Showing posts with label flashback. Show all posts
Showing posts with label flashback. Show all posts

Tuesday, August 12, 2014

Dua Tahun

Dua Tahun!
Dua tahun itu telah berlalu begitu cepat, hingga saya sempat tak percaya sudah mencapai fase kehidupan yang lain. Tepat dua tahun lalu saya sedang menjalani program KKN, serta masih terikat kontrak SKS pada perkuliahan saya. Dan dua tahun lalu saya mengalami berbagai rasa yang berujung menyakiti saya, namun tak pernah saya sesali keberadaannya. Hey, rasa sakit memang bagian dari manusia bukan? Itu alamiah untuk dirasakan.

Sore ini saya begitu rindu pada masa lingkup dua tahun saya, pada masa-masa awal umur kepala dua saya. Semakin tua manusia, waktu memang akan terasa semakin cepat. Seperti kemarin rasanya, ketika saya dibebankan dengan satu bentuk tanggung jawab yang telah hampir satu tahun lalu telah saya tuntaskan. Sebentuk tanggung jawab yang telah menghancurkan dan membentuk diri saya. Ah, kehancuran dan kebangkitan hanyalah proses bagi manusia.

Apakah saya bahagia?
Entahlah. Saya tak ingin sok tahu definisi kebahagian itu seperti apa. Jujur saja, kejadian yang saya alami selama kurun waktu dua tahun ini telah meninggalkan kekosongan yang pekat pada satu bagian dari diri saya. Tapi, saya sekarang jauh lebih tenang daripada sebelum-sebelumnya. Saya lebih mampu mengendalikan diri, walaupun emosi belum sepenuhnya mampu saya bendung. Saya menganggap bahwa kejadian selama dua tahun ini merupakan bagian dari ujian saya pada masa awal menuju usia seperempat abad (yang untungnya, masih 2-3 tahun lagi). Sayangnya, saya merasa belum sepenuhnya menang terhadap ujian tersebut.

Saya tak tahu apa yang akan terjadi pada dua tahun yang akan datang. Apakah saya akan diberi ujian berupa kesedihan, atau malah kebahagian yang membuat saya "mabuk". Saya ingin dapat melewati dua tahun mendatang dengan rasa lapang.

There're so many if's ...
Tapi, saya punya Tuhan sebagai tempat untuk meminta.
Semoga duatahun-duatahun berikutnya, saya semakin baik-baik saja.

Sunday, June 10, 2012

THE TIME IS PASSING BY SO FAST, ISN'T IT?


 .Pic taken from here.


Apa yang tak berkaki namun mampu berlari sangat cepat tanpa terkejar? 
Itulah dia, waktu.

Terkadang saya lupa bahwa saya sudah mencapai "kepala dua". Rasanya baru kemarin, saya berumur sepuluh tahun, dengan rambut terkepang dan suka bermain lompat tali. Rasanya baru kemarin ibu saya datang ke sekolah untuk mengambil ijazah SD saya, mengambil rapor SMP dan membuatkan kebaya untuk wisuda SMA saya. Rasanya juga baru kemarin saya pertama kali memutuskan untuk pergi menuntut ilmu dan menuntut jawaban ke kota mimpi. Ah, saya telah tertipu oleh kecepatan waktu.

Di usia baru saya yang sudah memiliki embel-embel puluhan, saya pikir saya telah tumbuh semakin besar dan dewasa dengan cara saya sendiri. Namun terkadang, saya merasa di beberapa sisi saya mengalami stagnansi pertumbuhan, baik tubuh maupun perilaku. Sebagai contoh, kayaknya pertumbuhan tinggi badan saya tidak mengalami kemajuan semenjak saya SMP deh. Saya harus terima kenyataan bahwa saya (mungkin) ditakdirkan untuk memiliki tubuh pendek, bahkan terpendek di keluarga kecil saya. Padahal sejak kecil saya sudah melakukan banyak usaha dengan sering loncat-loncat, rajin berenang setiap minggu, minum susu untuk pertumbuhan, dan minum berbagai macam jus sayuran yang sampai sekarang untuk mengingatnya saja sudah bikin saya enek dan pingin muntah. Makanya saya berani bilang bahwa memang sepertinya sudah menjadi takdir saya untuk bertubuh pendek, sedihnya . . .

Wednesday, May 23, 2012

KUNCI DAN MEMORI

Semenjak kecil, saya sangat mencintai tulisan. Tulisan apa pun akan saya baca hingga tuntas. Saya masih ingat dengan buku pertama saya, yang bahkan daftar isinya saja pun saya baca dan saya renungi dalam-dalam walaupun saya belum mengerti benar apa maksud dari banyaknya tanda titik yang memanjang dari kiri ke kanan. Dulu buku-buku "koleksi" saya banyak yang rusak dan tidak utuh lagi, karena terlalu sering saya baca. "Koleksi" buku saya yang tidak seberapa itu ternyata tidak mampu memuaskan rasa penasaran saya akan tulisan.

Bagi saya, tulisan itu adalah kunci dan memori, sebagai penjelasan akan apa-apa yang tidak saya ketahui, sehingga dapat memuaskan rasa keingintahuan saya. Rasa suka saya terhadap tulisan yang tertuang dalam bentuk buku pun melebihi rasa suka saya terhadap uang, makanan, bahkan mainan. Saya ingat ketika saya SD dulu, saya adalah satu-satunya pengunjung setia perpustakaan di sekolah. Hampir di setiap waktu istirahat saya pergi ke perpustakaan sekolah yang hampir tidak pernah dijaga, walaupun perpustakaan sekolah ini memiliki koleksi buku yang tergolong banyak untuk ukuran sekolah di pinggiran kota. Bahkan terkadang saya meminjam beberapa koleksi buku dari perpustakaan tanpa izin, karena memang tidak ada yang menjaga.

Saking sukanya dengan tulisan, ketika masa-masa SD itu saya sudah berlangganan majalah mingguan yang saya bayar sendiri, dengan harga satu majalah yang hampir mencapai setengah dari uang saku saya selama seminggu. Saya pun sering diajak oleh ibu saya ke perpustakaan sekolah tempatnya mengajar. Di tempat itulah saya mulai mengenal buku-buku dan majalah sastra. Saya sangat menyukai kata-kata kiasan yang "indah" dan "misterius" dalam berbagai tulisan sastra, walaupun saya tidak mengerti apa makna dibalik kata-kata tersebut. Dan cita-cita serius pertama saya pun muncul: menjadi seorang penulis.

Saat saya memasuki jenjang SMP dan SMA, saya menghabiskan sebagian besar uang saku bulanan saya yang tak seberapa untuk menyewa banyak buku. Bahkan selama beberapa tahun saya sempat dijuluki bandar novel oleh teman-teman saya, karena saya selalu membawa novel kemana pun saya pergi. Saat itu saya tahu berbagai macam novel populer maupun nonpopuler, dari kelas ecek-ecek hingga yang memiliki nilai sastra tinggi. Cita-cita saya pun bertambah, selain menjadi penulis, saya pun ingin menjadi editor dan penerjemah buku. Alasannya, karena saya ingin menjadi orang yang paling pertama membaca tulisan orang lain. Ya, saat itu rasa haus saya akan tulisan dan buku sangatlah besar.

Sayangnya, passion saya ini mulai memudar ketika saya memasuki jenjang perkuliahan. Pada awalnya, cita-cita saya untuk menjadi penulis kurang disetujui oleh orang tua saya. Mereka menganggap bahwa menulis tidak dapat dijadikan sebuah pekerjaan dan tidak menjanjikan. Bahkan keinginan saya untuk masuk sastra pun terkesan ditentang, hingga akhirnya sekarang saya masuk ke jurusan yang saya pilih sendiri dan disetujui oleh orang tua saya, walaupun dengan agak terpaksa. Memang, sedari dulu orang tua saya telah mengarahkan saya ke beberapa jurusan yang menurut mereka baik. Namun ternyata saya tidak berjodoh dengan jurusan-jurusan pilihan mereka. Maka di sinilah saya, melanjutkan studi di sebuah jurusan bercorak ilmu sosial, yang berdampingan dengan jurusan sastra.

Jujur, saya iri dengan beberapa teman saya yang menggeluti bidang sastra. Saya yang hanya memiliki kemampuan pas-pasan dalam menulis dan tidak memiliki banyak ilmu pun kagum dengan beberapa teman saya yang sanggup membuat berbagai tulisan apik nan manis. Saya sering iri dengan mereka-mereka yang mempelajari sastra secara mendalam. Selama ini, waktu saya lebih banyak dihabiskan untuk membaca dibandingkan menulis. Ya, mungkin saya memang hanya masuk ke dalam golongan penikmat hasil karya sastra, bukan pencipta karya sastra.

Friday, April 27, 2012

PERJALANAN KERETA

 .Pic taken from random googling.

Tiba-tiba hari ini saya rindu naik kereta api. Kereta api kelas ekonomi, bukan bisnis maupun eksekutif. Bukan kenyamanan yang saya cari, tetapi pengalaman. Pengalaman berkipas-kipas kepanasan sembari melihat orang-orang dengan berbagai jenis karakter yang tak selalu sama. Bahkan dulu, ketika kereta api ekonomi tak senyaman sekarang (dengan tempat duduk untuk masing-masing orang), selalu saja ada pegalaman baru yang terkadang terasa mengesalkan, namun menjadi lucu ketika diingat-ingat kembali.

Dulu sewaktu saya kecil, saya sering naik kereta api, terutama kala waktu mudik tiba. Saya masih ingat, ketika dulu para penumpang masih duduk bertumpah ruah di kursi dan lorong kereta, bahkan hingga ke dalam toilet yang selalu berbau pesing. Berdesak-desakan dengan terpaksa bersama para pedagang, pengamen, bahkan pengemis yang setiap hari menaruh harapan pada gerbong-gerbong kereta.

Pada tahun-tahun pertama saya di tanah rantau, saya kembali menumpang kereta, seolah-olah menelusuri jejak masa kecil saya yang sempat tertinggal sepanjang alur rel. Saya pergi ke arah timur, menjauhi kota mimpi yang tertinggal di ujung rel yang tertelan rob. Saat itu saya hanya mendapat tiket berdiri. Inilah sulitnya untuk tinggal di kota yang hanya menjadi tempat singgah. Berada di tengah, tidak mengawali atau menjadi akhir dari tujuan. Tiket berdiri itu ternyata hanya mengizinkan saya untuk duduk bersandar di lorong. Dengan beralas koran bekas dan memeluk ransel, sembari berdoa agar tidak terinjak oleh penumpang lain.

Kereta, salah satu kendaraan yang tak pernah membuat saya mual karena mabuk. Mungkin karena saya terlalu sibuk mengejar bayangan matahari yang terbias dalam retakan jendela kusam.

Bagian favorit saya adalah ketika kereta melewati kelokan tajam, terowongan, dan jembatan panjang. Saya ingat dulu ketika saya kecil, saya suka sekali berdiri dan menjulurkan kepala ke luar jendela, sembari mengawasi kepala kereta yang berbelok. Kala itu angin menderu-deru di telinga saya, terasa menakjubkan. Atau ketika kereta melewati sungai lebar, memadukan kecepatan dengan cahaya matahari yang terpantul pada permukaan air. Cantik.

Kereta ekonomi adalah kereta yang dikalahkan. Kereta tanpa waktu perjalanan pasti. Saya ingat betapa dulu dengan mudahnya saya dibohongi oleh orang tua saya, ketika saya protes saat kereta tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mereka bilang, ban kereta sedang bocor, jadi saya harus bersabar untuk menunggu petugas menambal ban. Dan dengan lugunya saya menelan mentah-mentah omongan tersebut.
Ah, saya rindu moment itu.

Kereta ekonomi ini membawa saya ke sisi lain kehidupan yang lebih nyata. Ia memberikan pemahaman tersendiri akan hidup. Kereta inilah yang menjadi saksi keberanian saya saat sengaja meninggalkan kota mimpi, melawan rasa takut akan ketidakmandirian saya. Bahkan mengajarkan saya lebih ketika akhir perjalanan kereta ini mengantar saya untuk setengah terlelap di kursi tunggu stasiun, menanti fajar.

Ah, bukankah terlalu terburu-buru pun tak selamanya baik. Kereta ekonomi mengajarkan saya bahwa kehidupan pun memiliki alur seperti perjalanan kereta ekonomi ini. Bukan hanya pencapaian tujuan yang menjadi hal penting, tetapi perjalanan dalam pencapaian itu. Perjalanan yang tak selalu mulus, tetapi menawarkan makna lebih bagi hati yang lebih memahami.

Saturday, February 25, 2012

RETAK

Hari ini terasa tak biasa. Entah mengapa beberapa penggal memori yang sempat terlupa meriap-riap keluar, kuat memaksa.

Hari ini saya kembali menyadari, tentang siapa diri saya, tentang bagaimana dan untuk apa hingga saya dulu memaksa lupa. Tentang bagaimana saya sempat mencoba untuk membuang diri saya. Saya yang dulu retak, terduduk diantara rasa utuh dan patah. Dulu, saya yang bahkan sulit untuk berdiri, tetapi dipaksa untuk berlari. Saya yang tertatih-tatih sendirian. Dan saya yang masih sulit untuk memahami, memutuskan untuk pergi, melarikan diri.

Saya dulu memaksa untuk berani di tengah rasa ketakutan. Memaksa untuk kuat, padahal saya lemah dengan segala keterbatasan. Memaksa, berusaha untuk menjadi nomor satu, padahal saya masih terseok-seok seratus nomor di belakang. Saya yang begitu ingin dilihat, walau sekali saja, dan tidak lagi menjadi orang yang disalahkan.

Saya ingat semuanya, tentang bagaimana saya sulit untuk berkata-kata. Saya yang begitu diam, terlalu larut dalam dunia semu saya. Saya yang masih tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang, karena rasanya tidak nyaman, setelah sekian lama terbiasa tersembunyi di balik tirai. Saya yang hingga kini masih sulit untuk menentukan sikap. Saya yang hingga hari ini masih merasa putus asa, karena ternyata lari saja tidak cukup. Untuk apa, toh diri saya hingga kini masih retak.

Saya ingin bebas, bebas dari rasa takut yang masih mengikat saya, karena saya lelah. Rasa takut itu ternyata menghabiskan energi yang begitu besar. Entahlah, saya tak tahu apakah saya masih kuat utuk berlari lagi. Saya hanya ingin jujur, melepaskan semua, dan merasakan utuh kembali.

Hari ini, memori itu meriap-riap memaksa untuk keluar, mengembalikan ingatan tentang diri saya yang dulu, setelah saya secara tak sengaja menemukan file-file lama saya. Entah mengapa tiba-tiba saya kembali membaca buku dan catatan yang dulu biasa saya baca. Dan mood saya langsung berubah ketika secara tak sengaja saya mendengarkan lagu-lagu yang dulu biasa saya dengarkan. Maka ingatan tentang masa lalu saya pun seperti berlomba-lomba untuk hadir di pikiran saya. Ingatan tentang diri saya, yang dulu sempat saya coba buang.

Dan saya menyadari apa yang salah dengan diri saya sekarang. Saya kini merasa seperti orang lain. Ya, saya berhasil membuang sebagian diri saya. Saya sempat melupakan kebiasaan-kebiasaan saya yang dulu begitu lekat dengan diri saya, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai penanda diri saya, penanda bahwa saya bisa berbeda dengan cara saya sendiri.

Ya, hingga kini saya masih tidak suka untuk menjadi sama . . .

Saturday, December 10, 2011

GEMPA LITERASI

Saya kemarin menghadiri acara di aula Suara Merdeka (Jl. Kaligawe Semarang). Acara ini semacam workshop kepenulisan bersama Gol A Gong yang bertajuk "Gempa Literasi". Gempa Literasi di sini maksudnya adalah menghancurkan kebodohan, terutama lewat membaca dan menulis.

Sebenarnya Jum'at kemarin Gol A Gong sudah menyambangi kampus saya (FIB Undip) dalam acara yang diselenggarakan atas kerja sama antara KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) dan Teater Emka. Awalnya saya tidak tahu bahwa ada Gol A Gong di lantai 1 kampus. Begitu tahu, saya langsung pingin ikut lihat. Padahal waktu itu saya sedang berada di lantai 3 dan sedang menunggu narasumber untuk diwawancara. Jadinya saya nontonnya bolong-bolong.

Gol A Gong sempat bercerita mengenai masa lalunya. Ia mulai menulis sejak umur 12 tahun, di tengah segala keterbatasannya. Perlu diketahui, tangan kiri Gol A Gong sudah cacat sejak kecil. Namun semangatnya untuk membaca dan menulis semakin tumbuh, tatkala Ayahnya berkata, "Ini buku, bacalah! Maka kamu akan lupa bahwa kamu cacat".

"Buku itu wanita (oke, dalam kasus ini kata wanita perlu diubah menjadi pria, karena saya perempuan), maka nikahilah buku . . ." Kata Gol A Gong.
"Buku itu tanda, maka kenali maknanya . . ." Kata Dayat, salah seorang teman saya. Oia, Dayat ini berhasil mendapatkan sebuah buku Gol A Gong yang berjudul Menggenggam Dunia lewat kata-kata itu. Ternyata sebuah kalimat pun bisa sangat berharga ya.

Saya jadi teringat dengan masa kecil saya. Dulu, saya sudah bercita-cita untuk kuliah di jurusan sastra Indonesia, walaupun keinginan itu sempat ditentang orang tua saya. Saya sempat memiliki mimpi-mimpi tentang dunia sastra, seperti menjadi penulis dan bermain teater. Bacaan saya semenjak SD adalah buku-buku terbitan Balai Pustaka, seperti Salah Asuhan, dll (Saya lupa judul-judulnya). Bahkan majalah Horison pun sudah saya lahap, walaupun pada masa itu saya tidak terlalu mengerti karena diksinya yang terlalu nyastra.

Sering saya berpikir kalau saya salah jurusan. Saya tidak pernah menyesal masuk jurusan Sejarah, hanya saja saya memiliki minat yang sangat besar untuk mempelajari sastra. Jujur saja, terkadang saya iri pada teman-teman saya yang berasal dari jurusan Sastra Indonesia. Di jurusan saya sendiri, tidak banyak orang yang nyambung dengan saya. Tetapi begitu saya main dengan teman-teman dari Sastra Indonesia, saya seperti menemukan potongan diri saya yang sempat hilang.

Friday, December 9, 2011

PERMEN KAPAS

image was taken from here
Sekali lagi aku terkenang dengan moment itu, saat berjalan di sore hari, menyapukan tangan pada hamparan ilalang. Dan kau datang dengan kesan yang begitu manis, semanis permen kapas. Kau tahu, dari dulu aku suka permen kapas, tentang bagaimana mereka bisa begitu manis dan lembut. Manis yang begitu menggigit, dan aku tak pernah peduli. Kau bilang gigiku bisa bolong-bolong. Tak apalah. Rasa suka ini masih lebih besar dibandingkan dengan rasa takut nanti akan sakit gigi.

Tetapi kau tahu, aku tak peduli dengan permen kapas itu kala aku melihat senyummu. Ternyata melihatmu tersenyum memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dari sekadar menikmati permen kapas di sore hari. Kau bilang kau tidak mau membawakanku permen kapas. Tetapi aku tidak peduli. Melihatmu tersenyum sudah cukup membuatku sakit gigi.

Kau bilang kau akan sering-sering mengajakku ke pasar malam, melihat kerlap-kerlip lampu di setiap wahana yang ingin aku naiki. Kau senang melihatku kegirangan saat aku terpana melihat penjual permen kapas ada di mana-mana. Tetapi itu tidak perlu, bercakap-cakap denganmu sudah cukup membuat pikiranku berseru-seru ramai, lebih ramai dari keramaian celoteh anak kecil di pasar malam.

Dan permen kapas itu, apakah kau ingat? Satu-satunya permen kapas besar yang kau belikan untukku. Kau tahu, aku menyimpan permen kapas itu begitu lama, karena aku tak sanggup memakannya. Bukan karena aku takut sakit gigi. Aku hanya tidak mau kenangan itu hilang bersama setiap sapuan rasa manis yang mencair di mulut.

Tetapi kau ternyata sama saja dengan permen kapas itu, begitu cepat menghilang dengan menyisakan sedikit cecapan rasa manis.

Saya menemukan tulisan ini di diary lama saya. Tiba-tiba saya teringat dengan sepotong kecil kenangan itu, saat kemarin di sore hari saya kembali menikmati permen kapas. Permen kapas pertama yang saya makan setelah kenangan itu. Ternyata rasanya masih sama. Manis dan lembut, dan saya masih suka.

Wednesday, November 2, 2011

SEMPURNA



Lagu ini punya arti yang dalam untuk saya, sepotong kenangan akan masa saat saya SMA, masa-masa bahagia yang dipenuhi dengan kejadian lucu, sedih, hingga konyol, dengan pelaku cerita yang masih menyisakan sifat kekanak-kanakan. Tiba-tiba, saya ingin bernostalgia sejenak, mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenangan yang sempat terlupakan . . .

Wednesday, December 8, 2010

KUPU - KUPU


*I used to sing it when I was at senior high school

Dulu, ketika saya masih SMA, teman-teman saya, dari teman sekelas, kelas tetangga, adik kelas, kakak kelas, osis, ekskul, bahkan hingga guru, memanggil saya dengan panggilan "Chō". Kenapa? Haha, alasannya simpel saja sih. Waktu saya masih kelas 1, saya suka sekali dengan lagu Kupu-Kupunya Melly Goeslow, dan sering menyanyikannya di kelas (dulu falseto saya bagus lho, hehe . . :P). Ah, saya jadi kangen dengan masa-masa itu, dimana saya dapat bernyanyi, menari, tertawa, berteriak, dan berekspresi dengan bebas.

Eh, lupa bilang. Chō itu berasal dari bahasa Jepang, artinya kupu-kupu.

Saya jadi ingat, lama-lama panggilan Chō berkembang menjadi panggilan-panggilan lainnya, yang bahkan lebih aneh dari sebelumnya. Saya sempat dipanggil Chō-Chō, Mbak Chō (kakak kelas saya rata-rata memakai panggilan ini ke saya, padahal mereka kan lebih tua . . -___-"), Baco (aduh), Cocobi (apa lagi ini . . .), dan Cocang. Haha, terkadang saya sering tertawa sendiri bila teringat dengan teman-teman saya. Mereka berhasil membuat saya tersenyum. Terima kasih ya, atas pertemanan yang terus terjalin hingga kini. Saya kangen kalian, kapan kita bisa reuni lagi? Mungkin ini hanya masalah waktu saja . . .

Saya sempat juga merasa risih, dipanggil dengan nama yang aneh-aneh. Hampir tidak ada yang memanggil saya dengan nama asli saya, kecuali para guru. Ketika saya lulus SMA, saya sempat senang, karena akhirnya saya akan dipanggil dengan nama asli saya. Tetapi ternyata, saya kangen sekali dipanggil dengan nama-nama itu. Entahlah, bila saya dipanggil dengan nama itu, saya merasa . . . spesial, dengan cara yang aneh. Saya merasa bahwa, apapun diri saya, kalian menerima saya apa adanya. Bagaimanapun jeleknya saya, saya adalah teman kalian, dan akan terus begitu. Terima kasih ya . . . :)

Tuesday, October 26, 2010

GERIMIS ITU



Ingatkan aku, akan gerimis itu.
saat berdiri tanpa ternaungi
senja menggantung, tak lagi membayang
hanya kau . . . dan aku . . .

Ingatkah kau, akan gerimis itu.
saat angin meniupkan serat basahnya
membasahi langkah tak berjejak
hanya kau . . . dan aku . . .

Ingatkan aku, akan gerimis itu.
tatkala ucap teradu kata
hangat menyisir sunyi
hanya kau . . . dan aku . . .

Ingatkah kau, akan gerimis itu . . .

Thursday, October 7, 2010

SETAHUN LALU, KALA ITU . . .

Setahun lalu, kala itu, memori saya masih lekat dengan masa remaja. Dengan pikiran tanpa batas, terutama saat hati saya masih sering terbentur dalam masalah klasik kedewasaan, saat saya saya tengah melangkah pada hidup baru, dan jiwa baru.

MASA PERALIHAN

Saya baru saja mengalami hal itu. Masa peralihan dari seorang siswa biasa saja, menuju seorang mahasiswa. Mahasiswa, sebuah kata yang bahkan masih asing di telinga saya, kala itu.

Ada banyak orang yang mempertanyakan "kewarasan" saya. Saya yang tadinya anak science, selalu bahagia dikelilingi rumus, tiba-tiba saja memilih jurusan yang jauh dari bayangan . .

"ILMU BUDAYA, SEJARAH"

Jujur, pertamakalinya saya memilih jurusan ini, ada rasa was-was yang terselip. Bagaimana dengan masa depan saya? Bagaimana dengan perasaan kedua orang tua saya yang selalu berharap lebih pada saya. Setiap orang tua, pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Begitu juga saya, saya ingin membahagiakan mereka.

Januari 2009. Saat itulah dimulai pencarian 'keinginan' hidup saya. Ingin jadi apa saya nanti. Bagaimana cara saya untuk memberikan yang terbaik. Saat itu, banyak ptn yang mulai membuka pendaftaran untuk para mahasiswa baru, dengan jalur PMDK dan Ujian Mandiri. Orang tua saya ingin agar saya masuk ke fakultas kedokteran. Ok, saya turuti, walaupun itu bertentangan dengan hati saya. Saya ingin memberikan 'sesuatu' terhadap bangsa ini. Dan saya kira, masih ada jalan menuju Roma.

Berkali-kali saya ikut ujian mandiri untuk menuju fakultas kedokteran. Berkali-kali pula saya gagal. Entah karena hati saya yang tidak begitu niat, atau karena level otak saya yang belum bisa menjangkau.

Saya ingat satu kegagalan saya, yang disebabkan satu kesalahan kecil namun fatal. Saya salah mengisi identitas di lembar jawab komputer. Padahal saya sudah yakin 85%, bahwa jawaban saya betul. Saya juga telah mendiskusikan soal-soal test itu dengan guru-guru saya di sekolah maupun di bimbelan. Namun, itu semua sia-sia. Jujur saja, walaupun saya tidak terlalu minat dengan kedokteran, tapi saya merasa terpuruk.

Saya sempat merasa gagal. Semenjak kegagalan itu, saya dan orang tua saya berbicara dari hati ke hati. And, finally, akhirnya saya mendapatkan restu untuk memilih sejarah. Yippiii . . . (seneng sedikit bolehkan :p).

Semenjak kecil saya suka membaca. Saya cinta Indonesia, saya cinta budayanya, saya cinta sejarahnya, dan saya cinta keanekaragamannya. Banyak orang yang menyindir saya. Kata mereka, "Ngapain masuk sejarah? Buang-buang tenaga saja. Mau jadi apa kamu nanti? Penjaga museum?"

Ada satu hal yang saya sayangkan. Begitu banyak orang yang menyepelekan sejarah. Sejarah bukanlah tentang mereka yang telah mati, namun sejarah adalah jejak-jejak kehidupan mereka, sebagai penuntun kita di masa depan.

Ada orang yang bilang, melangkahlah ke depan, jangan pernah menoleh ke belakang. Namun saya rasa, banyak yang salah kaprah dengan pepatah itu. Bagi saya, pepatah itu berkata bahwa majulah ke depan, dengan memperhitungkan segalanya, tanpa mengulang kesalahan yang telah dilakukan. Sejarah tetaplah penting, untuk hidup yang lebih baik.

Saya tidak takut, dengan masa depan saya nanti. Sekarang yang saya pikirkan, bukanlah apa yang negara dapat berikan untuk saya, tetapi apa yang bisa saya berikan untuk negara, bangsa ini, Indonesia . . .

Friday, July 9, 2010

DONGENG . . :)



Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata
Terasa berat bagai diri terikat mimpi
Kuingin satu, satu cerita, mengantarku tidur, biar 'ku terlelap
Mimpikan hal yang indah, lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap

Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah

Gelisah 'ku tak menentu, pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

Dongengmu sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap


Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap

Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap

Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah

Aneka banyak cerita, ceritakanlah semua hingga ku terlelap


Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah


Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap

Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Dongengmu sebelum tidur . .