"Kebebasan yang sebenar-benarnya, memang tidak memiliki teman. Bebas, berarti siap untuk menjadi sendiri."
Jika kau masih yakin.
Wednesday, August 14, 2013
Saturday, July 6, 2013
Kota Kecil Saya
Berada di kota besar seperti sekarang, terkadang membuat saya kangen sama suasana di kota kecil saya. Walau sama-sama tidak begitu ramah, saya kepingin merasakan lagi suasana "dinginnya". Tapi kota kecil saya itu sekarang sudah berubah menjadi semerawut. Saya pikir ia hanya ingin sejajar dengan kota-kota besar yang lain, tanpa menyadari "kemampuannya". Nyatanya, kota kecil saya itu belum siap, dan pada akhirnya tumbuh menjadi "kota" yang dipaksakan, dengan kerlip lampu suram.
Dan saya memang tidak memiliki keinginan kuat untuk tinggal kembali di kota kecil saya itu. Mungkin pada akhirnya kota kecil itu hanya menjadi tempat pelarian saya untuk mengenang masa lalu. Karena kota kecil saya tak lagi ramah.
Dan saya memang tidak memiliki keinginan kuat untuk tinggal kembali di kota kecil saya itu. Mungkin pada akhirnya kota kecil itu hanya menjadi tempat pelarian saya untuk mengenang masa lalu. Karena kota kecil saya tak lagi ramah.
Prinsip?
Beberapa waktu ini menjadi hari-hari yang membingungkan buat saya. Saya sedang punya masalah dengan beberapa teman, tepatnya saya yang merasa bermasalah. Bukan bertengkar atau semacamnya sih, hanya saja saya sedang merasa tidak nyaman. Orang-orang memang berubah, pada akhirnya. Begitu juga dengan teman-teman saya itu. Saya bukannya tidak menerima perubahan itu, tapi saya hanya kesal saja karena teman saya itu seperti keluar dari jalur mengenai hal-hal yang ia yakini, hal-hal yang ia anggap sebagai prinsipnya. Pandangan saya terhadap dia langsung berubah, ternyata dia sama saja dengan sebagian orang lainnya, terlalu banyak omong tanpa ada pembuktian. Dan hal itu yang paling membuat saya kecewa.
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki prinsip. Bagi saya, orang-orang seperti itulah yang benar-benar "hidup", karena dia punya keyakinan dan tujuan. Bukan asal hidup karena telah diberi umur. Orang yang memiliki prinsip menurut saya bukan orang yang plin-plan dan ikut-ikutan arus utama. Dia adalah sejenis orang yang memiliki arus sendiri yang menurutnya paling nyaman.
Tapi sayangnya, sekarang ini banyak sekali orang yang hanya merasa berprinsip, tanpa tahu apa-apa..
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki prinsip. Bagi saya, orang-orang seperti itulah yang benar-benar "hidup", karena dia punya keyakinan dan tujuan. Bukan asal hidup karena telah diberi umur. Orang yang memiliki prinsip menurut saya bukan orang yang plin-plan dan ikut-ikutan arus utama. Dia adalah sejenis orang yang memiliki arus sendiri yang menurutnya paling nyaman.
Tapi sayangnya, sekarang ini banyak sekali orang yang hanya merasa berprinsip, tanpa tahu apa-apa..
Monday, July 1, 2013
Kebebasan
Mungkin karena sedari kecil saya tidak diajarkan untuk memilih sendiri, membangun keyakinan dan belajar bertanggung jawab. Mungkin karena sedari kecil segala hal dalam hidup saya sudah diatur dan teratur.
Saya sering menyalahkan keadaan, karena saya terlalu takut. Saya tak punya keberanian mengambil resiko, karena saya terlalu terbiasa hidup dalam tujuan orang lain, dan saya dituntut harus menjadi begitu sempurna tanpa tahu bagaimana caranya. Padahal saya memiliki banyak kekurangan. Maka beginilah saya, begitu pemalu dan hanya memiliki sedikit kepercayaan diri. Saya sering merasa bahwa saya begitu buruk, karena begitu sulit untuk mencapai kesempurnaan. Saya sering dibanding-bandingkan dengan orang lain yang memiliki kelebihan, tanpa menyadari bahwa mereka pun memiliki kekurangan.
Dan lebih buruknya saya sering tidak tahu bagaimana cara untuk bersikap.
Tetapi pada akhirnya, saya memberontak. Saya ingin bebas dan menjalankan hidup dengan cara saya sendiri, dengan segala konsekuensinya. Setiap orang memang harus bertanggung jawab pada segala jalan yang ia pilih, kan.
Perlahan-lahan, saya membangun keberanian. Selama ini saya bukan apa-apa, dan sekarang saya juga tidak terlalu berusaha untuk menjadi "seseorang" di mata orang lain. Rasanya itu terlalu ambisius. Lagi pula, saya lelah untuk dituntut menjadi sempurna. Saya lelah menjadi orang lain. Saya ingin orang-orang melihat saya sebagai diri saya sendiri, dengan segala kekurangannya.
Tidak mudah, memang, untuk memutuskan dan melakukan banyak hal sendirian. Tapi dengan itu saya merasa hidup dan bebas.
Saya sering menyalahkan keadaan, karena saya terlalu takut. Saya tak punya keberanian mengambil resiko, karena saya terlalu terbiasa hidup dalam tujuan orang lain, dan saya dituntut harus menjadi begitu sempurna tanpa tahu bagaimana caranya. Padahal saya memiliki banyak kekurangan. Maka beginilah saya, begitu pemalu dan hanya memiliki sedikit kepercayaan diri. Saya sering merasa bahwa saya begitu buruk, karena begitu sulit untuk mencapai kesempurnaan. Saya sering dibanding-bandingkan dengan orang lain yang memiliki kelebihan, tanpa menyadari bahwa mereka pun memiliki kekurangan.
Dan lebih buruknya saya sering tidak tahu bagaimana cara untuk bersikap.
Tetapi pada akhirnya, saya memberontak. Saya ingin bebas dan menjalankan hidup dengan cara saya sendiri, dengan segala konsekuensinya. Setiap orang memang harus bertanggung jawab pada segala jalan yang ia pilih, kan.
Perlahan-lahan, saya membangun keberanian. Selama ini saya bukan apa-apa, dan sekarang saya juga tidak terlalu berusaha untuk menjadi "seseorang" di mata orang lain. Rasanya itu terlalu ambisius. Lagi pula, saya lelah untuk dituntut menjadi sempurna. Saya lelah menjadi orang lain. Saya ingin orang-orang melihat saya sebagai diri saya sendiri, dengan segala kekurangannya.
Tidak mudah, memang, untuk memutuskan dan melakukan banyak hal sendirian. Tapi dengan itu saya merasa hidup dan bebas.
Friday, June 21, 2013
Daily Babbling
"Udah, kalo bikin skripsi nggak usah susah-susah, nggak usah dibikin ribet. Skripsinya "dioplos" aja dari skripsi yang lain, di internet juga banyak tuh. Toh kasus di setiap tempat kan hampir mirip." Kata seorang ibu kepada saya. Saya hanya tersenyum mendengarnya, tetapi hati saya merasa miris. Pantas saja Indonesia tidak maju-maju, Rakyatnya saja banyak yang hanya mengandalkan copy-paste. Padahal ibu tersebut adalah seorang pegawai pemerintahan yang saya temui di kantornya.
Memang, urusan mengerjakan skripsi atau tugas akhir itu tidak mudah. Butuh penelitian dan observasi bagi orang sosial seperti saya, serta eksperimen bagi orang-orang sains. Tapi bukan berarti "mencatut" seperti itu dapat dibenarkan. Bagi saya, skripsi bukan hanya sebagai sebuah syarat kelulusan, tetapi juga karya. Dan saya tentu saja tidak mau karya saya jelek dan asal-asalan.
Saya mengambil skripsi tentang sejarah maritim. Bukan hal yang mudah membuat skripsi sejarah, apalagi yang bertemakan maritim. Awalnya terasa seperti "bunuh diri", karena sulit sekali untuk mendapatkan data-data primer. Di Indonesia sendiri sudah bukan rahasia lagi jika rakyatnya tidak terlalu menghargai arsip. Tetapi karena saya menyukai hal yang saya teliti, maka saya kira saya bisa bertahan dengan semua proses kerasnya.
Ah iya, lokasi penelitian saya di Palabuhanratu, sebuah daerah wisata di selatan Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Sukabumi. Jadi tidak salah kan jika saya menikmati proses pembuatan skripsi saya, karena saat mencari data saya seperti sedang setengah liburan. Walaupun terkadang terasa sepi juga, karena sudah jauh-jauh ke Palabuhanratu, tapi saya tidak ada teman untuk menikmati waktu "liburannya".
Sekarang bahkan saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali saya ke luar kota benar-benar untuk liburan.. :|
Memang, urusan mengerjakan skripsi atau tugas akhir itu tidak mudah. Butuh penelitian dan observasi bagi orang sosial seperti saya, serta eksperimen bagi orang-orang sains. Tapi bukan berarti "mencatut" seperti itu dapat dibenarkan. Bagi saya, skripsi bukan hanya sebagai sebuah syarat kelulusan, tetapi juga karya. Dan saya tentu saja tidak mau karya saya jelek dan asal-asalan.
Saya mengambil skripsi tentang sejarah maritim. Bukan hal yang mudah membuat skripsi sejarah, apalagi yang bertemakan maritim. Awalnya terasa seperti "bunuh diri", karena sulit sekali untuk mendapatkan data-data primer. Di Indonesia sendiri sudah bukan rahasia lagi jika rakyatnya tidak terlalu menghargai arsip. Tetapi karena saya menyukai hal yang saya teliti, maka saya kira saya bisa bertahan dengan semua proses kerasnya.
Ah iya, lokasi penelitian saya di Palabuhanratu, sebuah daerah wisata di selatan Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Sukabumi. Jadi tidak salah kan jika saya menikmati proses pembuatan skripsi saya, karena saat mencari data saya seperti sedang setengah liburan. Walaupun terkadang terasa sepi juga, karena sudah jauh-jauh ke Palabuhanratu, tapi saya tidak ada teman untuk menikmati waktu "liburannya".
Sekarang bahkan saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali saya ke luar kota benar-benar untuk liburan.. :|
Thursday, June 20, 2013
Happiness
.Pic taken from here.
Seharusnya memang ketenangan itulah kebahagian yang hakiki, bukan?
Semoga ketenangan selalu menyelimuti saya dan orang-orang yang saya sayangi.
Semoga. Aamiin.. :)
Wednesday, June 19, 2013
Hangat
Seperti tersadarkan, perlahan saya paham kenapa hati saya terasa hangat.
Saya telah memutuskan untuk mencoba menerima segala hal, walau saya memiliki banyak pertanyaan akan banyak hal yang terjadi di sekitar saya. Saya hanya berusaha tulus, walaupun terkadang saya masih memiliki harapan lebih ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya masih berusaha untuk lebih tenang dan lebih menjadi diri saya sendiri dengan segala keanehan yang saya miliki, mungkin.
Saya hanya sedang belajar untuk peduli terhadap orang lain dengan tulus, untuk saya sendiri. Karena rasanya hangat, ketika bisa menjaga orang lain. Setidaknya hal itu yang bisa saya lakukan sekarang, sembari menunggu kehadiran orang yang mampu menjaga saya.
Tapi, diam-diam saya masih memiliki pertanyaan. Adakah ketulusan yang benar-benar murni?
Saya telah memutuskan untuk mencoba menerima segala hal, walau saya memiliki banyak pertanyaan akan banyak hal yang terjadi di sekitar saya. Saya hanya berusaha tulus, walaupun terkadang saya masih memiliki harapan lebih ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya masih berusaha untuk lebih tenang dan lebih menjadi diri saya sendiri dengan segala keanehan yang saya miliki, mungkin.
Saya hanya sedang belajar untuk peduli terhadap orang lain dengan tulus, untuk saya sendiri. Karena rasanya hangat, ketika bisa menjaga orang lain. Setidaknya hal itu yang bisa saya lakukan sekarang, sembari menunggu kehadiran orang yang mampu menjaga saya.
Tapi, diam-diam saya masih memiliki pertanyaan. Adakah ketulusan yang benar-benar murni?
Subscribe to:
Posts (Atom)
