Showing posts with label kata hati. Show all posts
Showing posts with label kata hati. Show all posts

Monday, December 14, 2015

Spesial?

Hal yang paling menyedihkan adalah ketika saya memiliki keinginan yang belum tercapai seumur hidup, dan ketika harapan itu sudah begitu besar, saya (lagi-lagi) tak mendapatkannya. Bahkan untuk hal kecil di hari spesial saya, oleh orang yang juga spesial.

Rasanya saya tak ingin lagi berharap...

Random

Hal tersulit untuk saya lakukan saat ini adalah berdamai...
Betapa sulitnya, karena membutuhkan keikhlasan yang luar biasa untuk mencapainya...

Tuesday, March 17, 2015

B

Allah menjawab doa manusia melalui berbagai cara. Dalam kasus saya, Allah menjawab doa saya melalui seseorang yang kemudian secara perlahan memasuki kehidupan saya.

Namanya B.

Pertemuan singkat kami telah mampu membuat saya menerima hal-hal yang sebelumnya ingin saya hindari, lupakan. Meskipun secara perlahan, saya mulai dapat berbaikan dengan masa lalu, dengan berbagai macam kelelahan dan luka hati. Terutama dalam melepaskan ingatan menyesakkan tentang seseorang lalu yang sempat hadir dalam hidup saya dan memporakporandakan diri saya.

B telah membantu saya untuk memperbaiki hubungan dengan waktu. Dan dengannya, saya merasa menjadi orang yang baru, yang mampu berlari di tengah berbagai macam kekangan. Dengannya, justru saya merasa bebas...

Selamat datang pada hidup dan pikiranku yang rumit, B..!!

Sunday, January 11, 2015

Tanpa Pertanyaan

Ada kalanya, saya tidak siap untuk bertemu dengan orang lain. Saya tidak siap dengan berbagai pertanyaan yang dengan menjawabnya butuh usaha yang justru akan menyakiti saya secara batin. Saat ini, saya sedang ingin sendirian tanpa ada pertanyaan. Dengan begitu, saya rasa saya akan masih baik-baik saja.

Saturday, December 27, 2014

Pulang?

Saya tak tahu, apakah umur dua puluh tiga ini akan menjadi titik balik, atau hanya akan berakhir sama seperti rentang umur sebelumnya. Sementara saya semakin jatuh pada perenungan-perenungan akan hidup, mau menjadi seperti apakah saya. Apakah saya akan masih bersikeras untuk melakukan pencarian untuk pencapaian-pencapaian yang bahkan belum diketahui kepastiannya? Atau akankah saya menyerah dan kembali, pulang...

Namun saya tak tahu, apakah saya akan menemukan rumah yang sama untuk pulang...

Waktu semakin menjauhi saya. Dan semalam saya tersadarkan dengan status keperempuanan dan kedudukan sebagai anak pertama dalam keluarga kecil saya. Kesadaran itu begitu memberikan beban moral, dan secara perlahan mengikis keegoisan yang saya miliki, berikut kebebasan diri saya. Saya tak bisa terus menghindar.

Orang tua saya adalah yang terbaik yang bisa saya miliki, dalam segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara semakin lama saya merasa semakin kecil, dengan segala kekeraskepalaan yang selama ini saya simpan. Dunia saya seperti terlalu berpusat pada diri saya sendiri, sementara saya semakin menjauh dari keinginan akan pencapaian orang tua yang tersirat dari sorot mata mereka. Saya merasa bersalah. Saya rindu mereka.

Mungkin memang sebaiknya saya pulang, meski sejenak...

Wednesday, December 17, 2014

DuaPuluhTiga

Hari minggu lalu, pada 14 Desember yang kesekian, kehidupan saya menjejak pada level baru, level duapuluhtiga. Pada hari itu, saya menerima sejumlah ucapan selamat untuk bertambahnya (atau berkurangnya?) usia saya, baik dari orang-orang yang telah lama mengenal saya, maupun dari mereka yang masih asing. Ada pula ucapan yang telah hilang, seperti uap di udara. Pernah di suatu waktu saya enggan mencapai 14 Desember, karena mengingatkan saya dengan satu masa yang hingga kini masih menyisakan bekas. Namun kini saya telah ikhlas dan berbaikan dengan memori maupun kenangan menyesakkan itu.

Berbeda dengan satu, dua ataupun tiga tahun yang lalu, 14 Desember kemarin sengaja saya rayakan dengan kesendirian. Kala itu saya merasa tak siap untuk bertemu dengan siapapun dan berbagi kabar dengan sejumlah keengganan. Saya ingin menikmati sepanjang hari itu dengan kebebasan dan kebisuan, bukan hiruk pikuk yang semu dengan bermacam-macam topeng ekspresi. Rasanya aneh bagi saya untuk menjejak angka duapuluhtiga, sementara saya merasa semakin kehilangan waktu untuk melakukan beberapa hal. Memang, pada akhirnya sebagian manusia terkalahkan oleh waktu yang tak pernah puas.

Pada hari itu, saya membiarkan diri saya tenggelam dalam arus memori dan kilas balik. Setidaknya dengan itu, saya dapat tetap mengingat siapa dan seperti apa diri saya. Saya tenggelam pada berbagai lamunan perjalanan, baik yang sudah maupun belum saya jalani. Saya merasa bahwa saya masih memiliki jarak dengan apa-apa yang selama ini saya cari, meskipun saya tak tahu apakah jarak tersebut semakin menjauh atau justru saling mengejar. Entahlah.

Semoga Allah selalu melindungi saya.

Saturday, October 25, 2014

Tanya

Aku sering bertanya-tanya, akankah masih ia mengingatku? Akankah mau ia mengingatku?

Sementara aku tak bisa lupa, tentang bagaimana ia menjadi titik terendah dalam masa laluku. Namun tanpanya, aku mungkin tak pernah bisa sampai pada titik dimana aku berada kini.

Pada akhirnya, kita saling mengusir keberadaan satu sama lain.
Pada sebuah akhir yang tak berawal.

Wednesday, September 24, 2014

Adaptasi Baru

Tujuan, atau obsesi, kah?
Entahah, saya hanya mencoba menjalani hidup saya dengan sebaik-baiknya cara menurut subjetivitas saya.

Saya seperti mengawang-awang, lupa daratan. Lupa pada diri saya sendiri. Sudah satu bulanan ini saya disibukkan dengan aktivitas baru saya sebagai mahasiswa program magister sejarah. Sibuk kah? Mungkin. Tapi untuk kesekian kalinya saya merasa seperti melayang-layang dalam berbagai dunia.

Ada satu hal yang saya rasakan ketika memasuki sebuah rutinitas baru, tapi saya tidak tahu bagaimana menamakannya. Mungkin bisa dibilang rasa itu merupakan perpaduan dari rasa takut, tidak percaya diri, maupun rasa lain yang terkadang meninggalkan rasa mual di perut saya. Ada kenyamanan dan ketidaknyamanan baru yang saya temui, tapi saya rasa kondisi tersebut sangat manusiawi.

Kami bersepuluh, dalam dunia baru yang tak baru. Tak baru, karena memang masing-masing dari kami memiliki latar belakang pendidikan yang hampir sama, tapi dengan pengalaman yang berbeda-beda. Mungkin hanya saya yang justru paling tidak berpengalaman. Nyatanya, dalam hampir dua tahun terakhir ini saya seakan melupakan dunia sejarah dan tenggelam dalam dunia yang saya ciptakan sendiri. Hasilnya, saya terseok-seok.

Jujur, saya merasa malu, ketika melihat sembilan orang selain saya yang (mungkin) begitu mencintai sejarah dan menerimanya sebagai dunia utama. Bukan berarti saya tidak mencintai sejarah, hanya saja pikiran dan hati saya terbagi dengan berbagai hal lain yang juga saya cintai. Saya merasa seperti peselingkuh, ketika pikiran saya terbagi-bagi seperti saat ini.

Apakah saya bisa survive? Harus bisa. Saya memang harus banyak belajar lagi, mengejar ketertinggalan saya dan meraih kembali apa-apa yang tak sengaja saya lupakan. Dunia saya berubah lagi, kini. Tapi dengan tujuan pencarian yang masih sama.

Tapi kini saya seperti kehilangan waktu untuk memenuhi "keegoisan" saya, sebagai suatu bentuk pemenuhan "rasa haus" dalam diri saya. Dilematis memang, tapi itu adalah konsekuensi yang saya sadar betul, akan saya alami ketika saya mengambil keputusan mengenai hidup yang saya jalani kini.

Memang, ada banyak hal yang masih tak dapat terkatakan. Dan hal-hal tersebut seakan begitu meluap-luap dalam diri saya. Ah, yang saya butuhkan saat ini adalah adaptasi dan penyamaan persepsi, agar saya tidak merasa menjadi "orang lain" lagi. Saya masih harus belajar untuk segala hal, dan kembali fokus untuk menjalankan segala konsekuensi (baik atau buruk) dari keputusan saya.

Wednesday, August 13, 2014

Mimpi Berpola

Beberapa waktu ini mimpi dalam tidur saya seolah memiliki pola. Mimpi saya bukan jenis mimpi bersambung yang seolah mengisyaratkan sebentuk firasat. Saya merasa bahwa mimpi saya berusaha untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang diam-diam saya simpan. Dan semalam saya memimpikan suatu hal yang saya harap tidak terjadi, tetapi secara sepihak hati kecil saya menginginkannya. Semalam rasanya saya seperti bertemu dengan seseorang yang hingga kini saya pikir saya rindukan. Tapi anehnya dalam mimpi semalam saya hanya merasa kosong ketika memandang wajahnya. Mungkin rasa rindu itu memang tak pernah ada, dan yang ada hanyalah rasa penasaran untuk kembali bertemu. Atau bisa jadi rasa kosong itu merupakan sebuah pertahanan diri untuk menghindari rasa sakit berlarut-larut. Ah, saya memang tidak mahir memaknai mimpi.

Tapi sepagi tadi, mimpi itu berhasil membangun kerinduan yang lebih dalam terhadap sosok lama orang itu, sosok yang saya kenal bertahun-tahun lalu. Sebentuk sosok yang saya tahu sudah tidak melekat lagi pada dirinya saat ini.

Monday, July 28, 2014

Manusiawi

Bagi sebagian orang, idul fitri adalah suatu momen untuk mensucikan diri dengan saling memaafkan. Mungkin bagi saya juga. Tapi yang saya tahu, hanya pada momen inilah saya memiliki kepastian untuk menerima permohonan maaf dari seseorang yang seringkali tak menganggap serius kata "maaf", sehingga sering tidak peduli dengan hal tersebut. Dan pada momen inilah hati saya diliputi oleh kerinduan yang sangat terhadapnya.

Tapi, apakah saya harus menunggu selama satu tahun untuk mendapat kata tersebut secara tulus darinya?

Saya rindu, pada sisi dirinya yang lebih manusiawi...

Thursday, July 24, 2014

Ikhlas

Saya belajar bahwa ketidakikhlasan yang berkepanjangan hanya meninggalkan rasa sesak yang berlarut-larut. Keikhlasan bersifat pribadi dan hanya meninggalkan pengaruh secara sepihak, tidak berkaitan dengan pihak yang menjadi objek untuk diikhlaskan. Keikhlasan itu bersifat seperti kebahagiaan, yang menjadi tanggung jawab diri sendiri dalam perwujudannya.

Keikhlasan tak pernah meninggalkan luka.
Manusialah, yang terlalu sering melukai dirinya sendiri, tanpa disadari.

Thursday, June 12, 2014

Kabar pada Kawan

Kalau saja saya disuruh untuk menggambarkan seluruh perasaan yang saya rasakan selama beberapa waktu ini kawan, maka saya tak akan bisa dengan mudah menjawabnya. Kemarahan itu perlahan sirna, namun ingatan tak akan pernah hilang. Maka dengan begitu saya belum sepenuhnya terbebas. Saya memang tak ingin lupa, tapi saya tak ingin merasa terganggu dengan memori yang begitu membekas. Ah, manusia memang kerap saling menyakiti, walau tanpa sengaja. Namun, dengan sengaja mereka kerap saling menyalahkan...

Kawan, perbedaan itu ada bukan untuk dihakimi, kan?
Tapi rasanya masih sulit untuk menerima beberapa perbedaan. Apakah dengan itu menjadikan saya termasuk manusia yang begitu egois?
Nyatanya lebih banyak manusia yang ingin diterima perbedaannya, tanpa mau benar-benar berusaha menerima perbedaan manusia lain. Dan ada pula manusia yang ingin diterima, tapi tidak mengkondisikan dirinya untuk dapat diterima oleh orang lain. Ah, manusia itu kompleks, bukan?
Satu-satunya solusi adalah, jangan jadi manusia.

Tapi saya sudah terlanjur tercipta jadi manusia, dan saya tak menyesalinya.

P.S. Dan untuk pertama kalinya saya merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui apa-apa.

Tuesday, June 10, 2014

Tiba-tiba

Tiba-tiba saya terlalu lelah untuk menghadapinya, D. Berhadapan dengan segala ego yang saling bertubrukan hingga memecah emosi..
Dan tiba-tiba saya merasa bertambah tua dengan beban pertemuan yang ia ciptakan..

Farewell

"Tidak ada lagi yang tersisa bagi saya di kota mimpi, selain kenangan. Maka dalam diam saya mengucapkan selamat tinggal kepadanya."

Monday, May 26, 2014

Percaya

Seseorang secara tidak sengaja - secara tidak langsung - secara paksa - secara tidak sadar telah mengajari saya untuk tidak mempercayai janji orang lain, karena begitu banyaknya orang yang lalai dan mudah berjanji. Begitu pula orang yang mengajari saya itu. Ia dan saya sering berjanji untuk satu sama lain, tapi ia sendiri yang membatalkan dan melupakan janji itu, atau bahkan mengalihkan janji itu untuk orang lain. Menyakitkan memang. Dan setelahnya saya tidak mau menaruh harapan pada kepastian. People are too cruel. There're forgetting their promises easily without hesitate.

Tapi sejujurnya saya masih ingin mempercayai. Saya masih mempertahankan keyakinan bahwa di dunia ini masih ada orang yang benar-benar baik dan amanah terhadap omongan maupun janji. Saya tidak ingin kehilangan seluruh rasa kepercayaan dan keyakinan saya. Saya masih ingin percaya dan merasakan kegembiraan ketika sebuah janji benar-benar ditepati. Ah, saya memang harus belajar untuk menghilangkan prasangka buruk.

Monday, April 14, 2014

Kesempatan

Hal yang paling membuat dada saya sesak akhir-akhir ini adalah ketika mengetahui kenyataan bahwa ada suatu hal yang tidak bisa terjadi dalam hidup saya, karena saya memang tidak diberi kesempatan.

Bukannya tidak ada kesempatan, tetapi tidak diberi kesempatan. Ada perbedaan yang nyata di antara keduanya...

Friday, March 28, 2014

Perjalanan

Setelah kelulusan saya bulan Februari lalu, saya banyak berpikir tentang beberapa rencana saya ke depan. Saya ingin melakukan beberapa perjalanan lagi, entah jarak jauh maupun jarak dekat. Ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi, berkaitan dengan janji, keinginan pribadi, maupun tugas yang harus saya selesaikan. Saya tidak ingin terjebak di rumah, atau sebetulnya belum ingin. Yang saya pahami, saya sendiri belum menemukan "rumah" yang dapat menarik saya agar tidak "mencari-cari" lagi. Jadi selagi sempat, saya tidak ingin menunda-nunda selama kesempatan, waktu dan dana memungkinkan.

Beberapa tempat yang ingin saya kunjungi memiliki ikatan emosional dengan saya. Tapi, bukan berarti saya pernah mengunjungi tempat-tempat itu dan ingin menelusuri ingatan. Justru saya ingin meninggalkan kenangan. Walaupun mungkin sebagian dari perjalanan itu akan saya lakukan sendirian. Pernah saya berpiir, bagaimana rasanya jika saya meninggalkan tempat saya yang lama dan pergi berkelana ke berbagai tempat baru. Saya bisa bertemu orang-orang baru, dan meninggalkan orang-orang di masa lalu sebagai bagian dari kenangan. Tapi, akankah saya merasa nyaman dan bahagia dengan itu? Saya memang telah memutuskan untuk pergi jauh dari "rumah" yang dibuat orang tua saya. Tapi saya melakukan itu karena saya ingin menemukan "rumah" saya sendiri. Saya tak mau terus-terusan pergi, mencari. Karena mungkin justru "ikatan' itulah yang saya cari, yang sayangnya hingga kini belum saya temukan dan rasakan.

Ada yang bilang bahwa sesuatu terlihat begitu berharga ketika telah jauh. Sudah beberapa waktu pula saya hidup dengan menyimpan rindu dan kenangan. Sesungguhnya karena dua hal itu pula lah saya ingin kembali melakukan perjalanan, terus mencari dan menciptakan kenangan baru. Tapi ada satu hal yang saya ketahui pasti. Tidak setiap hal yang saya kenang bisa menjadi kenangan pada orang lain. Tidak setiap hal yang saya anggap penting, bisa menjadi penting pula untuk orang lain. Terkadang itu menyesakkan.

Ah, saya begitu rindu, dan rasa itu pulalah yang menjadi salah satu alasan bagi saya untuk melakukan perjalanan. Saya begitu rindu, pada beberapa tempat, suasana, maupun orang tertentu. Terkadang saya ingin memotong jarak...

Friday, December 6, 2013

Untitled.

Saya pikir saya tidak akan merasa kehilangan yang begitu nyata, karena sudah sejak lama saya telah mempersiapkan diri jika waktunya telah datang.

Perpisahan.

Entah orang-orang yang pergi, atau memang saya yang meninggalkan. Toh saya memang telah memutuskan untuk pergi, mencoba mencari kehidupan baru. Saya takut terjebak pada kenangan yang hingga kini berhasil merubah sudut pandang saya. Bahkan terkadang saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri, dan saya tak suka itu. Saya merasa asing.

Saya pikir, jika saya pergi nanti saya bisa menemukan diri saya yang (sempat) hilang. Tapi, untuk memulai semuanya dari awal lagi tidaklah mudah. Bukan masalah adaptasi, tapi saya pasti akan sendirian untuk beberapa waktu.

Walau bagaimanapun, meskipun saya ingin mengenal diri saya lagi, namun saya juga tak bisa bohong bahwa saya ingin meninggalkan bagian diri saya yang lain. Manusiawi kan, jika saya ingin membuang sisi "gelap" dari diri saya. Walau saya tak tahu, dengan itu apakah saya masih bisa mengenali diri saya nanti.

Yah, saya terlalu bertele-tele rupanya.

Tiba-tiba saya merasa takut, dengan perpisahan. Karena perpisahan hampir selalu meninggalkan bekas. Siap atau tidak siap, waktu untuk berpisah semakin mendekat.

Semoga saya baik-baik saja setelahnya.

Thursday, October 3, 2013

Uncover The Mask

"Seberapa pedulinyakah kau dengan pendapat orang lain?"

Dalam hidup, sulit untuk menjadi diri sendiri, tanpa adanya paksaan atau pengaruh dari orang lain. Hampir setiap orang memiliki topeng, berupa tindakan yang berasal bukan dari dirinya secara murni, melainkan tindakan yang ditujukan untuk dilihat orang lain. Bila benar-benar ada tindakan yang dilakukan sebagai keinginan sendiri, bisa jadi hal tersebut malah membuat orang menghakiminya sebagai orang yang egois.

Pada masa lalu saya, saya pernah terbiasa menjadi diri saya sendiri yang tak banyak orang mengerti, bahkan keluarga saya sendiri. Bukankah orang-orang cenderung lebih suka menghakimi daripada mencoba memahami? Saya pernah merasa begitu berbeda, dan rasanya sangat buruk. Saya merasa sendirian karena hampir tidak ada oang yang memahami saya. Hingga suatu hari saya memutuskan "pergi" dan berubah, menjadi orang lain.

Saya yang sekarang berbeda dengan saya yang dulu. Saya paham betul bahwa karakteristik seseorang berkaitan erat dengan pengalaman dan perlakuan yang didapatkannya semenjak kecil. Saya pun merasa sedikit "normal", tapi saya juga merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Well, I created my own mask for covering my real "face".

Ada orang yang mengatakan pada saya, "Jadilah dirimu sendiri," ketika saya sering kebingungan harus melakukan apa. Saya memang selalu bingung karena saya terlalu banyak memikirkan orang lain, tepatnya apa yang diinginkan orang lain. Hidup saya pun terasa seperti terbebani. Sementara beberapa orang terkadang menganggap saya payah karena tidak bisa mengikuti mereka. Yah, sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya berakhir bagus, kan...

Bahkan ada teman saya yang mengatakan bahwa saya terlalu sering ingin campur atas urusan orang lain karena saya sering bertanya "kabar" orang lain. Ia mengatakan bahwa saya terlalu memikirkan diri sendiri karena saya seolah-olah menjaga zona aman saya dan diam-diam siap menusuk orang. Dia menyamakan saya dengan beberapa orang yang sempat ditemuinya, dan memang dia sering menyamakan saya dengan orang lain. Dia merasa kepedulian saya palsu, dan tidak menyadari bahwa saya benar-benar peduli. Karena saya tahu, bagaimana rasanya tidak dipedulikan. Jujur, saya sakit hati diperlakukan demikian, tapi setelah saya pikirkan kembali, mungkin inilah konsekuensi dari keinginan terpendam saya untuk berubah "sama" dengan orang lain, untuk merasa lebih "normal" dan tidak merasa jadi orang aneh.

Saya marah pada teman saya itu, terutama karena dia menggunakan kata-kata kasar pada saya, dan juga karena saya merasa dia menghakimi apa-apa yang ingin saya lakukan, tepatnya hal-hal yang benar-benar  ingin saya lakukan tanpa paksaan dari orang lain. Saya sakit hati, karena ketika saya benar-benar ingin melakukan keinginan saya yang murni dari diri saya sendiri, atau mempertahankan pemikiran saya sendiri, saya dihakimi dan disalahkan dengan menyebut bahwa saya telalu egois.

Sejak kecil saya sudah sering dikasari. Saya hanya tak bisa menerima perlakuan kasar itu, jika keluar dari seseorang yang saya anggap dekat dengan saya. Tapi, saya menyadari bahwa teman saya itu ada benarnya juga, meskipun permasalahan kami berakar pada sifat kami yang (mungkin) sama-sama keras kepala dan egois. Saya terlalu banyak kehilangan diri saya sendiri.

Pernah teman saya yang lain menanyakan apa keinginan terbesar dalam hidup saya. Saya menjawab bahwa saya ingin hidup dengan cara saya sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain. Tapi saya tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, secara keseluruhan. Nyatanya pada sebagian hidup saya, saya telalu banyak memikirkan orang lain, tentang apa keinginan orang lain atau apa yang ingin orang lihat dari diri saya.

Dan mungkin teman saya benar, saat mengatakan bahwa saya telalu sering ingin berada pada zona aman. Entahlah, apakah dia tahu alasan sebenarnya atau tidak. Tapi saya tidak ingin terus-terusan merasakan sakit dan sendirian. Bukannya saya takut pada resiko atau apalah, but I've had enough of it.

Pertengkaran saya dengan teman saya itu membuat saya banyak berpikir ulang. Mungkin selama ini cara saya salah. Saya terlalu banyak berpikir dan mempedulikan apa kata orang lain. Saya juga merasa bersalah pada teman saya itu, walaupun saya tak bisa menjelaskan perasaan saya yang sebenar-benarnya pada dia secara langsung. Saya takut saya dihakimi lagi, tepatnya saya takut penghakiman itu semakin merubah diri saya.

Satu hal yang saya sesalkan. Saya takut pertengkaran saya dan teman saya itu menyebabkan kami menjadi "dingin". Bagaimanapun juga, dia telah jujur pada saya menghargai hal itu, walaupun saya tak bisa mengatakannya secara langsung padanya karena sempat tertutupi oleh kemarahan. Memang bukan salahnya jika dia menghakimi saya karena dia tidak benar-benar tahu alasan dari semua hal di diri saya. Hanya saja, saya tidak tahu apakah saya tahan dihakimi terus-terusan, apalagi untuk hal-hal yang datang dari dalam diri saya sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Saya, masih belum bisa terbiasa diperlakukan seperti itu, walaupun hal itu sudah sangat sering saya alami.

Mungkin, selama ini yang saya pikirkan adalah, saya ingin diperlakukan "normal", bahkan oleh keluarga saya sendiri. Tapi cara saya salah, dan teman saya itu sedikit banyak telah memberikan sedikit kesadaran pada saya. Entahlah, dia mengerti atau tidak. Urusan hati dan perasaan manusia itu bukan suatu hal yang dapat ditebak dengan mudah. Dan saya memang tak bisa membuktikan perasaan saya yang saya katakan padanya.
Tapi, kepada teman saya itulah saya ingin mengucapkan banyak kata maaf dan terimakasih, terutama karena telah mengingatkan saya pada diri saya yang sebenarnya.

Tapi, jika saya tidak suka terlihat "sama" dengan orang lain dan ingin kembali jadi diri saya sendiri yang sebenar-benarnya, akankah saya terus-terusan dihakimi?

Monday, September 23, 2013

Silly...

Y: I'm just a silly girl who fall in love with the wrong guy, a person who can't love me back. But, I feel grateful to know this kind of feeling.

X: Why are you grieving about the past? While the future holds happiness...

Y: Because women's heart can't be interpreted. If I could forget that feeling easily, is it really love?