Wednesday, June 4, 2014

Selfnote

"Terkadang seseorang menganggap orang lain berubah, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dirinyalah yang telah menjadi orang asing"

Monday, May 26, 2014

Percaya

Seseorang secara tidak sengaja - secara tidak langsung - secara paksa - secara tidak sadar telah mengajari saya untuk tidak mempercayai janji orang lain, karena begitu banyaknya orang yang lalai dan mudah berjanji. Begitu pula orang yang mengajari saya itu. Ia dan saya sering berjanji untuk satu sama lain, tapi ia sendiri yang membatalkan dan melupakan janji itu, atau bahkan mengalihkan janji itu untuk orang lain. Menyakitkan memang. Dan setelahnya saya tidak mau menaruh harapan pada kepastian. People are too cruel. There're forgetting their promises easily without hesitate.

Tapi sejujurnya saya masih ingin mempercayai. Saya masih mempertahankan keyakinan bahwa di dunia ini masih ada orang yang benar-benar baik dan amanah terhadap omongan maupun janji. Saya tidak ingin kehilangan seluruh rasa kepercayaan dan keyakinan saya. Saya masih ingin percaya dan merasakan kegembiraan ketika sebuah janji benar-benar ditepati. Ah, saya memang harus belajar untuk menghilangkan prasangka buruk.

Sunday, May 25, 2014

Hidup dan Waktu

Salah satu hal yang paling saya sukai dari dini hari adalah matahari terbit. Kalau saya sedang berada di rumah orangtua, saya paling suka naik ke atas atap rumah setelah shalat subuh. Saya suka memandangi langit, dan saa-tsaat itu udara masih terasa dingin menusuk. Dingin yang bagi saya bisa mampu mengembalikan kesadaran. Mungkin saat-saat itu adalah salah satu waktu yang bisa membuat saya benar-benar merasakan "rumah", merasakan kenyamanan dan merasa sangat hidup.

Bagi saya, hidup selalu rumit. Tapi bukannya saya ingin mempersulit atau merumit keadaan. Hanya saja saya merasa hidup itu terlalu banyak berisi misteri, berisi rahasia. Bahkan waktu satu detik pun dapat merubah segala hal, merubah keputusan, dan saya telah beberapa kali mengalami hal itu. Telah beberapa waktu ini saya belajar untuk tidak memiliki pengharapan yang terlalu tinggi untuk hal-hal yang saya rasa belum pasti. Mungkin bagi orang lain sikap saya ini dianggap sebagai sikap pesimistik, walaupun menurut saya bukan itu poinnya. Saya tidak mau menjadi orang sombong yang terlalu percaya diri sehingga melupakan hal lain yang lebih berkuasa, yaitu waktu dan Tuhan. Maka sebagai manusia, saya memilih untuk pasrah setelah berusaha, serta menyiapakan mental untuk kemungkinan terbaik dan terburuk.

Akhir-akhir ini banyak orang yang bertanya pada saya yang intinya berkisar pada pertanyaan "kamu mau melakukan apa?". Jujur saja saya bingung untuk menjawabnya. Saya punya beberapa keinginan dan tujuan yang ingin saya capai, tapi keinginan saya itu bersifat sangat pribadi dan tidak berhubungan dengan pekerjaan yang berorientasi pada uang. Sedangkan kebanyakan orang berpikir bahwa keberhasilan itu baru tercapai jika memiliki pekerjaan  bergengsi dengan gaji melimpah. Tapi pikiran saya tidak seperti itu. Saya ingin melakukan hal-hal yang bisa memuaskan rasa "lapar" di diri saya. Tapi sayangnya, saya belum tau pasti jenis "pekerjaan" apa yang harus saya ambil untuk memenuhi keinginan dan tujuan saya.

Apa saya egois? Bisa jadi. Ibu saya sering mencoba mengarahkan saya untuk melakukan suatu hal yang ia inginkan, tapi saya tak pernah mau jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang ingin saya lakukan. Setelahnya terkadang saya melihat raut kecewa di wajah ibu saya, walaupun ia berusaha untuk menutup-nutupinya. Saya sedih melihatnya, tapi saya juga tidak mau menjadi orang yang merasa terjebak.

Yah, walau bagaimanapun, meskipun saya memiliki beribu keinginan, tidak ada satupun yang memiliki kepastian untuk dapat saya alami atau jalani. Hidup dan waktu memang penuh rahasia, bukan? Dan saya memang harus sudah siap untuk menanggung segala risiko.

Monday, May 12, 2014

Morning!

I'll live happily,

meskipun kau mencoba menjatuhkanku dengan berbagai cara.

:)

Wednesday, April 30, 2014

Graduation

Setidaknya, ada moment baru yang bisa dikenang :)





Another Step

"Haha, iya. yah, manusia kan senang membuat kenangan. Jadi ketika sudah di dunia nyata, manusia perlu media untuk kembali ke dunia fana, atau singkatnya, ngelamunin masa lalu, hehehe..."

Perkataan itu adalah sepenggal percakapan saya dengan salah satu teman jauh saya. Jauh, karena memang kami belum pernah bertatap muka langsung karena tidak ada kesempatan. Sejak tadi pagi kami asyik mengobrol tentang wisuda via chat "mukabuku". Kebetulan momentnya pas, karena tanggal 25 dan 29 April lalu saya diwisuda, dan sekarang saya resmi menyandang titel S. Hum. sekaligus "pengacara" (pengangguran banyak acara, hehehe).

Teman saya itu berpendapat bahwa acara wisuda itu useless. Aneh katanya, sebab melepas pengangguran kok pakai dirayakan. Dipikir-pikir, memang ada benarnya juga teman saya itu. Toh rasa senangnya cuma dirasakan pada saat acara wisuda berlangsung. Beberapa hari kemudian saat mulai kembali pada kenyataan hidup, baru para mantan mahasiswa itu kebingungan, termasuk saya. Bingung karena dihadapkan pada beberapa pilihan yang memang belum dapat menawarkan kepastian apa-apa; akan melamar kerja, berwirausaha, meneruskan studi, atau bersenang-senang menjadi "pengacara". Saya sendiri sepertinya akan memilih opsi ketiga, dengan segala resikonya.

Berbicara soal resiko, untuk melanjutkan kuliah bagi saya perlu pemikiran dan perenungan yang matang. Masalah paling krusial tentu saja adalah waktu dan biaya. Saya perempuan, dan sekarang umur saya sudah duapuluhdua. Bagi masyarakat kebanyakan, seumur saya itu sudah pantas untuk mencari jodoh. Bohong kalau saya bilang saya tidak memikirkan hal itu. Tapi saya juga masih ingin menjalani dan mengalami berbagai hal yang saya tahu akan sulit tercapai bila saya sudah menikah. 

Masalah kedua adalah biaya. Saya belum sanggup membiayai sekolah pascasarjana saya sendiri, karena saya memang belum bekerja. Palingan saya cuma ikut proyekan, atau mencari pekerjaan part time. Soalnya, setahu saya jadwal kuliah S2 di universitas tujuan saya begitu padat, sehingga sulit untuk mencari pekerjaan yang menggunakan jam kantoran. Apalagi ketika mencari beasiswa, saya belum menemukan beasiswa yang pas dengan jurusan yang akan saya ambil. Apakah saya masih harus bergantung pada orang tua? Kedua orangtua saya memang masih sanggup untuk membiayai, tetapi sebagai anak sulung, hal itu memberikan beban moral yang sangat besar bagi saya.

Dan masalah terakhir adalah kesiapan diri. Jika orang lain mempermasalahkan "otak", bagi saya masalah mental dan moral adalah yang terpenting. Tetapi, sejak dulu saya berusaha meyakinkan diri saya untuk tidak takut. Bagi saya, memang akan ada hal yang dikorbankan untuk mencapai segala sesuatu. Maka yang harus saya lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terbaik, maupun terburuk.

Resiko dan masalah memang akan selalu ada. Tetapi semoga saya bisa melewati semua itu. Selamat datang ke dunia nyata, semoga saya tidak hanya dapat melangkah, tetapi juga berlari untuk mencapai keinginan-keingininan saya. :)

P.S. Semoga beberapa bulan lagi status saya sudah berubah menjadi mahasiswa kembali ya..

Monday, April 14, 2014

Kesempatan

Hal yang paling membuat dada saya sesak akhir-akhir ini adalah ketika mengetahui kenyataan bahwa ada suatu hal yang tidak bisa terjadi dalam hidup saya, karena saya memang tidak diberi kesempatan.

Bukannya tidak ada kesempatan, tetapi tidak diberi kesempatan. Ada perbedaan yang nyata di antara keduanya...