ingatan kecil itu. Tak apalah.

Kenangan itu, istimewa bagi saya, apa bagimu juga demikian?

Masih ingatkah kau akan janji itu, janji yang terpancar melalui genggaman hati itu . . .

Namun bayanganmu ternyata masih semu. Harus saya apakan untuk bisa menjadi nyata?

Tolong, beritahu saya. Saya lelah . . .



P.S. Hi D . . . saya rindu . . .

Wednesday, December 1, 2010

WE ARE DIFFERENT


Sadarkah kau akan suara detak waktu itu, yang begitu lirih menyapa, seakan eksistensinya tak mau lagi dipertanyakan . . .
Sadarkah kau akan jurang perbedaan ini, yang semakin hari merangkak memisahkan, dan semakin menegaskan keberbedaan kita . . .

Maafkan saya, yang sulit sekali untuk 'menyamai' kalian. Saya hanya sedang membangun jembatan di jurang ini, tetapi kenapa kalian masih menjegal juga?

Saya tak seperti kalian, yang mudah untuk berkata-kata. Terkadang saya terlalu kaku untuk berkata.

Saya tak seperti kalian, yang suka membicarakan orang yang kalian suka. Saya lebih suka memendamnya, dan menjadikan rasa itu lebih pribadi.

Saya tak seperti kalian, yang suka jalan ke tempat ramai, seperti mall, dan lain-lain. Saya lebih suka pergi ke tempat sepi, di tempat saya bisa melihat keindahan yang nyata.

Saya tak seperti kalian, yang begitu memperhatikan penampilan. Saya tak tahu kenapa, tetapi saya lebih nyaman dengan gaya saya sekarang.

Saya tak seperti kalian, yang begitu takut dengan cuaca panas, karena takut akan merusak kulit indah kalian. Matahari telah menjadi teman saya dari dulu. Dia yang telah memberikan energi positif bagi saya, untuk memulai hari.

Saya tak seperti kalian, yang membenci hujan, karena takut merusak rambut indah kalian. Hujan telah lama memberi ketenangan bagi saya, serta rasa aman yang dingin.

Saya tak seperti kalian, yang begitu suka memadupadankan warna. Entahlah, mungkin saya memang tak berbakat di bidang itu.

Saya tak seperti kalian, yang begitu suka dengan lagu pop zaman sekarang. Saya lebih suka instrumen, karena saya tahu, musik itu datangnya dari hati, yang telah tertuangkan dengan begitu tulus, oleh sang pencipta lagu.

Saya tak seperti kalian, yang lebih suka untuk berada di depan layar. Saya lebih suka menjadi orang di belakang layar, karena saya pikir, peran saya lebih dibutuhkan disana.

Saya tak seperti kalian . . .

Maafkan saya ya, jika saya terlalu berbeda. Maafkan saya, jika saya masih kaku untuk berbaur dengan kalian . . .

Monday, November 22, 2010

TOPENG


Akhir-akhir ini, saya sering ngidam kopi. Kopi pekat, tanpa pemanis. Saya pikir, rasa pahitnya dapat mengalahkan rasa pahit yang terus merembes dalam hati saya.

Akhir-akhir ini, saya juga sering ngidam mangga mentah, yang dipadukan dengan garam dan cabai pedas. Kenapa? Entahlah . . . Mungkin agar saya bisa belajar untuk menerima rasa masam, seperti yang terkadang terpercik darimu, serta pedasnya kata-katamu yang tak kau sadari.

Saya bingung . . .

Saya ingin bertanya, namun saya takut pada pandangan hambarmu, seperti yang kerap kau berikan ketika saya memanggilmu. Hanya memanggil, dan bahkan sepenggal kata pun belum saya lontarkan.

Apa kamu merasa terusik dengan kehadiran saya?

Katakan saja. Saya tak suka memandangi topeng. Setidaknya, biarkan saya melihat wajah aslimu. Saya tak akan marah. Saya hanya akan merasa kecewa. Bukan, bukan padamu kawan, tenang saja. Saya kecewa pada diri saya sendiri, yang telah menjadi penyebab bagi kamu untuk memakai topeng itu. Maafkan saya ya . . .

Thursday, November 4, 2010

SUSAH . . . :'(

Ternyata susah, untuk bersabar . . .
Ternyata susah, untuk punya tanggung jawab . . .
Banyak pihak, yang menyalahkan.
Banyak pihak, yang menganggap egois.
Banyak pihak, yang menganggap sombong.
Padahal kalian tidak tahu, aku pun tak mau.
Aku sudah terlalu lelah . . .
Susah untuk meneruskan, susah bagi kalian untuk diteruskan.
Aku ingin lepas, kalian memaksa.
Aku melangkah, kalian mendebat.
Mau kalian apa?
Kalian menganggap aku sok pintar.
Kalian menganggap sok mengatur.
Lalu mau kalian apa?
Kalian yang membandingkan, aku hanya membela diri.
Apa itu salah . . .
Kalian memberontak, aku mendengarkan.
Kalian berteriak, aku diam.
Kalian menghakimi, aku terima.
Lalu mau kalian apa?
Aku memikirkan posisi kalian, Kalian memprotes.
Aku mengalihkan, kalian menyalahkan.
Lalu mau kalian apa . . .
Aku . . . sudah di ambang batas . . .