Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts

Friday, September 27, 2013

Blurb!

Ada seseorang yang berulang kali mengatakan pada saya bahwa blog saya jelek. Ya, blog ini memang saya buat sebagai tempat saya "nyampah", tempat saya menulis hal-hal tidak jelas sesuka hati saya. Jadi, maaf-maaf saja ya bila isinya mengecewakan :)

Salam paling manis,

H.

Friday, June 8, 2012

TUJU(AN)

Mungkin akan kau lihat aku tampak seperti kepayahan.
Ah, aku kian tak mengerti, mengapa tujuan itu masih serupa dengan teka-teki.
Sementara menjadi mati adalah (bukan) tujuan, sebab mati adalah pasti tanpa teringkari.
Mati (pun) hanya serupa jiwa yang memisah, terpaksa.
Dan aku masih tersaruk-saruk menyuruk, di tengah hening yang tiba-tiba menjelma hiruk,
memungut pengertian yang (tak) sengaja lepas berceceran.

Monday, May 28, 2012

BARBIE FACE

.Pic taken from random googling. 
"Barbie face. It's just a mask . . ."

Malam-malam begini, bukannya dihinggapi rasa kantuk, saya malah duduk diam-diam memandangi langit malam. Rasanya damai, ketika saya menatapi langit. Damai yang bukan dipaksakan.

Terkadang berat rasanya untuk menjadi perempuan, dimana urusan hati dan perasaan lebih sering mendominasi dibandingkan dengan logika. Sekeras apapun untuk mengelak, seorang perempuan pasti memiliki sisi kepalsuan yang ditutup-tutupi, the part that covered by the "mask", like barbie face. Ya, seorang perempuan pasti pernah memiliki satu kepalsuan dalam senyumnya, sebagai tameng dalam menghadapi rasa takutnya.

Saya bingung, dan saya takut, hingga beberapa malam lalu saya terlelap dengan gemetar. Kemana saya harus bertanya di persimpangan, ketika semua orang terlalu sibuk saling menuding? Sementara pikiran saya sudah menyerupai karet, rasanya alot dan melar kesana kemari.

Ya, persimpangan itu, ketika saya kembali dihadapi pada dua buah pilihan sulit, seperti buah simalakama. Sementara efek dari apapun keputusan saya akan sangat mungkin mempengaruhi kehidupan saya bertahun-tahun yang akan datang.

Apakah saya sanggup untuk berani memberanikan diri?
Ah, jika hal kecil saja saya tak mampu, bagaimana dengan hal-hal yang besar . . .
Karena sesungguhnya orang-orang yang mampu mengubah dunia adalah orang-orang berani.
Mungkin saya harus berani untuk ke luar zona nyaman keperempuanan saya, dan melepaskan topeng "barbie face" itu . . .


*Ditulis oleh saya, yang sudah terlalu lama bengong menatap langit, sambil mikirin (calon) skripsi dan tanggung jawab lain yang sama beratnya dengan urusan skripsi itu . . .

Wednesday, May 23, 2012

KUNCI DAN MEMORI

Semenjak kecil, saya sangat mencintai tulisan. Tulisan apa pun akan saya baca hingga tuntas. Saya masih ingat dengan buku pertama saya, yang bahkan daftar isinya saja pun saya baca dan saya renungi dalam-dalam walaupun saya belum mengerti benar apa maksud dari banyaknya tanda titik yang memanjang dari kiri ke kanan. Dulu buku-buku "koleksi" saya banyak yang rusak dan tidak utuh lagi, karena terlalu sering saya baca. "Koleksi" buku saya yang tidak seberapa itu ternyata tidak mampu memuaskan rasa penasaran saya akan tulisan.

Bagi saya, tulisan itu adalah kunci dan memori, sebagai penjelasan akan apa-apa yang tidak saya ketahui, sehingga dapat memuaskan rasa keingintahuan saya. Rasa suka saya terhadap tulisan yang tertuang dalam bentuk buku pun melebihi rasa suka saya terhadap uang, makanan, bahkan mainan. Saya ingat ketika saya SD dulu, saya adalah satu-satunya pengunjung setia perpustakaan di sekolah. Hampir di setiap waktu istirahat saya pergi ke perpustakaan sekolah yang hampir tidak pernah dijaga, walaupun perpustakaan sekolah ini memiliki koleksi buku yang tergolong banyak untuk ukuran sekolah di pinggiran kota. Bahkan terkadang saya meminjam beberapa koleksi buku dari perpustakaan tanpa izin, karena memang tidak ada yang menjaga.

Saking sukanya dengan tulisan, ketika masa-masa SD itu saya sudah berlangganan majalah mingguan yang saya bayar sendiri, dengan harga satu majalah yang hampir mencapai setengah dari uang saku saya selama seminggu. Saya pun sering diajak oleh ibu saya ke perpustakaan sekolah tempatnya mengajar. Di tempat itulah saya mulai mengenal buku-buku dan majalah sastra. Saya sangat menyukai kata-kata kiasan yang "indah" dan "misterius" dalam berbagai tulisan sastra, walaupun saya tidak mengerti apa makna dibalik kata-kata tersebut. Dan cita-cita serius pertama saya pun muncul: menjadi seorang penulis.

Saat saya memasuki jenjang SMP dan SMA, saya menghabiskan sebagian besar uang saku bulanan saya yang tak seberapa untuk menyewa banyak buku. Bahkan selama beberapa tahun saya sempat dijuluki bandar novel oleh teman-teman saya, karena saya selalu membawa novel kemana pun saya pergi. Saat itu saya tahu berbagai macam novel populer maupun nonpopuler, dari kelas ecek-ecek hingga yang memiliki nilai sastra tinggi. Cita-cita saya pun bertambah, selain menjadi penulis, saya pun ingin menjadi editor dan penerjemah buku. Alasannya, karena saya ingin menjadi orang yang paling pertama membaca tulisan orang lain. Ya, saat itu rasa haus saya akan tulisan dan buku sangatlah besar.

Sayangnya, passion saya ini mulai memudar ketika saya memasuki jenjang perkuliahan. Pada awalnya, cita-cita saya untuk menjadi penulis kurang disetujui oleh orang tua saya. Mereka menganggap bahwa menulis tidak dapat dijadikan sebuah pekerjaan dan tidak menjanjikan. Bahkan keinginan saya untuk masuk sastra pun terkesan ditentang, hingga akhirnya sekarang saya masuk ke jurusan yang saya pilih sendiri dan disetujui oleh orang tua saya, walaupun dengan agak terpaksa. Memang, sedari dulu orang tua saya telah mengarahkan saya ke beberapa jurusan yang menurut mereka baik. Namun ternyata saya tidak berjodoh dengan jurusan-jurusan pilihan mereka. Maka di sinilah saya, melanjutkan studi di sebuah jurusan bercorak ilmu sosial, yang berdampingan dengan jurusan sastra.

Jujur, saya iri dengan beberapa teman saya yang menggeluti bidang sastra. Saya yang hanya memiliki kemampuan pas-pasan dalam menulis dan tidak memiliki banyak ilmu pun kagum dengan beberapa teman saya yang sanggup membuat berbagai tulisan apik nan manis. Saya sering iri dengan mereka-mereka yang mempelajari sastra secara mendalam. Selama ini, waktu saya lebih banyak dihabiskan untuk membaca dibandingkan menulis. Ya, mungkin saya memang hanya masuk ke dalam golongan penikmat hasil karya sastra, bukan pencipta karya sastra.

Friday, April 27, 2012

PERJALANAN KERETA

 .Pic taken from random googling.

Tiba-tiba hari ini saya rindu naik kereta api. Kereta api kelas ekonomi, bukan bisnis maupun eksekutif. Bukan kenyamanan yang saya cari, tetapi pengalaman. Pengalaman berkipas-kipas kepanasan sembari melihat orang-orang dengan berbagai jenis karakter yang tak selalu sama. Bahkan dulu, ketika kereta api ekonomi tak senyaman sekarang (dengan tempat duduk untuk masing-masing orang), selalu saja ada pegalaman baru yang terkadang terasa mengesalkan, namun menjadi lucu ketika diingat-ingat kembali.

Dulu sewaktu saya kecil, saya sering naik kereta api, terutama kala waktu mudik tiba. Saya masih ingat, ketika dulu para penumpang masih duduk bertumpah ruah di kursi dan lorong kereta, bahkan hingga ke dalam toilet yang selalu berbau pesing. Berdesak-desakan dengan terpaksa bersama para pedagang, pengamen, bahkan pengemis yang setiap hari menaruh harapan pada gerbong-gerbong kereta.

Pada tahun-tahun pertama saya di tanah rantau, saya kembali menumpang kereta, seolah-olah menelusuri jejak masa kecil saya yang sempat tertinggal sepanjang alur rel. Saya pergi ke arah timur, menjauhi kota mimpi yang tertinggal di ujung rel yang tertelan rob. Saat itu saya hanya mendapat tiket berdiri. Inilah sulitnya untuk tinggal di kota yang hanya menjadi tempat singgah. Berada di tengah, tidak mengawali atau menjadi akhir dari tujuan. Tiket berdiri itu ternyata hanya mengizinkan saya untuk duduk bersandar di lorong. Dengan beralas koran bekas dan memeluk ransel, sembari berdoa agar tidak terinjak oleh penumpang lain.

Kereta, salah satu kendaraan yang tak pernah membuat saya mual karena mabuk. Mungkin karena saya terlalu sibuk mengejar bayangan matahari yang terbias dalam retakan jendela kusam.

Bagian favorit saya adalah ketika kereta melewati kelokan tajam, terowongan, dan jembatan panjang. Saya ingat dulu ketika saya kecil, saya suka sekali berdiri dan menjulurkan kepala ke luar jendela, sembari mengawasi kepala kereta yang berbelok. Kala itu angin menderu-deru di telinga saya, terasa menakjubkan. Atau ketika kereta melewati sungai lebar, memadukan kecepatan dengan cahaya matahari yang terpantul pada permukaan air. Cantik.

Kereta ekonomi adalah kereta yang dikalahkan. Kereta tanpa waktu perjalanan pasti. Saya ingat betapa dulu dengan mudahnya saya dibohongi oleh orang tua saya, ketika saya protes saat kereta tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mereka bilang, ban kereta sedang bocor, jadi saya harus bersabar untuk menunggu petugas menambal ban. Dan dengan lugunya saya menelan mentah-mentah omongan tersebut.
Ah, saya rindu moment itu.

Kereta ekonomi ini membawa saya ke sisi lain kehidupan yang lebih nyata. Ia memberikan pemahaman tersendiri akan hidup. Kereta inilah yang menjadi saksi keberanian saya saat sengaja meninggalkan kota mimpi, melawan rasa takut akan ketidakmandirian saya. Bahkan mengajarkan saya lebih ketika akhir perjalanan kereta ini mengantar saya untuk setengah terlelap di kursi tunggu stasiun, menanti fajar.

Ah, bukankah terlalu terburu-buru pun tak selamanya baik. Kereta ekonomi mengajarkan saya bahwa kehidupan pun memiliki alur seperti perjalanan kereta ekonomi ini. Bukan hanya pencapaian tujuan yang menjadi hal penting, tetapi perjalanan dalam pencapaian itu. Perjalanan yang tak selalu mulus, tetapi menawarkan makna lebih bagi hati yang lebih memahami.

Wednesday, April 4, 2012

WONDERLAND

.Pic taken from here.

"Yeah, we're not living in wonderland"

Thursday, March 22, 2012

PEREMPUAN DALAM KODRATNYA

Banyak yang bilang bahwa perempuan, bagaimanapun kerasnya dia berusaha, tetap tidak akan pernah dan tidak boleh memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari laki-laki. Karena sudah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk menjadi pemimpin. Entahlah, saya tak tahu apakah statement ini muncul sebagai keegoisan laki-laki atau ketidakberdayaan perempuan.

Dulu, entah kapan mulanya, ibu saya sering menasihati saya, bahwa perempuan sekarang haruslah punya pekerjaan sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki. Karena faktanya kini jumlah laki-laki dan perempuan tidaklah imbang. Perempuan sekarang harus lebih mandiri, lebih cerdas, karena belum tentu ada laki-laki yang bertanggung jawab dan masih bisa untuk menjadi pemimpin bagi hidup seorang perempuan. Karena hidup itu tidak seperti dongeng-dongeng pengantar tidur yang selalu live happily ever after.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak harus mandiri bila memiliki suami yang mapan atau memiliki kedudukan tinggi. Namun, bagaimana bila suatu hari suami yang dianggap ideal tersebut ternyata pergi atau tak sanggup memenuhi kewajiban untuk memberikan nafkah bagi perempuan dan anak-anaknya? Bagaimana dengan laki-laki yang tak bisa memberi rasa aman bagi perempuan, haruskah seorang perempuan tetap bergantung pada laki-laki tersebut? Bahkan banyak kasus perempuan-perempuan yang diposisikan sebagai boneka bagi para laki-laki hanya karena terlalu bergantung pada laki-laki.

Bagi saya, perempuan mapan dari segi financial sangat penting untuk memberikan rasa aman. Karena bahkan zaman pun berubah, dan tidak dapat disamakan dengan dulu-dulu ketika seorang perempuan masih berlindung di balik punggung laki-laki.
Karena pencapaian yang sebenarnya adalah bukan apa yang bisa diberikan oleh orang lain, tetapi bagaimana untuk berdiri sendiri dan memberikan pada orang lain.
Saya kurang setuju bila ada orang yang mengatakan bahwa perempuan tidak boleh memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari laki-laki. Bahkan dalam kehidupan nyata pun, sering saya mendapat teguran-teguran kecil dari kaum laki-laki, karena saya dinilai memposisikan diri saya di atas laki-laki. Padahal kenyataannya, saya tetap mengakui bahwa memang sudah menjadi kodrat bahwa posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Namun dalam kasus ini, saya lihat banyak laki-laki yang tidak mau diungguli dari perempuan, tetapi mereka tidak pernah berusaha untuk lebih unggul dari perempuan. Lalu saya sebagai perempuan harus bagaimana, terus mengalah? Mengalah pada laki-laki yang bahkan tidak memiliki keinginan untuk maju dan hanya mencoba untuk menutupi kelemahannya sendiri tanpa mengembangkan diri? Apakah kepada laki-laki semacam itu seorang perempuan harus bergantung? Saya rasa tidak.

Sebenarnya, bukan berarti saya menyatakan bahwa perempuan harus lebih unggul dari laki-laki. Hanya saja saya tidak suka bila egoisme laki-laki membuat saya sulit untuk berkembang. Menurut saya sangat simpel sih sebenarnya, bila laki-laki tidak mau diungguli oleh perempuan, kenapa mereka tidak mencoba untuk mengembangkan dirinya sendiri? Saya hanya tidak suka dijegal dan dipaksa.

Namun terkadang saya tidak setuju dengan perempuan yang terlalu mandiri hingga merasa dirinya superior dan kehilangan rasa hormatnya pada laki-laki. Saya percaya, masih banyak laki-laki yang tidak egois dan bertanggung jawab sehingga patut untuk dihormati. Walau bagaimanapun juga, seorang perempuan butuh seorang laki-laki sebagai sosok pemimpin. Karena seluruh perempuan, butuh kepastian dan rasa aman. Karena seluruh perempuan membutuhkan sosok laki-laki yang benar-benar pantas untuk menjadi imam. Karena bagaimanapun juga, laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari perempuan.

Saturday, February 18, 2012

WISATA BERFOTO

Saya orangnya suka traveling, pergi ke berbagai tempat wisata maupun non-wisata, terutama ke tempat yang belum pernah saya datangi. Semakin jauh semakin bagus, dan saya lebih suka dengan tempat yang lebih sepi dan tidak biasa. Liburan kali ini pun saya pergi ke berbagai tempat, walaupun intensitasnya tidak terlalu sering karena limitnya dana yang saya miliki. Kemarin-kemarin juga saya sempat pergi berlibur bersama keluarga saya, menghabiskan waktu berkualitas yang jarang tersedia karena memang saya jarang pulang.

Ada satu fenomena yang umum saya lihat ketika saya pergi jalan-jalan ke tempat baru, khususnya tempat wisata, yaitu budaya foto-foto. Banyak sekali orang, terutama remaja, datang ke tempat wisata dengan intensitas berfoto lebih banyak dari pada menikmati wisata itu sendiri. Lucunya, yang sering menjadi obyek foto utama adalah orangnya, bukan background wisatanya. Ada yang bilang, bahwa budaya nampang bagi masyarakat Indonesia sudah sedemikian kuatnya.

Yah, jujur saja, saya juga sudah sedikit terpengaruh dengan budaya nampang itu, terkadang bila mood saya sedang bagus, saya sering berfoto di tempat wisata.

Bila dibandingkan dengan bangsa lain, cara menikmati liburan antara orang Indonesia dengan bangsa lain itu dapat dikatakan berbeda. Menurut perhitungan saya pribadi, cara berwisata orang Indonesia adalah 25% wisata, 75% foto-foto, sedangkan bangsa lain 75% wisata, 25% foto-foto, itupun yang sering di foto adalah obyek wisatanya, bukan orangnya.

Budaya nampang ini kemudian biasanya dilanjutkan dengan meng-upload foto-foto liburan tersebut ke jejaring sosial. Bilangnya sih foto-foto itu adalah salah satu kenang-kenang wisata mereka. Tetapi menurut saya, hal tersebut malah bisa dibilang pamer. Ya, selain budaya nampang, kebanyakan orang Indonesia juga dikenal dengan budaya pamernya.

Haha, lucu ya. Saya seperti membicarakan diri sendiri. Ya saya akui, saya juga terkadang begitu, foto-foto dan kemudian meng-uploadnya di jejaring sosial, walaupun intensitasnya bisa dibilang jarang. Ada perasaan bahwa saya ingin dilihat orang lain. Mungkin orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut juga ingin dirinya dilihat oleh orang lain, dan merasa dirinya semakin keren dengan banyaknya foto ketika berwisata.

Lebih lucunya lagi, terkadang banyak orang yang tidak peduli dengan background tempat yang bisa dibilang "nggak bagus-bagus amat". Bagi mereka, yang penting adalah foto-foto, dengan obyek utama adalah diri mereka sendiri, jadi masa bodo dengan background yang jelek. Contohnya, saya pernah melihat orang-orang heboh berfoto di sebuah warung pinggir pantai yang menurut saya jelek dan kotor.

Ada juga orang yang sadar dengan pentingnya background yang bagus. Kapan waktu saya pernah pergi ke puncak dengan teman saya. Nah, teman saya itu mengajak temannya. Di sini lucunya, ketika temannya teman saya itu ribut minta pinjam hape dan kunci mobil, kemudian dia sibuk bernarsis-narsis ria di depan dan di dalam mobil teman saya yang diparkir di dekat kebun teh. Setelah itu, foto-fotonya tersebut saya lihat langsung di-upload di jejaring sosial dan dibuat seolah-olah mobil teman saya itu adalah mobil miliknya. Yah, namanya juga ingin nampang dan pamer.

Sepertinya di Indonesia yang menjadi obyek wisata terbesar adalah obyek foto-foto ya. Sayang sekali, padahal banyak obyek yang lebih bagus untuk difoto, dibandingkan dengan obyek diri sendiri. Tidak sadarkah bahwa ketika mereka meng-upload foto tersebut di dunia maya, akan terjadi kecemburuan sosial yang dapat berakibat buruk bagi kehidupan di dunia nyata. Ya, saya berkata seperti itu karena saya sudah pernah merasakan, bagaimana sebuah kecemburuan dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosial.

Friday, January 27, 2012

KOTAK HITAM

Ada sebuah kotak hitam yang langsung menarik perhatian saya ketika saya membuka pintu rumah untuk pertama kalinya pada tahun ini. Bahkan ketika pertama kali saya melihatnya, bibir saya secara tak sengaja menyelipkan sebuah decak emosi. Kotak hitam itu terletak di tengah-tengah rumah saya, agak merapat ke dinding yang masih mengkilat oleh cat baru. Secara halus saya meraba kotak hitam tersebut, membelainya dengan mesra seolah-olah ia adalah sebuah adikarya dari seorang seniman hebat. Ya, bagiku saat itu ia adalah sebuah adikarya.

Dan kotak hitam nan seksi itu adalah sebuah televisi.

Ok, saya terlalu berlebihan. Kenyataannya saya tidak se-lebay itu kok saat melihat televisi di ruang keluarga rumah saya. Tetapi walau bagaimanapun juga saya sempat senang, karena sudah lebih dari 2 bulan saya tidak ketemu TV. Entah siapa yang tega menuangkan gula-gula dalam TV saya yang ada di kost, sehingga TV saya dipenuhi semut-semut hitam putih.

Saya bukan tipe orang yang suka nonton TV, apalagi sampai ketergantungan. Bahkan sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan rusaknya TV kecil saya di kost. Untuk hiburan, saya lebih suka membaca buku, main internet, atau pergi ke luar. Bagi saya, kost adalah sebuah tempat singgah dan tempat untuk beristirahat. Bisa dibilang saya baru ada di kost paling cepat saat waktu maghrib tiba. Bahkan terkadang saya baru pulang diatas jam 8 malam. Walaupun saya sering pulang agak malam, bukan berarti saya tipe perempuan yang sering main-main dan bersenang-senang. Saya lebih suka menghabiskan waktu saya di tempat lain selain di kost saya, karena ketika saya berada di kost, saya merasa menjadi orang yang useless, karena kerjaan saya terkadang hanya berkisar antara main internet, nonton film di laptop, atau membaca buku yang sudah pernah saya baca. Dari pada begitu, lebih baik saya keluar dan melakukan sesuatu yang lebih berguna kan.

Ok, back to topic. Mengenai TV, walaupun saya tidak merasa ada masalah dengan rusaknya TV saya, tetapi saya agak merasa terganggu juga karena tidak bisa melakukan ritual pagi dan malam saya, yaitu menonton berita. Saya jadi merasa paling terbelakang ketika teman-teman saya mulai membicarakan berita tadi malam, sedangkan saya terlalu sibuk bertanya ada apa. Satu-satunya akses berita yang saya miliki adalah melalui internet, sementara untuk melihat berita di koran agak sulit, dengan terbatasnya dana hidup saya di tanah rantau.

Sekarang di rumah, saya bebas untuk menonton TV sesuka hati saya. Ternyata sudah agak banyak perubahan ya. Banyak artis-artis pendatang baru, hingga menjamurnya girlband-boyband yang meniru-niru gaya korea, serta munculnya berbagai acara TV yang (masih) tidak menarik perhatian saya. Bagaimana saya bisa tertarik, kalau acara TV banyak diisi oleh materi-materi yang tidak mendidik. Terkadang malah saya merasa menjadi orang bodoh ketika menonton acara TV yang "membodohi". Apalagi ketika melihat tingkah laku para artis yang semakin hari kian aneh dan menjadi-jadi, padahal mereka adalah role model bagi banyak orang. Yah kalau begitu, tidak aneh kan bila zaman sekarang banyak orang yang aneh-aneh.

Saya semakin miris dengan banyaknya acara TV yang tidak mendidik bagi generasi baru Indonesia (sebut saja mereka anak-anak). Menurut saya (dan saya kira akan banyak teman-teman seangkatan saya yang setuju), masa kecil paling bahagia adalah masa-masa saya, pada tahun 90-an. Ketika itu acara TV masih ter-filter dengan baik, serta banyak acara mendidik yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Dan saya masih ingat kelebihan TV zaman dulu, banyak lagu-lagu yang memang dikhususkan untuk anak kecil. Ya, masa-masa kecil generasi saya memang masa anak kecil yang paling membahagiakan.

Monday, December 26, 2011

CANON - CHOPSTICK

Minggu-minggu ini saya sedang memasuki minggu (tak) tenang. Minggu depan saya akan memasuki masa ujian akhir semester. Saya (tidak) menikmati liburan saya di kosan, dengan setumpuk tugas yang menghalangi saya untuk pulang. Padahal saya sedang kangen-kangennya dengan rumah, dengan ibu, bapak, dan juga adik-adik saya. Saya juga kangen dengan teman-teman lama saya. Yah, inilah nasib mahasiswa rantau yang tidak bisa pulang . . :(

Sudah beberapa hari ini saya bebas bernyanyi-nyanyi keras di kosan, tidak peduli bila ada orang yang merasa terganggu. Lha, kosan saya sedang sepi-sepinya, hampir semua penghuninya mudik. Kalau sedang sendirian seperti ini, saya suka sekali bernyanyi lepas sambil main musik. Sayang, di sini saya tidak punya satu pun alat musik. Sepertinya sudah hampir dua tahun saya tidak main piano lagi. Jangan-jangan jari saya sekarang sudah kaku.

Saya kangen dengan Canon in D-nya Pachelbel. Bahkan saya juga kangen dengan irama Chopstick Waltz, simpel, tetapi mampu membuat tangan saya menari-nari di tuts piano. Dulu ibu saya paling suka kalau melihat saya main piano. Padahal saya mainnya juga ngasal. Saya masih amatiran, belajarnya saja kebanyakan otodidak. Apalagi sekarang sudah lama saya tidak main lagi, pasti saya sudah tidak bisa main piano dengan lancar . . -____-"

Ah, saya benar-benar kangen main piano *guling-guling di kasur . .

Akhirnya untuk mengobati kangen saya, saya iseng melihat-lihat video di KamuTabung. Dan saya menemukan video ini.



Ini Chopstick Waltz. Saya suka video ini, unik. Bahkan saya tidak pernah kepikiran untuk memainkan Chopstick dengan chopstick (sumpit) beneran. Oia, lagu Chopstick Waltz yang saya mainkan jauh lebih sederhana dari video ini. Lagu ini bisa dibilang lagu pertama yang saya kuasai secara otodidak.



Dan ini Canon in D. Canon versi video ini mirip dengan Canon yang biasa saya mainkan. Tetapi saya lebih suka memainkannya dengan tempo yang lebih cepat. Dan ternyata saya masih kalah dengan anak kecil di video itu. Seumuran itu jangankan bisa main piano, alatnya saja saya tidak punya.

Saya suka musik klasik, walaupun saya payah kalau disuruh main piano. Tetapi saya kangen, untuk melarikan perasaan saya melalui tuts dan partitur . . .

Thursday, December 1, 2011

Monday, November 21, 2011

RAGU SESAAT

Kata orang jodoh itu ada di tangan Tuhan, apa kamu percaya? Takdir memang ada di tangan Tuhan. Kehidupan, kematian, bahkan hingga pasangan hidup. Terkadang saya berpikir, bila jodoh memang berada di tangan Tuhan, bagaimana dengan mereka yang menikah tanpa berlandaskan cinta? Saya semakin bingung dengan hakikat jodoh itu sendiri. Jodoh itu apakah seseorang yang akan menjadi pendamping hidup, atau seseorang yang kita pilih untuk dicintai.

Cinta dan kehidupan memang dua hal absurd yang sulit dideskripsikan ya . . .

Kata orang, cinta itu tidak bersyarat. Lalu bagaimana dengan mereka yang jatuh hati karena rupa?
"Aku mencintainya karena dia cantik dan menarik", Kata banyak orang.
Saya jadi semakin meragu, apakah masih ada cinta karena Allah. Jadi, bagaimana sebenarnya hakikat cinta itu?

Tuesday, November 15, 2011

KEMANA

Kemana rintik itu akan bergulir,
Di atas atap rapuh yang berderit,
atau mungkin di atas pagar-pagar berduri.
Tanah merah menguar bau keheningan
di bawah mata sewarna malam.
Kemana kau berlari
saat tersandung nisan tak bersayap
merangkak

Kemana rintik itu akan bergulir
di sela-sela kaki malam itu.
Atau mungkin rintik itu,
masih
diam
mem
basah
sunyi
di celah mata sewarna malam

Sunday, September 25, 2011

BBB

BlackBerry + Behel.

Sepertinya sudah lama menjadi trend ya. Di daerah saya dulu, BBB sudah lama menjadi trend, bahkan sepertinya semenjak saya masih duduk di bangku SMA (saya angkatan 2009). Tetapi anehnya, di tempat saya sekarang malah baru ramai, haduh!

Saya bukannya suka dengan trend semacam itu. Terkadang sebal malah. Demi mengikuti trend, kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang sering disebut-sebut orang ababil, rela berbuat apa saja. Ya, tidak semuanya ababil sih. Ada juga orang yang kepribadiannya saya nilai sudah dewasa, tetapi ternyata terpengaruh juga. Budaya "nampang" di Indonesia ini ternyata sudah begitu mengakar kuat ya.

Tidak usah jauh-jauh, contohnya sebagian dari teman saya. Dia begitu ingin nampangnya, sehingga apapun yang sedang menjadi trend, akan dia usahakan untuk diikuti. Trend BB, dia juga ikut-ikutan dengan cara usaha mengumpulkan uang. Dari meminta kepada orang tua, menabung, hingga ikut beasiswa. Ketika BB sudah di tangan, dia pun asik dengan dunianya sendiri, seakan dunia hanya milik dia dan BB-nya.

Sebenarnya bukan masalah bagi saya jika teman saya suka mengikuti trend semacam itu. Tetapi saya sebal, jika trend tersebut membawa pengaruh buruk. Contohnya, saat kuliah, seringkali terdengan bunyi atau getar BBM yang masuk. Perhatian teman saya pun 70% tercurah pada BB-nya. Suara dan getar BB itu sering mengganggu saya dan mahasiswa lain yang datang ke kampus dengan niat untuk kuliah, bukan cuma sekedar nyetor muka saja. Kasihan juga kan dosennya, yang sudah ngomong panjang lebar tetapi tidak didengarkan. Kebanyakan pikiran mereka, kuliah yang penting absen, jadi bisa ikut ujian. Toh, ujian bisa mencontek. Hah, apa jadinya bangsa ini, jika penerusnya saja punya kebiasaan berbuat curang. Tak heran para koruptor di negeri ini sulit diberantas, karena sudah terlanjur menjadi budaya.

Rata-rata para pengguna BB menggunakan BB untuk meningkatkan status sosial mereka. Tetapi anehnya, bila di sms, selalu susah untuk dibalas. Saya saja kadang kesal sendiri karena sms saya jarang dibalas. Setelah saya tanyakan, ternyata mereka sayang untuk mengeluarkan pulsa, mending pulsanya buat BBMan. Ya ampun, katanya punya uang, katanya ingin status sosialnya dipandang tinggi, tetapi untuk menjawab sms saja pelitnya bukan main. Susah ya beli pulsa? Oh iya saya lupa, kan uangnya sedang dihemat ya, untuk membeli barang satu lagi yang sedang menjadi trend. Ya, apalagi kalau bukan Behel.

Saya heran, apa bagusnya sih behel. Bukannya fungsi utamanya untuk merapikan gigi ya. Maaf ya, bukan menjelek-jelekan, tetapi saya lihat para pengguna behel yang "maksa" itu bukannya semakin cantik, tetapi malah semakin aneh dengan bibirnya yang semakin maju. Ya, itulah kekuatan trend, sesuatu yang aneh pun bisa menjadi incaran siapa saja. Ini pendapat saya sendiri lho. Mungkin di luar sana banyak orang yang menganggap behel keren, khususnya para pengikut trend.

Sebagai contoh, teman saya lagi deh. Dia mati-matian menabung supaya bisa membeli behel. Setiap jalan-jalan, dia sering mupeng melihat orang-orang yang memakai behel. Kata dia sih behel bagus, karena warna-warni. Ya, anggap saja sebagai perhiasan gigi. Menurut saya, behel itu tidak bagus bila dipakai oleh orang bergigi sehat dan rata. Fungsi utama behel kan untuk memperbaiki gigi. Saya malah heran, kok banyak orang yang mau ya memakai behel, bukannya itu sakit? Malah katanya terkadang gigi sehat harus ada yang dicabut, dan bila sial, ada juga yang harus dioperasi. Ya ampun, saya sih tidak mau.

Ya, saya bukan mendiskreditkan BB dan Behel. Saya hanya tidak suka dengan tingkah laku orang-orang yang terlalu fanatik dengan kedua barang mahal ini. Mengikuti trend sah-sah saja, tetapi tidak usah berlebihan juga kan.

Friday, March 4, 2011

DAN AKU MASIH TERJEBAK KOTAK

Hampir kurengkuh kau,
dalam genggam
Kau luruh terbangkan
tanpa penopang sayap, sayang
Dan aku menderu layaknya angin, merintik bersama hujan, melebur dalam bayang
berlari,
mengejar,
tak tentu
Coba menggapai gerbong-gerbong dalam sela pelarian
Dan bilik pun bergoyah remuk
mengharu . . .
namun tak pernah menjadi biru
sayang . . .
Kau membulat,
dan aku masih terjebak kotak

Tuesday, January 25, 2011

DAN KINI

Dan kini yang tersisa hanyalah senyap
Bahkan senyap itu masih bising terasa
Kau meliuk meretas nyawa, dalam alur panggung tak bertiang, membongkar buncahan ratap, menutup sang relung tawa, bergemuruh, meruntuh dinding kepastian.

Dan kini kau serupa melati, yang dalam anggun putihnya, mampu menebar layangan wewangi.
Aku pun terpikat, terpana, bagai semut yang merindukan kehadiran sang manis.
Merubung, kalap menghirup, tak sabar menderu waktu, mabuk dalam angan.

Dan kini kau pun serupa mata, yang menatap tajam menyorot kelam.
Sampai dalam kedua bola matamu kulihat
kesunyian
Sunyi, yang bahkan mampu menggurat raut-raut kelam dalam lekuk hitam keningmu.

Sunday, November 7, 2010

CLOUDY DAY



"Where is the sun?" The cloud asked. "I really miss him . . ."

"Where is the wind?" The bird asked. "I really miss him . . ."

"Where is the rain?" The grass asked. "I really miss him . . ."

"Where are you?"
"I really miss you . . ."

(Hari-hariku masih suram, sesuram awan mendung yang menggantung di sore hari)



P.S. Sedang memasuki masa ujian, namun pikiranku masih dipenuhi oleh bayang-bayangmu.

Wednesday, November 3, 2010

CATATAN KECIL DI SIANG HARI

Teman saya kemarin, di tengah-tengah perkuliahan alamiah dasar, menuangkan pikirannya tentang salah satu bencana alam yang melanda Indonesia dalam sebuah catatan kecil (yang menurut dia adalah sebuah puisi yang sangat bagus, he...). Catatan kecil ini, dengan tema Mentawai, menjadi cerminan hatinya dalam kedukaan menatap negeri ini.

PULAU TATOO TERBASUH BUIH LAUT
-Danang Prihandono-

Orang bercawat kulit hewan
Orang bercelana boxer merk 'X'
Perempuan berkerudung sutera aceh
Perempuan bergerai rambut terpanggang matahari
Anak-anak berkulit cokelat
Anak bule, indo, mandarin, melayu . . .
Semua SAMA
Sama-sama hidup di pulau
Pulau indah, beberapa waktu lalu
Mentawai
Sekarang?
Lebih mirip rawa
Atau . . .
Rawa yang dipenuhi bangkai
Bangkai apa?
Bangkai sifat buruk manusia (abad 21)

P.S. Maaf bila 'puisinya' agak kacau. Ini hanyalah sebuah catatan kecil seorang mahasiswa di tengah kuliah yang membosankan.