Friday, March 28, 2014

Random

ubi dubium, ibi libertas.
(Di mana ada keraguan/pertanyaan, di sana ada kebebasan.)


Mungkin seharusnya ditambahkan juga, di mana tidak ada keraguan, di sana tidak ada "kehidupan".

Mencapai Jeda, Sejenak

Sudah lama saya tidak menulis. Bukannya malas, hanya saja terlalu banyak hal yang saya pikirkan dan renungkan, terlalu membuncah, hingga rasanya saya kesulitan untuk merangkai kata. Karena memang segala hal yang terjadi pada saya di beberapa bulan ini begitu "tak terkatakan".

Kabar baik di awal tahun ini, saat sedang bimbingan skripsi dosen pembimbing saya (sebut saja Pak S) berkata pada saya, "Kamu mau revisi lagi sekarang, atau setelah sidang?" Perkataannya tersebut bisa diartikan sebagai izin untuk mendaftarkan sidang skripsi saya. Memang, setahu saya semua skripsi di jurusan saya pasti mengalami revisi setelah sidang, walau hanya untuk perbaikan redaksional. Tapi, setelah saya berdiskusi singkat dengan Pak S mengenai beberapa kesulitan saya dalam pengerjaan skripsi, saya memutuskan bahwa skripsi saya masih membutukan perbaikan. Ya, semacam sentuhan akhir hingga saya benar-benar merasa bahwa skripsi saya cukup layak untuk diujikan.

Tapi, apakah skripsi saya memang benar-benar layak untuk diujikan? Saya tak tahu. Saya pribadi merasa bahwa saya belum maksimal dalam pengerjaan skripsi, terutama karena terkadang saya kesulitan dalam memilah-milah permasalahan yang harus ditulis secara kronologis berdasarkan urutan waktu, tidak hanya bersifat tematik. Apalagi permasalahan yang saya ambil begitu luas, karena memang pada awalnya saya sempat kebingungan untuk mengerucutkan permasalahan, dikarenakan oleh keberadaan data yang masih simpang siur. Saking luasnya, saya pikir skripsi saya dapat dipecah setidaknya menjadi 2-3 judul penelitian. Hasilnya, skripsi saya hampir menembus 200 halaman. Itu pun sudah ada beberapa bagian yang saya potong. Padahal skripsi lain di jurusan saya rata-rata hanya memiliki 100an halaman, jarang yang mencapai 150 halaman.

Pada bulan Februari, saya kembali menemui Pak S, dan saat itu juga saya diizinkan untuk daftar sidang. Saya pun menjalani sidang dengan agak terburu-buru, karena ketua penguji sidang saya ternyata akan berangkat ke Belanda. Hari Jum'at tanggal 21 Februari saya sidang, itu pun baru mulai pukul 15.30 karena harus menunggu ruang sidang kosong setelah dipakai untuk seminar S2.

Tak banyak kendala yang saya alami selama sidang. Koreksi pun hanya sedikit, sebatas kurang detailnya beberapa penjelasan dalam skripsi saya. Selama sidang jadinya saya semacam berdiskusi dengan para dosen penguji. Mereka bilang isi skripsi saya menarik, karena di jurusan saya memang masih jarang yang menulis tentang kondisi masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa. Ah iya, saya memang mengambil tema sejarah maritim, tentang kehidupan sosial ekonomi nelayan di suatu daerah di pesisir selatan Jawa Barat.

Lega rasanya, karena saya mendapat kelancaran dalam sidang skripsi, bahkan mendapatkan "pencerahan" untuk beberapa hal. Dosen penguji malah terang-terangan memuji skripsi saya, dengan mengatakan bahwa skripsi saya bagus dan "berbobot". Tapi di sisi lain, saya masih merasa belum puas. Saya rasa seharusnya saya masih bisa mengeksplor pembahasan dalam skripsi saya, walau saya sebenarnya bingung harus diapakan lagi.

Tidak banyak sih revisi yang harus saya kerjakan. Tapi revisi terberat justru datang dari Pak S. Ia menyarankan saya untuk mengganti judul skripsi. Sebetulnya gampang saja, tapi jadinya saya harus merombak bab 1 dan bab 4, jadi ya merepotkan. Saya sampai sebal sendiri, kenapa baru sekarang menyuruh saya ganti judul. Selain itu, ada beberapa bagian yang harus dijelaskan dengan lebih detail, sehingga jumlah halaman skripsi saya bertambah. Ya sudahlah.

Akhir bulan April nanti saya akan diwisuda, dan resmilah saya menyandang titel S. Hum.. Selain itu, saya juga resmi menambah jumlah pengangguran di negara ini, karena sejauh ini saya belum mendapatkan (bahkan belum melamar) satu pun pekerjaan tetap. Tapi setidaknya, saya masih punya "pekerjaan" yang harus saya lakukan hingga Juni nanti. Yah, bahkan mungkin jadinya saya harus meninggalkan Pulau Jawa untuk beberapa waktu, kalau jadi. Semoga jadi. :)

Kehidupan saya sebagai mahasiswa untuk sementara mengalami jeda, dan saya harap belum mencapai titik akhir. Masih banyak hal-hal yang ingin saya lakukan, dan melalui "jeda" ini, semoga jalan saya semakin dilapangkan, aamiin!

Monday, February 24, 2014

:)

S. Hum. Alhamdulillah.. :)

Friday, December 6, 2013

Untitled.

Saya pikir saya tidak akan merasa kehilangan yang begitu nyata, karena sudah sejak lama saya telah mempersiapkan diri jika waktunya telah datang.

Perpisahan.

Entah orang-orang yang pergi, atau memang saya yang meninggalkan. Toh saya memang telah memutuskan untuk pergi, mencoba mencari kehidupan baru. Saya takut terjebak pada kenangan yang hingga kini berhasil merubah sudut pandang saya. Bahkan terkadang saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri, dan saya tak suka itu. Saya merasa asing.

Saya pikir, jika saya pergi nanti saya bisa menemukan diri saya yang (sempat) hilang. Tapi, untuk memulai semuanya dari awal lagi tidaklah mudah. Bukan masalah adaptasi, tapi saya pasti akan sendirian untuk beberapa waktu.

Walau bagaimanapun, meskipun saya ingin mengenal diri saya lagi, namun saya juga tak bisa bohong bahwa saya ingin meninggalkan bagian diri saya yang lain. Manusiawi kan, jika saya ingin membuang sisi "gelap" dari diri saya. Walau saya tak tahu, dengan itu apakah saya masih bisa mengenali diri saya nanti.

Yah, saya terlalu bertele-tele rupanya.

Tiba-tiba saya merasa takut, dengan perpisahan. Karena perpisahan hampir selalu meninggalkan bekas. Siap atau tidak siap, waktu untuk berpisah semakin mendekat.

Semoga saya baik-baik saja setelahnya.

Thursday, November 28, 2013

-duapuluhsatu-

Tiba-tiba aku berkeinginan, untuk tetap berada pada pertanda waktu duapuluhsatu. Pada bagian waktu dengan tanda yang tersamar. Aku tak ingin menjadi tua, tepatnya pikiranku yang tak mengizinkan. Karena perubahan waktu memiliki konsekuensi yang menakutkan.

Aku hanya ingin tetap berada pada duapuluhsatu. Tapi sepertinya aku terus dikalahkan oleh waktu.

Thursday, November 14, 2013

Done!

Alhamdulillah, setelah "mengandung" sekian lama :)


Dengan ini, tuntas sudah tanggung jawab saya sebagai Pimred Hawe. Rasanya campuran antara bahagia dan sedih...

Wednesday, November 13, 2013

SEMAR-BAYA

Jadi, beberapa minggu lalu ketika saya sedang di rumah, dengan tiba-tiba saya memutuskan untuk pergi ke luar kota. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya berpergian ke luar kota untuk liburan (biasanya buat liputan atau skripsi). Saya yang sedang suntuk berat langsung menghubungi salah satu teman untuk menemani saya di kota tujuan. Teman saya itu memang telah beberapa kali mengajak saya untuk berlibur di kotanya. Jadilah saya Jumat lalu berangkat, dari Semarang menuju Surabaya.

Saya yang kekurangan dana karena masih berstatus mahasiswa *blushing*, akhirnya memilih kereta ekonomi Kertajaya sebagai alat transportasi saya menuju Surabaya. Selain harga tiketnya yang 50% lebih murah dan waktu perjalanan 3-5 jam lebih singkat daripada bus, saya juga terhindar dari bahaya mabuk perjalanan. Tapi, tapi, perjalanan kereta harus saya tempuh di malam hari, yaitu jam 22.00-03.30 WIB. Takut? Mmh, sebenarnya nggak sih :D

Ya, karena saya sudah biasa, hehehe. Namanya juga mahasiswa pas-pasan tapi seneng jalan-jalan. Apapun caranya, yang penting bisa jalan, hehehe :D

Sebenarnya, kedatangan saya ke Surabaya bukan untuk pertama kali. Dulu saya pernah mampir ke kota itu, ketika dalam perjalanan mudik menuju Lombok bersama keluarga saya dengan menggunakan mobil pribadi. Tapi, karena cuma mampir sekaligus numpang lewat, saya tak benar-benar merasakan pernah ke Surabaya. Jadi, bisa dibilang kemarin adalah pertama kalinya saya keliling-keliling kota Surabaya.

Satu kesan saya saat pertama kali menginjakan kaki di Surabaya; PANAS. Padahal katanya Semarang sempat menjadi kota dengan suhu terpanas di Jawa. Ternyata, suhu Surabaya jauh lebih ganas *fiuhh*. Bahkan teman saya bilang kalau Surabaya pernah mencapai suhu 40 derajat celcius, errr.. -_____-"

Tak banyak tempat yang saya kunjungi di Surabaya, karena memang waktu kunjungan saya singkat. Tapi seperti biasa, bukan tujuannya saja yang menjadi poin utama. Bagi saya, terkadang hal terpenting adalah proses dari perjalanan itu sendiri. Dan seperti biasa pula, dalam proses perjalanan itu saya merenung mengenai banyak hal, tentang apa yang telah terjadi dan (mungkin) akan terjadi pada diri saya.

Anyway, saya tak menyesal dengan kepergian saya ke Surabaya (kayak pernah nyesel aja kalo jalan-jalan :D). Dan mungkin lain kali saya akan kembali ke kota itu, entah kapan. Lagipula, saya belum puas mengelilingi Surabaya. Tapi tak apa, setidaknya satu janji saya pada seorang teman telah tertuntaskan :)

Next destination? Mungkin ke luar Pulau Jawa, entah sendiri atau bersama teman. Semoga budget saya mencukupi :)

*numpang mejeng, hehehe*