Beberapa waktu ini menjadi hari-hari yang membingungkan buat saya. Saya sedang punya masalah dengan beberapa teman, tepatnya saya yang merasa bermasalah. Bukan bertengkar atau semacamnya sih, hanya saja saya sedang merasa tidak nyaman. Orang-orang memang berubah, pada akhirnya. Begitu juga dengan teman-teman saya itu. Saya bukannya tidak menerima perubahan itu, tapi saya hanya kesal saja karena teman saya itu seperti keluar dari jalur mengenai hal-hal yang ia yakini, hal-hal yang ia anggap sebagai prinsipnya. Pandangan saya terhadap dia langsung berubah, ternyata dia sama saja dengan sebagian orang lainnya, terlalu banyak omong tanpa ada pembuktian. Dan hal itu yang paling membuat saya kecewa.
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki prinsip. Bagi saya, orang-orang seperti itulah yang benar-benar "hidup", karena dia punya keyakinan dan tujuan. Bukan asal hidup karena telah diberi umur. Orang yang memiliki prinsip menurut saya bukan orang yang plin-plan dan ikut-ikutan arus utama. Dia adalah sejenis orang yang memiliki arus sendiri yang menurutnya paling nyaman.
Tapi sayangnya, sekarang ini banyak sekali orang yang hanya merasa berprinsip, tanpa tahu apa-apa..
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts
Thursday, March 22, 2012
PEREMPUAN DALAM KODRATNYA
Banyak yang bilang bahwa perempuan, bagaimanapun kerasnya dia berusaha, tetap tidak akan pernah dan tidak boleh memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari laki-laki. Karena sudah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk menjadi pemimpin. Entahlah, saya tak tahu apakah statement ini muncul sebagai keegoisan laki-laki atau ketidakberdayaan perempuan.
Dulu, entah kapan mulanya, ibu saya sering menasihati saya, bahwa perempuan sekarang haruslah punya pekerjaan sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki. Karena faktanya kini jumlah laki-laki dan perempuan tidaklah imbang. Perempuan sekarang harus lebih mandiri, lebih cerdas, karena belum tentu ada laki-laki yang bertanggung jawab dan masih bisa untuk menjadi pemimpin bagi hidup seorang perempuan. Karena hidup itu tidak seperti dongeng-dongeng pengantar tidur yang selalu live happily ever after.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak harus mandiri bila memiliki suami yang mapan atau memiliki kedudukan tinggi. Namun, bagaimana bila suatu hari suami yang dianggap ideal tersebut ternyata pergi atau tak sanggup memenuhi kewajiban untuk memberikan nafkah bagi perempuan dan anak-anaknya? Bagaimana dengan laki-laki yang tak bisa memberi rasa aman bagi perempuan, haruskah seorang perempuan tetap bergantung pada laki-laki tersebut? Bahkan banyak kasus perempuan-perempuan yang diposisikan sebagai boneka bagi para laki-laki hanya karena terlalu bergantung pada laki-laki.
Bagi saya, perempuan mapan dari segi financial sangat penting untuk memberikan rasa aman. Karena bahkan zaman pun berubah, dan tidak dapat disamakan dengan dulu-dulu ketika seorang perempuan masih berlindung di balik punggung laki-laki.
Karena pencapaian yang sebenarnya adalah bukan apa yang bisa diberikan oleh orang lain, tetapi bagaimana untuk berdiri sendiri dan memberikan pada orang lain.
Sebenarnya, bukan berarti saya menyatakan bahwa perempuan harus lebih unggul dari laki-laki. Hanya saja saya tidak suka bila egoisme laki-laki membuat saya sulit untuk berkembang. Menurut saya sangat simpel sih sebenarnya, bila laki-laki tidak mau diungguli oleh perempuan, kenapa mereka tidak mencoba untuk mengembangkan dirinya sendiri? Saya hanya tidak suka dijegal dan dipaksa.
Namun terkadang saya tidak setuju dengan perempuan yang terlalu mandiri hingga merasa dirinya superior dan kehilangan rasa hormatnya pada laki-laki. Saya percaya, masih banyak laki-laki yang tidak egois dan bertanggung jawab sehingga patut untuk dihormati. Walau bagaimanapun juga, seorang perempuan butuh seorang laki-laki sebagai sosok pemimpin. Karena seluruh perempuan, butuh kepastian dan rasa aman. Karena seluruh perempuan membutuhkan sosok laki-laki yang benar-benar pantas untuk menjadi imam. Karena bagaimanapun juga, laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari perempuan.
Wednesday, February 29, 2012
YA, SAYA BERKERUDUNG
.Pic taken from here.Saya perhatikan, belakangan ini banyak perempuan yang menggunakan kerudung layaknya aksesoris belaka, yang dapat dipakai dan disimpan semau-maunya. Mereka hanya menggunakan kerudungnya di saat-saat tertentu, dan lebih sering menanggalkannya. Contohnya, banyak teman di jejaring sosial saya, yang ketika di dunia nyata sering saya lihat memakai kerudung, tiba-tiba meng-upload fotonya yang saat itu sedang tidak menggunakan kerudung. Bahkan ada teman yang menampilkan fotonya ketika dia menggunakan pakaian yang minim. Ironis, sayang sekali.
Ada teman saya yang sering menyindir teman saya yang lain yang suka buka tutup kerudungnya. Lucunya, teman saya yang sering menyindir itu tidak berkerudung. Ketika saya tanya mengapa dia sibuk menyindir orang lain sedangkan dirinya sendiri belum berkerudung, dia hanya menjawab, "Ya nanti, aku belum siap. Yang penting kan hatinya dulu yang berjilbab, bukan badannya".
Mengapa harus menunggu urusan hati terlebih dahulu, urusan yang jauh lebih besar dan kompleks. Jika memang seperti itu, maka apa artinya sebuah jilbab, sebuah kerudung? Karena bagi saya, tidak ada hati seorang pun yang benar-benar bersih dan suci. Maka, untuk mensucikan hati bisa dimulai dari hal kecil kan, memperbaiki diri dari luar, dengan berkerudung. Karena kerudung merupakan salah satu sarana proteksi diri bagi seorang perempuan. Karena kerudung, merupakan sebuah penghalang kuat dari hal-hal buruk yang mengancam seorang perempuan. Dengan tertutupnya aurat, maka saya kira seorang perempuan akan lebih mudah memahami makna dari hati yang bersih.
Namun sayang, kerudung memang telah banyak dianggap hanya sebagai aksesoris, pelengkap pakaian. Banyak perempuan berkerudung menggunakan pakaian yang menurut saya tidak sesuai dengan kerudung yang mereka kenakan. Kerudung sebagai penutup kepala, namun pakaian ketat dan warna-warni mencolok mata tetap digunakan. Bahkan banyak perempuan yang menggunakan kerudung, namun mahkota yang seharusnya tertutupi dapat terlihat bebas, tergerai dengan cantiknya. Ya, atas nama mode, fashion, maka mereka mengubah fungsi kerudung yang sebenarnya.
Bagi saya, kerudung itu tidak main-main. Berkerudung adalah suatu komitmen yang akan saya pegang selama hidup saya. Saya tidak mau menjadi perempuan tak berpendirian yang berkerudung hanya untuk mengikuti mode. Karena saya berkerudung lebih untuk menjaga hati saya.
Ya, saya berkerudung. Saya tidak peduli dengan rambut saya yang tidak tergerai bebas, dan tidak terlihat oleh orang lain. Saya tidak peduli dengan paras saya yang terlihat lebih tua dari umur saya yang sebenarnya. Saya tidak peduli dengan tubuh saya yang terlihat semakin berisi. Tetapi saya peduli, dengan terjaganya kehormatan saya sebagai seorang perempuan.
Saturday, February 18, 2012
WISATA BERFOTO
Saya orangnya suka traveling, pergi ke berbagai tempat wisata maupun non-wisata, terutama ke tempat yang belum pernah saya datangi. Semakin jauh semakin bagus, dan saya lebih suka dengan tempat yang lebih sepi dan tidak biasa. Liburan kali ini pun saya pergi ke berbagai tempat, walaupun intensitasnya tidak terlalu sering karena limitnya dana yang saya miliki. Kemarin-kemarin juga saya sempat pergi berlibur bersama keluarga saya, menghabiskan waktu berkualitas yang jarang tersedia karena memang saya jarang pulang.
Ada satu fenomena yang umum saya lihat ketika saya pergi jalan-jalan ke tempat baru, khususnya tempat wisata, yaitu budaya foto-foto. Banyak sekali orang, terutama remaja, datang ke tempat wisata dengan intensitas berfoto lebih banyak dari pada menikmati wisata itu sendiri. Lucunya, yang sering menjadi obyek foto utama adalah orangnya, bukan background wisatanya. Ada yang bilang, bahwa budaya nampang bagi masyarakat Indonesia sudah sedemikian kuatnya.
Yah, jujur saja, saya juga sudah sedikit terpengaruh dengan budaya nampang itu, terkadang bila mood saya sedang bagus, saya sering berfoto di tempat wisata.
Bila dibandingkan dengan bangsa lain, cara menikmati liburan antara orang Indonesia dengan bangsa lain itu dapat dikatakan berbeda. Menurut perhitungan saya pribadi, cara berwisata orang Indonesia adalah 25% wisata, 75% foto-foto, sedangkan bangsa lain 75% wisata, 25% foto-foto, itupun yang sering di foto adalah obyek wisatanya, bukan orangnya.
Budaya nampang ini kemudian biasanya dilanjutkan dengan meng-upload foto-foto liburan tersebut ke jejaring sosial. Bilangnya sih foto-foto itu adalah salah satu kenang-kenang wisata mereka. Tetapi menurut saya, hal tersebut malah bisa dibilang pamer. Ya, selain budaya nampang, kebanyakan orang Indonesia juga dikenal dengan budaya pamernya.
Haha, lucu ya. Saya seperti membicarakan diri sendiri. Ya saya akui, saya juga terkadang begitu, foto-foto dan kemudian meng-uploadnya di jejaring sosial, walaupun intensitasnya bisa dibilang jarang. Ada perasaan bahwa saya ingin dilihat orang lain. Mungkin orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut juga ingin dirinya dilihat oleh orang lain, dan merasa dirinya semakin keren dengan banyaknya foto ketika berwisata.
Lebih lucunya lagi, terkadang banyak orang yang tidak peduli dengan background tempat yang bisa dibilang "nggak bagus-bagus amat". Bagi mereka, yang penting adalah foto-foto, dengan obyek utama adalah diri mereka sendiri, jadi masa bodo dengan background yang jelek. Contohnya, saya pernah melihat orang-orang heboh berfoto di sebuah warung pinggir pantai yang menurut saya jelek dan kotor.
Ada juga orang yang sadar dengan pentingnya background yang bagus. Kapan waktu saya pernah pergi ke puncak dengan teman saya. Nah, teman saya itu mengajak temannya. Di sini lucunya, ketika temannya teman saya itu ribut minta pinjam hape dan kunci mobil, kemudian dia sibuk bernarsis-narsis ria di depan dan di dalam mobil teman saya yang diparkir di dekat kebun teh. Setelah itu, foto-fotonya tersebut saya lihat langsung di-upload di jejaring sosial dan dibuat seolah-olah mobil teman saya itu adalah mobil miliknya. Yah, namanya juga ingin nampang dan pamer.
Sepertinya di Indonesia yang menjadi obyek wisata terbesar adalah obyek foto-foto ya. Sayang sekali, padahal banyak obyek yang lebih bagus untuk difoto, dibandingkan dengan obyek diri sendiri. Tidak sadarkah bahwa ketika mereka meng-upload foto tersebut di dunia maya, akan terjadi kecemburuan sosial yang dapat berakibat buruk bagi kehidupan di dunia nyata. Ya, saya berkata seperti itu karena saya sudah pernah merasakan, bagaimana sebuah kecemburuan dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosial.
Ada satu fenomena yang umum saya lihat ketika saya pergi jalan-jalan ke tempat baru, khususnya tempat wisata, yaitu budaya foto-foto. Banyak sekali orang, terutama remaja, datang ke tempat wisata dengan intensitas berfoto lebih banyak dari pada menikmati wisata itu sendiri. Lucunya, yang sering menjadi obyek foto utama adalah orangnya, bukan background wisatanya. Ada yang bilang, bahwa budaya nampang bagi masyarakat Indonesia sudah sedemikian kuatnya.
Yah, jujur saja, saya juga sudah sedikit terpengaruh dengan budaya nampang itu, terkadang bila mood saya sedang bagus, saya sering berfoto di tempat wisata.
Bila dibandingkan dengan bangsa lain, cara menikmati liburan antara orang Indonesia dengan bangsa lain itu dapat dikatakan berbeda. Menurut perhitungan saya pribadi, cara berwisata orang Indonesia adalah 25% wisata, 75% foto-foto, sedangkan bangsa lain 75% wisata, 25% foto-foto, itupun yang sering di foto adalah obyek wisatanya, bukan orangnya.
Budaya nampang ini kemudian biasanya dilanjutkan dengan meng-upload foto-foto liburan tersebut ke jejaring sosial. Bilangnya sih foto-foto itu adalah salah satu kenang-kenang wisata mereka. Tetapi menurut saya, hal tersebut malah bisa dibilang pamer. Ya, selain budaya nampang, kebanyakan orang Indonesia juga dikenal dengan budaya pamernya.
Haha, lucu ya. Saya seperti membicarakan diri sendiri. Ya saya akui, saya juga terkadang begitu, foto-foto dan kemudian meng-uploadnya di jejaring sosial, walaupun intensitasnya bisa dibilang jarang. Ada perasaan bahwa saya ingin dilihat orang lain. Mungkin orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut juga ingin dirinya dilihat oleh orang lain, dan merasa dirinya semakin keren dengan banyaknya foto ketika berwisata.
Lebih lucunya lagi, terkadang banyak orang yang tidak peduli dengan background tempat yang bisa dibilang "nggak bagus-bagus amat". Bagi mereka, yang penting adalah foto-foto, dengan obyek utama adalah diri mereka sendiri, jadi masa bodo dengan background yang jelek. Contohnya, saya pernah melihat orang-orang heboh berfoto di sebuah warung pinggir pantai yang menurut saya jelek dan kotor.
Ada juga orang yang sadar dengan pentingnya background yang bagus. Kapan waktu saya pernah pergi ke puncak dengan teman saya. Nah, teman saya itu mengajak temannya. Di sini lucunya, ketika temannya teman saya itu ribut minta pinjam hape dan kunci mobil, kemudian dia sibuk bernarsis-narsis ria di depan dan di dalam mobil teman saya yang diparkir di dekat kebun teh. Setelah itu, foto-fotonya tersebut saya lihat langsung di-upload di jejaring sosial dan dibuat seolah-olah mobil teman saya itu adalah mobil miliknya. Yah, namanya juga ingin nampang dan pamer.
Sepertinya di Indonesia yang menjadi obyek wisata terbesar adalah obyek foto-foto ya. Sayang sekali, padahal banyak obyek yang lebih bagus untuk difoto, dibandingkan dengan obyek diri sendiri. Tidak sadarkah bahwa ketika mereka meng-upload foto tersebut di dunia maya, akan terjadi kecemburuan sosial yang dapat berakibat buruk bagi kehidupan di dunia nyata. Ya, saya berkata seperti itu karena saya sudah pernah merasakan, bagaimana sebuah kecemburuan dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosial.
Friday, January 27, 2012
KOTAK HITAM
Ada sebuah kotak hitam yang langsung menarik perhatian saya ketika saya membuka pintu rumah untuk pertama kalinya pada tahun ini. Bahkan ketika pertama kali saya melihatnya, bibir saya secara tak sengaja menyelipkan sebuah decak emosi. Kotak hitam itu terletak di tengah-tengah rumah saya, agak merapat ke dinding yang masih mengkilat oleh cat baru. Secara halus saya meraba kotak hitam tersebut, membelainya dengan mesra seolah-olah ia adalah sebuah adikarya dari seorang seniman hebat. Ya, bagiku saat itu ia adalah sebuah adikarya.
Dan kotak hitam nan seksi itu adalah sebuah televisi.
Ok, saya terlalu berlebihan. Kenyataannya saya tidak se-lebay itu kok saat melihat televisi di ruang keluarga rumah saya. Tetapi walau bagaimanapun juga saya sempat senang, karena sudah lebih dari 2 bulan saya tidak ketemu TV. Entah siapa yang tega menuangkan gula-gula dalam TV saya yang ada di kost, sehingga TV saya dipenuhi semut-semut hitam putih.
Saya bukan tipe orang yang suka nonton TV, apalagi sampai ketergantungan. Bahkan sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan rusaknya TV kecil saya di kost. Untuk hiburan, saya lebih suka membaca buku, main internet, atau pergi ke luar. Bagi saya, kost adalah sebuah tempat singgah dan tempat untuk beristirahat. Bisa dibilang saya baru ada di kost paling cepat saat waktu maghrib tiba. Bahkan terkadang saya baru pulang diatas jam 8 malam. Walaupun saya sering pulang agak malam, bukan berarti saya tipe perempuan yang sering main-main dan bersenang-senang. Saya lebih suka menghabiskan waktu saya di tempat lain selain di kost saya, karena ketika saya berada di kost, saya merasa menjadi orang yang useless, karena kerjaan saya terkadang hanya berkisar antara main internet, nonton film di laptop, atau membaca buku yang sudah pernah saya baca. Dari pada begitu, lebih baik saya keluar dan melakukan sesuatu yang lebih berguna kan.
Ok, back to topic. Mengenai TV, walaupun saya tidak merasa ada masalah dengan rusaknya TV saya, tetapi saya agak merasa terganggu juga karena tidak bisa melakukan ritual pagi dan malam saya, yaitu menonton berita. Saya jadi merasa paling terbelakang ketika teman-teman saya mulai membicarakan berita tadi malam, sedangkan saya terlalu sibuk bertanya ada apa. Satu-satunya akses berita yang saya miliki adalah melalui internet, sementara untuk melihat berita di koran agak sulit, dengan terbatasnya dana hidup saya di tanah rantau.
Sekarang di rumah, saya bebas untuk menonton TV sesuka hati saya. Ternyata sudah agak banyak perubahan ya. Banyak artis-artis pendatang baru, hingga menjamurnya girlband-boyband yang meniru-niru gaya korea, serta munculnya berbagai acara TV yang (masih) tidak menarik perhatian saya. Bagaimana saya bisa tertarik, kalau acara TV banyak diisi oleh materi-materi yang tidak mendidik. Terkadang malah saya merasa menjadi orang bodoh ketika menonton acara TV yang "membodohi". Apalagi ketika melihat tingkah laku para artis yang semakin hari kian aneh dan menjadi-jadi, padahal mereka adalah role model bagi banyak orang. Yah kalau begitu, tidak aneh kan bila zaman sekarang banyak orang yang aneh-aneh.
Saya semakin miris dengan banyaknya acara TV yang tidak mendidik bagi generasi baru Indonesia (sebut saja mereka anak-anak). Menurut saya (dan saya kira akan banyak teman-teman seangkatan saya yang setuju), masa kecil paling bahagia adalah masa-masa saya, pada tahun 90-an. Ketika itu acara TV masih ter-filter dengan baik, serta banyak acara mendidik yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Dan saya masih ingat kelebihan TV zaman dulu, banyak lagu-lagu yang memang dikhususkan untuk anak kecil. Ya, masa-masa kecil generasi saya memang masa anak kecil yang paling membahagiakan.
Wednesday, December 21, 2011
TENTANG KOMENTAR
Saya sedang ingin memberikan komentar (atau tepatnya memberikan penjelasan) terhadap komen beberapa orang yang (mungkin) agak tersindir atau tidak suka dengan tulisan saya yang berjudul BBB. Tulisan ini berisi komentar saya mengenai trend Blacberry dan behel. Di tulisan tersebut saya mengungkapkan bahwa saya agak tidak suka dengan orang yang terpengaruh oleh trend BBB.
Pada awalnya saya membuat blog ini hanya untuk konsumsi pribadi, yang isinya adalah curahan hati dan keseharian saya, beserta seluruh opini yang berkecamuk di kepala saya. Saya tidak terlalu peduli bila ada beberapa orang yang kebetulan mampir ke blog ini dan membaca isinya. Setiap orang punya pendapat bukan? Dan saya kira tidak apa-apa saya menuliskan opini saya selama saya tidak teran-terangan menjatuhkan satu pihak. Tetapi ternyata ada juga beberapa orang termasuk teman-teman saya yang berkeberatan dengan isi tulisan saya.
Ok, di sini saya bukan mau membela diri. Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa dalam tulisan BBB itu saya tidak bertujuan untuk menjelek-jelekan satu pihak, terutama para user BBB. Saya hanya mengomentari tingkah laku beberapa orang, yang menurut saya agak berlebihan. Saya hanya bingung dengan orang-orang yang mau melakukan apa saja demi trend. Apakah hedonisme sudah menjadi budaya di Indonesia?
Mungkin salah saya juga. Ini internet, di mana setiap orang bisa mengaksesnya. Ah, sekali lagi saya merasa terkekang untuk menyuarakan pendapat saya. Walaupun begitu, maafkan saya ya bila ada perkataan saya yang salah dan tidak sengaja menyinggung.
P.S. Sebetulnya saya ingin berteriak, ini blog saya, terserah saya mau menulis apa. Tetapi tidak baik juga kan bila saya menambah musuh hanya karena hal seperti ini.
Pada awalnya saya membuat blog ini hanya untuk konsumsi pribadi, yang isinya adalah curahan hati dan keseharian saya, beserta seluruh opini yang berkecamuk di kepala saya. Saya tidak terlalu peduli bila ada beberapa orang yang kebetulan mampir ke blog ini dan membaca isinya. Setiap orang punya pendapat bukan? Dan saya kira tidak apa-apa saya menuliskan opini saya selama saya tidak teran-terangan menjatuhkan satu pihak. Tetapi ternyata ada juga beberapa orang termasuk teman-teman saya yang berkeberatan dengan isi tulisan saya.
Ok, di sini saya bukan mau membela diri. Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa dalam tulisan BBB itu saya tidak bertujuan untuk menjelek-jelekan satu pihak, terutama para user BBB. Saya hanya mengomentari tingkah laku beberapa orang, yang menurut saya agak berlebihan. Saya hanya bingung dengan orang-orang yang mau melakukan apa saja demi trend. Apakah hedonisme sudah menjadi budaya di Indonesia?
Mungkin salah saya juga. Ini internet, di mana setiap orang bisa mengaksesnya. Ah, sekali lagi saya merasa terkekang untuk menyuarakan pendapat saya. Walaupun begitu, maafkan saya ya bila ada perkataan saya yang salah dan tidak sengaja menyinggung.
P.S. Sebetulnya saya ingin berteriak, ini blog saya, terserah saya mau menulis apa. Tetapi tidak baik juga kan bila saya menambah musuh hanya karena hal seperti ini.
Thursday, November 24, 2011
HATI YANG TERBOLAK-BALIK
Mungkin saya masih terlalu banyak bermimpi ya. Saya yang begitu terpengaruh dengan dunia imaji dalam film dan buku-buku yang saya temukan. Dunia terlihat sempurna bila dilihat dari balik cermin, hingga saya lupa bahwa dunia asli tidak selalu sama dengan yang diharapkan.
Dunia yang terlalu sempurna membuat saya kesulitan untuk menjejak, terlalu terbuai dengan janji-janji kosong. Ah, baru semalam saya terbolak-balik dengan urusan cinta, sampai tadi saya diterpa kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki tidaklah sama.
Urusan hati adalah suatu hal yang sangat sakral bagi seorang perempuan. Tetapi begitukah juga dengan laki-laki? Sementara ketika saya tadi sengaja bertanya pada seorang teman laki-laki, saya mendapat jawaban, yang jujur saja, cukup membuat saya tertegun lama.
Begitu rendahnyakah perempuan di mata laki-laki, ketika penilaian hanya dijatuhkan berdasarkan faktor fisik belaka . . .
Saya jadi teringat dengan perkataan teman saya,
Dunia yang terlalu sempurna membuat saya kesulitan untuk menjejak, terlalu terbuai dengan janji-janji kosong. Ah, baru semalam saya terbolak-balik dengan urusan cinta, sampai tadi saya diterpa kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki tidaklah sama.
Urusan hati adalah suatu hal yang sangat sakral bagi seorang perempuan. Tetapi begitukah juga dengan laki-laki? Sementara ketika saya tadi sengaja bertanya pada seorang teman laki-laki, saya mendapat jawaban, yang jujur saja, cukup membuat saya tertegun lama.
"Laki-laki itu terkadang tidak begitu peduli dengan hati atau kebaikan yang tersimpan dalam diri seorang perempuan. Mereka lebih peduli pada faktor fisik, tentang apa yang bisa mereka lihat secara kasat mata . . . "Benarkah begitu?
Begitu rendahnyakah perempuan di mata laki-laki, ketika penilaian hanya dijatuhkan berdasarkan faktor fisik belaka . . .
Saya jadi teringat dengan perkataan teman saya,
"Na, dari pada kamu bingung dengan masa depan, mending kita buka salon kecantikan yuk? Perempuan-perempuan di masa depan nanti pasti akan menghabiskan sebagian besar waktunya demi perawatan kecantikan. Masjid-masjid akan sepi, karena para laki-lakinya pun akan sibuk memilih-milih perempuan dengan kadar kecantikan yang tinggi."Padahal kecantikan itu hanya sebuah topeng yang pandai menipu. Ah, ini hanya pandangan subjektif saja . . .
Sunday, September 25, 2011
BBB
BlackBerry + Behel.
Sepertinya sudah lama menjadi trend ya. Di daerah saya dulu, BBB sudah lama menjadi trend, bahkan sepertinya semenjak saya masih duduk di bangku SMA (saya angkatan 2009). Tetapi anehnya, di tempat saya sekarang malah baru ramai, haduh!
Saya bukannya suka dengan trend semacam itu. Terkadang sebal malah. Demi mengikuti trend, kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang sering disebut-sebut orang ababil, rela berbuat apa saja. Ya, tidak semuanya ababil sih. Ada juga orang yang kepribadiannya saya nilai sudah dewasa, tetapi ternyata terpengaruh juga. Budaya "nampang" di Indonesia ini ternyata sudah begitu mengakar kuat ya.
Tidak usah jauh-jauh, contohnya sebagian dari teman saya. Dia begitu ingin nampangnya, sehingga apapun yang sedang menjadi trend, akan dia usahakan untuk diikuti. Trend BB, dia juga ikut-ikutan dengan cara usaha mengumpulkan uang. Dari meminta kepada orang tua, menabung, hingga ikut beasiswa. Ketika BB sudah di tangan, dia pun asik dengan dunianya sendiri, seakan dunia hanya milik dia dan BB-nya.
Sebenarnya bukan masalah bagi saya jika teman saya suka mengikuti trend semacam itu. Tetapi saya sebal, jika trend tersebut membawa pengaruh buruk. Contohnya, saat kuliah, seringkali terdengan bunyi atau getar BBM yang masuk. Perhatian teman saya pun 70% tercurah pada BB-nya. Suara dan getar BB itu sering mengganggu saya dan mahasiswa lain yang datang ke kampus dengan niat untuk kuliah, bukan cuma sekedar nyetor muka saja. Kasihan juga kan dosennya, yang sudah ngomong panjang lebar tetapi tidak didengarkan. Kebanyakan pikiran mereka, kuliah yang penting absen, jadi bisa ikut ujian. Toh, ujian bisa mencontek. Hah, apa jadinya bangsa ini, jika penerusnya saja punya kebiasaan berbuat curang. Tak heran para koruptor di negeri ini sulit diberantas, karena sudah terlanjur menjadi budaya.
Rata-rata para pengguna BB menggunakan BB untuk meningkatkan status sosial mereka. Tetapi anehnya, bila di sms, selalu susah untuk dibalas. Saya saja kadang kesal sendiri karena sms saya jarang dibalas. Setelah saya tanyakan, ternyata mereka sayang untuk mengeluarkan pulsa, mending pulsanya buat BBMan. Ya ampun, katanya punya uang, katanya ingin status sosialnya dipandang tinggi, tetapi untuk menjawab sms saja pelitnya bukan main. Susah ya beli pulsa? Oh iya saya lupa, kan uangnya sedang dihemat ya, untuk membeli barang satu lagi yang sedang menjadi trend. Ya, apalagi kalau bukan Behel.
Saya heran, apa bagusnya sih behel. Bukannya fungsi utamanya untuk merapikan gigi ya. Maaf ya, bukan menjelek-jelekan, tetapi saya lihat para pengguna behel yang "maksa" itu bukannya semakin cantik, tetapi malah semakin aneh dengan bibirnya yang semakin maju. Ya, itulah kekuatan trend, sesuatu yang aneh pun bisa menjadi incaran siapa saja. Ini pendapat saya sendiri lho. Mungkin di luar sana banyak orang yang menganggap behel keren, khususnya para pengikut trend.
Sebagai contoh, teman saya lagi deh. Dia mati-matian menabung supaya bisa membeli behel. Setiap jalan-jalan, dia sering mupeng melihat orang-orang yang memakai behel. Kata dia sih behel bagus, karena warna-warni. Ya, anggap saja sebagai perhiasan gigi. Menurut saya, behel itu tidak bagus bila dipakai oleh orang bergigi sehat dan rata. Fungsi utama behel kan untuk memperbaiki gigi. Saya malah heran, kok banyak orang yang mau ya memakai behel, bukannya itu sakit? Malah katanya terkadang gigi sehat harus ada yang dicabut, dan bila sial, ada juga yang harus dioperasi. Ya ampun, saya sih tidak mau.
Ya, saya bukan mendiskreditkan BB dan Behel. Saya hanya tidak suka dengan tingkah laku orang-orang yang terlalu fanatik dengan kedua barang mahal ini. Mengikuti trend sah-sah saja, tetapi tidak usah berlebihan juga kan.
Sepertinya sudah lama menjadi trend ya. Di daerah saya dulu, BBB sudah lama menjadi trend, bahkan sepertinya semenjak saya masih duduk di bangku SMA (saya angkatan 2009). Tetapi anehnya, di tempat saya sekarang malah baru ramai, haduh!
Saya bukannya suka dengan trend semacam itu. Terkadang sebal malah. Demi mengikuti trend, kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang sering disebut-sebut orang ababil, rela berbuat apa saja. Ya, tidak semuanya ababil sih. Ada juga orang yang kepribadiannya saya nilai sudah dewasa, tetapi ternyata terpengaruh juga. Budaya "nampang" di Indonesia ini ternyata sudah begitu mengakar kuat ya.
Tidak usah jauh-jauh, contohnya sebagian dari teman saya. Dia begitu ingin nampangnya, sehingga apapun yang sedang menjadi trend, akan dia usahakan untuk diikuti. Trend BB, dia juga ikut-ikutan dengan cara usaha mengumpulkan uang. Dari meminta kepada orang tua, menabung, hingga ikut beasiswa. Ketika BB sudah di tangan, dia pun asik dengan dunianya sendiri, seakan dunia hanya milik dia dan BB-nya.
Sebenarnya bukan masalah bagi saya jika teman saya suka mengikuti trend semacam itu. Tetapi saya sebal, jika trend tersebut membawa pengaruh buruk. Contohnya, saat kuliah, seringkali terdengan bunyi atau getar BBM yang masuk. Perhatian teman saya pun 70% tercurah pada BB-nya. Suara dan getar BB itu sering mengganggu saya dan mahasiswa lain yang datang ke kampus dengan niat untuk kuliah, bukan cuma sekedar nyetor muka saja. Kasihan juga kan dosennya, yang sudah ngomong panjang lebar tetapi tidak didengarkan. Kebanyakan pikiran mereka, kuliah yang penting absen, jadi bisa ikut ujian. Toh, ujian bisa mencontek. Hah, apa jadinya bangsa ini, jika penerusnya saja punya kebiasaan berbuat curang. Tak heran para koruptor di negeri ini sulit diberantas, karena sudah terlanjur menjadi budaya.
Rata-rata para pengguna BB menggunakan BB untuk meningkatkan status sosial mereka. Tetapi anehnya, bila di sms, selalu susah untuk dibalas. Saya saja kadang kesal sendiri karena sms saya jarang dibalas. Setelah saya tanyakan, ternyata mereka sayang untuk mengeluarkan pulsa, mending pulsanya buat BBMan. Ya ampun, katanya punya uang, katanya ingin status sosialnya dipandang tinggi, tetapi untuk menjawab sms saja pelitnya bukan main. Susah ya beli pulsa? Oh iya saya lupa, kan uangnya sedang dihemat ya, untuk membeli barang satu lagi yang sedang menjadi trend. Ya, apalagi kalau bukan Behel.
Saya heran, apa bagusnya sih behel. Bukannya fungsi utamanya untuk merapikan gigi ya. Maaf ya, bukan menjelek-jelekan, tetapi saya lihat para pengguna behel yang "maksa" itu bukannya semakin cantik, tetapi malah semakin aneh dengan bibirnya yang semakin maju. Ya, itulah kekuatan trend, sesuatu yang aneh pun bisa menjadi incaran siapa saja. Ini pendapat saya sendiri lho. Mungkin di luar sana banyak orang yang menganggap behel keren, khususnya para pengikut trend.
Sebagai contoh, teman saya lagi deh. Dia mati-matian menabung supaya bisa membeli behel. Setiap jalan-jalan, dia sering mupeng melihat orang-orang yang memakai behel. Kata dia sih behel bagus, karena warna-warni. Ya, anggap saja sebagai perhiasan gigi. Menurut saya, behel itu tidak bagus bila dipakai oleh orang bergigi sehat dan rata. Fungsi utama behel kan untuk memperbaiki gigi. Saya malah heran, kok banyak orang yang mau ya memakai behel, bukannya itu sakit? Malah katanya terkadang gigi sehat harus ada yang dicabut, dan bila sial, ada juga yang harus dioperasi. Ya ampun, saya sih tidak mau.
Ya, saya bukan mendiskreditkan BB dan Behel. Saya hanya tidak suka dengan tingkah laku orang-orang yang terlalu fanatik dengan kedua barang mahal ini. Mengikuti trend sah-sah saja, tetapi tidak usah berlebihan juga kan.
Subscribe to:
Posts (Atom)