Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Happiness (?)

"Happiness, doesn't take its time to judge, who should get its taste..."

(Frau - Water)

Saturday, December 13, 2014

Malam

Malam ini, saya baru menyadari bahwa menaiki bianglala dapat terasa begitu memabukan.

Omong-omong, selamat bereksistensi, dear me... :)

Monday, December 8, 2014

Selfnote

Seseorang pernah berkata pada saya, "tindakan kriminalitas yang bisa dibenarkan, adalah mencuri buku..."
Saya pikir, tindakan seperti itu hanya menyenangkan bagi pelaku, bukan pada "korban-korban" yang bermunculan setelahnya. Pada akhirnya, kami para penikmat buku mendapatkan kesulitan menjadi-jadi dalam pencarian pemenuhan kebutuhan akan buku-buku khusus yang telah hilang itu.

Wednesday, November 26, 2014

Siapa yang Tahu

Siapa yang tahu hati perempuan?
Perempuan, ia pandai melukis dan bersandiwara.
Ia dapat begitu terbuka, namun pandai menutup diri dan mengunci hati.
Ia bisa sehangat matahari pagi dan sedingin tatapan mati.
Ia begitu hidup, dan juga mati.

Siapa yang tahu hati perempuan?
Ah, bukankah hati adalah milik masing-masing orang, katanya...

Kesadaran

"kehilangan itu lebih menyakitkan pada prosesnya, bukan pada suatu hal bersifat kebendaan sebagai obyeknya. Melainkan pada kesadaran bahwa manusia telah mengalami kehilangan. Jika kesadaran itu tidak ada, kenyataan mengenai hilangnya sesuatu tidak akan terasa menyakitkan..."

Saturday, November 8, 2014

Hebat

"Perempuan itu bisa hebat, dengan caranya sendiri. Termasuk kamu..."

Wednesday, November 5, 2014

November Rain

Malam ini, untuk kesekian kalinya, saya berada dalam suatu perjalanan kereta. Menuju ke barat tepatnya, ke sebuah kota yang begitu rimba bagi saya. Sebuah kota yang, jika saya boleh memilih, tidak saya minati untuk menjadi tempat saya untuk "pulang".

Malam ini, dalam sepenggal perjalanan saya, hujan turun dengan derasnya. Ini hujan pertama di bulan November untuk saya. Hujan ini membuat saya kembali memeras memori. Kenangan akan hal-hal yang dulu begitu menyenangkan, hingga kenangan tentang hal-hal yang hingga kini masih sulit untuk saya bicarakan. Ada alasan tertentu, pada setiap hal yang tidak terungkapkan. There are words, better unheard, better unsaid...

Seperti biasa, saya suka perjalanan kereta, karena saya bisa mengamati berbagai macam orang. Kali ini, di depan saya duduk seorang ibu muda, beserta seorang anak perempuannya yang masih balita. Tidak ada yang aneh dari kedua orang tersebut. Akan tetapi, saya melihat suatu hal yang luar biasa darinya: cinta.

Tak banyak memang yang bisa saya ceritakan, selain bahwa ibu muda itu meladeni anaknya yang sedang rewel di sepanjang perjalanan. Tapi dari situ saya menemukan cinta, dimana seorang perempuan muda mengorbankan satu bagian besar hidupnya untuk satu makhluk kecil yang pasti akan memberikan sebentuk kesedihan dan kebahagiaan yang nyata. Ia memiliki alasan dan tujuan, dan terikat dengan cintanya. Sementara saya di sini masih berlarian tak tentu arah, mencari hal-hal yang belum pasti, atau bahkan tak memiliki ujung kepastian.

Seperti hujan, yang akan kembali menjadi laut. Akankah saya menemukan hal yang sama?

Friday, September 26, 2014

Memandang Langit

Saya suka sekali memandangi langit, terutama langit sore, saat cahaya matahari telah menjadi ramah bagi mata saya. Saat itu adalah salah satu masa dimana saya bisa merasa sedikit bebas, lupa sejenak terhadap berbagai hal.

Saya suka menikmati sore dalam kesendirian, menikmati waktu yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri tanpa perlu bertemu dengan orang lain. Tapi dengan itu bukan berarti saya antisosial. Saya hanya belum menemukan "teman" yang tepat untuk mengerti akan keindahan dan kedamaian dari sudut pandang yang serupa.

"Diam itu terkadang indah, sunyi itu terkadang damai. Sendiri belum tentu berarti sepi.."

Saya sering bertanya-tanya, apakah ukuran dari kebahagian? Sementara kebahagiaan tidak selalu berarti tawa. Toh tinggal sewa pelawak saja untuk menghadirkan tawa, sementara pelawak bukan pencipta kebahagian. Lalu, saya pun merenung dan berpikir, bahwa bahkan pemenuhan tujuan manusia pun belum tentu berakhir pada kebahagiaan. Bukankah manusia terkadang terlalu tamak, sehingga akan menciptakan tujuan-tujuan lain yang lebih besar?

Maka, setelah sekian lama, saya memutuskan bahwa kebahagiaan bagi saya adalah letak dimana saya menempatkan sudut pandang pada hidup. Saya sendiri adalah "penentu" bagi kebahagiaan saya.

Sore ini, saya kembali memandangi langit, dengan matahari yang belum kehilangan keganasannya. Saya pun masih mencoba untuk memahami, kebahagiaan seperti apa yang saya inginkan...

Wednesday, September 24, 2014

Orang Itu

"Orang itu, secara tak sengaja, telah membuat saya melupakan diri saya yang sebenar-benarnya. Maka, dengan sengaja, saya kini melupakan dirinya yang sebenar-benarnya.."

Wednesday, September 17, 2014

Bebas?

Semakin lama, saya semakin kehilangan rasa percaya terhadap kebebasan. Tapi dengan itu, semakin kuat pula keinginan saya untuk mencapainya...

Friday, August 15, 2014

Rasa itu masih ada, saya belum bisa sepenuhnya ikhlas. Malam ini, saya telah menggali rindu terlalu dalam.

:(

Thursday, July 24, 2014

Ikhlas

Saya belajar bahwa ketidakikhlasan yang berkepanjangan hanya meninggalkan rasa sesak yang berlarut-larut. Keikhlasan bersifat pribadi dan hanya meninggalkan pengaruh secara sepihak, tidak berkaitan dengan pihak yang menjadi objek untuk diikhlaskan. Keikhlasan itu bersifat seperti kebahagiaan, yang menjadi tanggung jawab diri sendiri dalam perwujudannya.

Keikhlasan tak pernah meninggalkan luka.
Manusialah, yang terlalu sering melukai dirinya sendiri, tanpa disadari.

Thursday, June 12, 2014

Kabar pada Kawan

Kalau saja saya disuruh untuk menggambarkan seluruh perasaan yang saya rasakan selama beberapa waktu ini kawan, maka saya tak akan bisa dengan mudah menjawabnya. Kemarahan itu perlahan sirna, namun ingatan tak akan pernah hilang. Maka dengan begitu saya belum sepenuhnya terbebas. Saya memang tak ingin lupa, tapi saya tak ingin merasa terganggu dengan memori yang begitu membekas. Ah, manusia memang kerap saling menyakiti, walau tanpa sengaja. Namun, dengan sengaja mereka kerap saling menyalahkan...

Kawan, perbedaan itu ada bukan untuk dihakimi, kan?
Tapi rasanya masih sulit untuk menerima beberapa perbedaan. Apakah dengan itu menjadikan saya termasuk manusia yang begitu egois?
Nyatanya lebih banyak manusia yang ingin diterima perbedaannya, tanpa mau benar-benar berusaha menerima perbedaan manusia lain. Dan ada pula manusia yang ingin diterima, tapi tidak mengkondisikan dirinya untuk dapat diterima oleh orang lain. Ah, manusia itu kompleks, bukan?
Satu-satunya solusi adalah, jangan jadi manusia.

Tapi saya sudah terlanjur tercipta jadi manusia, dan saya tak menyesalinya.

P.S. Dan untuk pertama kalinya saya merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui apa-apa.

Tuesday, June 10, 2014

Farewell

"Tidak ada lagi yang tersisa bagi saya di kota mimpi, selain kenangan. Maka dalam diam saya mengucapkan selamat tinggal kepadanya."

Wednesday, June 4, 2014

Untitled

Kemarin, seorang teman (dengan sengaja) men-share ilustrasi ini ke halaman mukabuku saya. Saya jadinya nyengir lebar melihatnya. :)


Selfnote

"Terkadang seseorang menganggap orang lain berubah, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dirinyalah yang telah menjadi orang asing"

Friday, March 28, 2014

Random

ubi dubium, ibi libertas.
(Di mana ada keraguan/pertanyaan, di sana ada kebebasan.)


Mungkin seharusnya ditambahkan juga, di mana tidak ada keraguan, di sana tidak ada "kehidupan".

Friday, December 6, 2013

Untitled.

Saya pikir saya tidak akan merasa kehilangan yang begitu nyata, karena sudah sejak lama saya telah mempersiapkan diri jika waktunya telah datang.

Perpisahan.

Entah orang-orang yang pergi, atau memang saya yang meninggalkan. Toh saya memang telah memutuskan untuk pergi, mencoba mencari kehidupan baru. Saya takut terjebak pada kenangan yang hingga kini berhasil merubah sudut pandang saya. Bahkan terkadang saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri, dan saya tak suka itu. Saya merasa asing.

Saya pikir, jika saya pergi nanti saya bisa menemukan diri saya yang (sempat) hilang. Tapi, untuk memulai semuanya dari awal lagi tidaklah mudah. Bukan masalah adaptasi, tapi saya pasti akan sendirian untuk beberapa waktu.

Walau bagaimanapun, meskipun saya ingin mengenal diri saya lagi, namun saya juga tak bisa bohong bahwa saya ingin meninggalkan bagian diri saya yang lain. Manusiawi kan, jika saya ingin membuang sisi "gelap" dari diri saya. Walau saya tak tahu, dengan itu apakah saya masih bisa mengenali diri saya nanti.

Yah, saya terlalu bertele-tele rupanya.

Tiba-tiba saya merasa takut, dengan perpisahan. Karena perpisahan hampir selalu meninggalkan bekas. Siap atau tidak siap, waktu untuk berpisah semakin mendekat.

Semoga saya baik-baik saja setelahnya.

Thursday, November 28, 2013

-duapuluhsatu-

Tiba-tiba aku berkeinginan, untuk tetap berada pada pertanda waktu duapuluhsatu. Pada bagian waktu dengan tanda yang tersamar. Aku tak ingin menjadi tua, tepatnya pikiranku yang tak mengizinkan. Karena perubahan waktu memiliki konsekuensi yang menakutkan.

Aku hanya ingin tetap berada pada duapuluhsatu. Tapi sepertinya aku terus dikalahkan oleh waktu.

Friday, September 27, 2013

Blurb!

Ada seseorang yang berulang kali mengatakan pada saya bahwa blog saya jelek. Ya, blog ini memang saya buat sebagai tempat saya "nyampah", tempat saya menulis hal-hal tidak jelas sesuka hati saya. Jadi, maaf-maaf saja ya bila isinya mengecewakan :)

Salam paling manis,

H.