Thursday, November 28, 2013

-duapuluhsatu-

Tiba-tiba aku berkeinginan, untuk tetap berada pada pertanda waktu duapuluhsatu. Pada bagian waktu dengan tanda yang tersamar. Aku tak ingin menjadi tua, tepatnya pikiranku yang tak mengizinkan. Karena perubahan waktu memiliki konsekuensi yang menakutkan.

Aku hanya ingin tetap berada pada duapuluhsatu. Tapi sepertinya aku terus dikalahkan oleh waktu.

Thursday, November 14, 2013

Done!

Alhamdulillah, setelah "mengandung" sekian lama :)


Dengan ini, tuntas sudah tanggung jawab saya sebagai Pimred Hawe. Rasanya campuran antara bahagia dan sedih...

Wednesday, November 13, 2013

SEMAR-BAYA

Jadi, beberapa minggu lalu ketika saya sedang di rumah, dengan tiba-tiba saya memutuskan untuk pergi ke luar kota. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya berpergian ke luar kota untuk liburan (biasanya buat liputan atau skripsi). Saya yang sedang suntuk berat langsung menghubungi salah satu teman untuk menemani saya di kota tujuan. Teman saya itu memang telah beberapa kali mengajak saya untuk berlibur di kotanya. Jadilah saya Jumat lalu berangkat, dari Semarang menuju Surabaya.

Saya yang kekurangan dana karena masih berstatus mahasiswa *blushing*, akhirnya memilih kereta ekonomi Kertajaya sebagai alat transportasi saya menuju Surabaya. Selain harga tiketnya yang 50% lebih murah dan waktu perjalanan 3-5 jam lebih singkat daripada bus, saya juga terhindar dari bahaya mabuk perjalanan. Tapi, tapi, perjalanan kereta harus saya tempuh di malam hari, yaitu jam 22.00-03.30 WIB. Takut? Mmh, sebenarnya nggak sih :D

Ya, karena saya sudah biasa, hehehe. Namanya juga mahasiswa pas-pasan tapi seneng jalan-jalan. Apapun caranya, yang penting bisa jalan, hehehe :D

Sebenarnya, kedatangan saya ke Surabaya bukan untuk pertama kali. Dulu saya pernah mampir ke kota itu, ketika dalam perjalanan mudik menuju Lombok bersama keluarga saya dengan menggunakan mobil pribadi. Tapi, karena cuma mampir sekaligus numpang lewat, saya tak benar-benar merasakan pernah ke Surabaya. Jadi, bisa dibilang kemarin adalah pertama kalinya saya keliling-keliling kota Surabaya.

Satu kesan saya saat pertama kali menginjakan kaki di Surabaya; PANAS. Padahal katanya Semarang sempat menjadi kota dengan suhu terpanas di Jawa. Ternyata, suhu Surabaya jauh lebih ganas *fiuhh*. Bahkan teman saya bilang kalau Surabaya pernah mencapai suhu 40 derajat celcius, errr.. -_____-"

Tak banyak tempat yang saya kunjungi di Surabaya, karena memang waktu kunjungan saya singkat. Tapi seperti biasa, bukan tujuannya saja yang menjadi poin utama. Bagi saya, terkadang hal terpenting adalah proses dari perjalanan itu sendiri. Dan seperti biasa pula, dalam proses perjalanan itu saya merenung mengenai banyak hal, tentang apa yang telah terjadi dan (mungkin) akan terjadi pada diri saya.

Anyway, saya tak menyesal dengan kepergian saya ke Surabaya (kayak pernah nyesel aja kalo jalan-jalan :D). Dan mungkin lain kali saya akan kembali ke kota itu, entah kapan. Lagipula, saya belum puas mengelilingi Surabaya. Tapi tak apa, setidaknya satu janji saya pada seorang teman telah tertuntaskan :)

Next destination? Mungkin ke luar Pulau Jawa, entah sendiri atau bersama teman. Semoga budget saya mencukupi :)

*numpang mejeng, hehehe*

Thursday, October 17, 2013

:)

Semakin lama, semakin saya menyadari apa yang salah dengan diri saya, walaupun prosesnya tidak mudah. Semoga saya bisa menjadi orang yang lebih ikhlas dan lebih mudah menerima segala hal. Semoga saya tidak menjadi orang yang menuntut terlalu banyak dan tidak menjadi orang yang terlalu ambisius. Semoga saya bisa menjadi orang yang lebih rendah hati tapi tidak rendah diri. Semoga saya bisa mendapatkan hikmah dan pembelajaran dari berbagai kesalahan saya. Semoga saya bisa menjadi orang yang lebih baik. Dan, semoga saya dapat membahagiakan orang-orang di sekitar saya.. :)

Aamiin.

Monday, October 7, 2013

Kebut!!!


Sedang dalam kecepatan tinggi. Semoga lekas terkejar yaa.. :)

Thursday, October 3, 2013

Uncover The Mask

"Seberapa pedulinyakah kau dengan pendapat orang lain?"

Dalam hidup, sulit untuk menjadi diri sendiri, tanpa adanya paksaan atau pengaruh dari orang lain. Hampir setiap orang memiliki topeng, berupa tindakan yang berasal bukan dari dirinya secara murni, melainkan tindakan yang ditujukan untuk dilihat orang lain. Bila benar-benar ada tindakan yang dilakukan sebagai keinginan sendiri, bisa jadi hal tersebut malah membuat orang menghakiminya sebagai orang yang egois.

Pada masa lalu saya, saya pernah terbiasa menjadi diri saya sendiri yang tak banyak orang mengerti, bahkan keluarga saya sendiri. Bukankah orang-orang cenderung lebih suka menghakimi daripada mencoba memahami? Saya pernah merasa begitu berbeda, dan rasanya sangat buruk. Saya merasa sendirian karena hampir tidak ada oang yang memahami saya. Hingga suatu hari saya memutuskan "pergi" dan berubah, menjadi orang lain.

Saya yang sekarang berbeda dengan saya yang dulu. Saya paham betul bahwa karakteristik seseorang berkaitan erat dengan pengalaman dan perlakuan yang didapatkannya semenjak kecil. Saya pun merasa sedikit "normal", tapi saya juga merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Well, I created my own mask for covering my real "face".

Ada orang yang mengatakan pada saya, "Jadilah dirimu sendiri," ketika saya sering kebingungan harus melakukan apa. Saya memang selalu bingung karena saya terlalu banyak memikirkan orang lain, tepatnya apa yang diinginkan orang lain. Hidup saya pun terasa seperti terbebani. Sementara beberapa orang terkadang menganggap saya payah karena tidak bisa mengikuti mereka. Yah, sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya berakhir bagus, kan...

Bahkan ada teman saya yang mengatakan bahwa saya terlalu sering ingin campur atas urusan orang lain karena saya sering bertanya "kabar" orang lain. Ia mengatakan bahwa saya terlalu memikirkan diri sendiri karena saya seolah-olah menjaga zona aman saya dan diam-diam siap menusuk orang. Dia menyamakan saya dengan beberapa orang yang sempat ditemuinya, dan memang dia sering menyamakan saya dengan orang lain. Dia merasa kepedulian saya palsu, dan tidak menyadari bahwa saya benar-benar peduli. Karena saya tahu, bagaimana rasanya tidak dipedulikan. Jujur, saya sakit hati diperlakukan demikian, tapi setelah saya pikirkan kembali, mungkin inilah konsekuensi dari keinginan terpendam saya untuk berubah "sama" dengan orang lain, untuk merasa lebih "normal" dan tidak merasa jadi orang aneh.

Saya marah pada teman saya itu, terutama karena dia menggunakan kata-kata kasar pada saya, dan juga karena saya merasa dia menghakimi apa-apa yang ingin saya lakukan, tepatnya hal-hal yang benar-benar  ingin saya lakukan tanpa paksaan dari orang lain. Saya sakit hati, karena ketika saya benar-benar ingin melakukan keinginan saya yang murni dari diri saya sendiri, atau mempertahankan pemikiran saya sendiri, saya dihakimi dan disalahkan dengan menyebut bahwa saya telalu egois.

Sejak kecil saya sudah sering dikasari. Saya hanya tak bisa menerima perlakuan kasar itu, jika keluar dari seseorang yang saya anggap dekat dengan saya. Tapi, saya menyadari bahwa teman saya itu ada benarnya juga, meskipun permasalahan kami berakar pada sifat kami yang (mungkin) sama-sama keras kepala dan egois. Saya terlalu banyak kehilangan diri saya sendiri.

Pernah teman saya yang lain menanyakan apa keinginan terbesar dalam hidup saya. Saya menjawab bahwa saya ingin hidup dengan cara saya sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain. Tapi saya tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, secara keseluruhan. Nyatanya pada sebagian hidup saya, saya telalu banyak memikirkan orang lain, tentang apa keinginan orang lain atau apa yang ingin orang lihat dari diri saya.

Dan mungkin teman saya benar, saat mengatakan bahwa saya telalu sering ingin berada pada zona aman. Entahlah, apakah dia tahu alasan sebenarnya atau tidak. Tapi saya tidak ingin terus-terusan merasakan sakit dan sendirian. Bukannya saya takut pada resiko atau apalah, but I've had enough of it.

Pertengkaran saya dengan teman saya itu membuat saya banyak berpikir ulang. Mungkin selama ini cara saya salah. Saya terlalu banyak berpikir dan mempedulikan apa kata orang lain. Saya juga merasa bersalah pada teman saya itu, walaupun saya tak bisa menjelaskan perasaan saya yang sebenar-benarnya pada dia secara langsung. Saya takut saya dihakimi lagi, tepatnya saya takut penghakiman itu semakin merubah diri saya.

Satu hal yang saya sesalkan. Saya takut pertengkaran saya dan teman saya itu menyebabkan kami menjadi "dingin". Bagaimanapun juga, dia telah jujur pada saya menghargai hal itu, walaupun saya tak bisa mengatakannya secara langsung padanya karena sempat tertutupi oleh kemarahan. Memang bukan salahnya jika dia menghakimi saya karena dia tidak benar-benar tahu alasan dari semua hal di diri saya. Hanya saja, saya tidak tahu apakah saya tahan dihakimi terus-terusan, apalagi untuk hal-hal yang datang dari dalam diri saya sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Saya, masih belum bisa terbiasa diperlakukan seperti itu, walaupun hal itu sudah sangat sering saya alami.

Mungkin, selama ini yang saya pikirkan adalah, saya ingin diperlakukan "normal", bahkan oleh keluarga saya sendiri. Tapi cara saya salah, dan teman saya itu sedikit banyak telah memberikan sedikit kesadaran pada saya. Entahlah, dia mengerti atau tidak. Urusan hati dan perasaan manusia itu bukan suatu hal yang dapat ditebak dengan mudah. Dan saya memang tak bisa membuktikan perasaan saya yang saya katakan padanya.
Tapi, kepada teman saya itulah saya ingin mengucapkan banyak kata maaf dan terimakasih, terutama karena telah mengingatkan saya pada diri saya yang sebenarnya.

Tapi, jika saya tidak suka terlihat "sama" dengan orang lain dan ingin kembali jadi diri saya sendiri yang sebenar-benarnya, akankah saya terus-terusan dihakimi?

Friday, September 27, 2013

Blurb!

Ada seseorang yang berulang kali mengatakan pada saya bahwa blog saya jelek. Ya, blog ini memang saya buat sebagai tempat saya "nyampah", tempat saya menulis hal-hal tidak jelas sesuka hati saya. Jadi, maaf-maaf saja ya bila isinya mengecewakan :)

Salam paling manis,

H.