Kalau sedang musim hujan seperti ini, biasanya tingkat kerinduan saya terhadap banyak hal semakin bertambah. Seperti saat ini, saya sedang memendam rindu yang tak mungkin tersampaikan. Ah, bukan tak mungkin tepatnya, hanya saja memang tak bisa. Karena rasa rindu itu hanya akan saling menyakiti. Jadi saya pikir lebih baik begini, rindu secara diam-diam.
Ah, melantur lagi..
Sekarang saya sudah semester delapan, semester dimana seharusnya saya sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Oke, sebenarnya sih belum. Kuliah saya sudah habis, tapi saya masih saja berkutat pada pembuatan proposal skripsi. Bukannya saya malas, tapi memang menyusun skripsi sejarah itu nggak gampang. Apalagi saat menentukan topik apa yang ingin dibahas, belum lagi memikirkan ketersediaan arsip dan sumber primer lain. Jadi hasilnya, di jurusan saya ini jarang sekali mahasiswa yang bisa lulus tepat waktu. Dalam jangka empat tahun maksudnya. Sementara orang tua saya sudah memaksa saya untuk lulus cepat. Saya juga penginnya sih lulus cepat, semoga bisa.
Umur saya sudah 21 tahun, dan di akhir tahun nanti umur saya naik kelas ke 22 tahun. Kalau kata orang, umur segini ini sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan. Secara jujur saya juga sudah memikirkannya. Hanya saja saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Mencarikah, atau menunggukah. Tapi yang jelas, yang saya lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri dan mencoba untuk memantaskan diri.
Pernah saya bertemu dengan seseorang, yang pada akhirnya menjadi beberapa orang, kemudian saya berpikir bahwa dialah orang yang tepat. Saya memang tidak menerapkan kriteria yang berlebihan. Saya hanya ingin bersama dengan orang yang mampu menuntun saya, membimbing dan melindungi. Tapi ternyata perkiraan saya terhadap beberapa orang itu salah. Bukannya dia tidak memenuhi kriteria saya, hanya saja memang bukan dia orangnya. Sehingga secara perlahan, saya dan dia berpisah secara baik-baik.
Namun perpisahan yang baik-baik saja pun terkadang menyisakan luka yang begitu dalam. Karena baik-baiknya itu, maka tidak ada rasa sakit hati yang mampu membantu saya untuk melupakan. Entah kapan saya bisa lupa. Maka jadinya saya seperti ini, menyimpan rindu yang tak bisa disampaikan.
Mungkin saya bisa lupa saat saya sudah bertemu dengan orang yang tepat. Semoga saat itu segera datang...
Sunday, March 10, 2013
Friday, March 8, 2013
Seperti Bayangan
Pernah ada seseorang yang berkata pada saya, "...emang kau yang ga berani menciptakan realitas, tapi ga mau ngejalanin realitas yang dibuat orang lain. Pesanku, jangan terlalu hobi nyalahin orang lain..."
Saat itu, saya menjawab bahwa saya takut. Saya takut dengan banyak hal, hingga bahkan terkadang saya takut dengan realitas yang ada. Saya selama ini berusaha untuk keluar dari realitas yang telah dibentuk oleh lingkungan saya, keluarga saya. Saya ingin mandiri dan memiliki otonomi sendiri terhadap diri saya. Intinya, saya ingin bebas.
Tapi terkadang saya berpikir, saya seperti menyalahi aturan yang ada. Jika saya ingin bebas, maka saya akan menyalahi hal-hal yang mungkin bagi banyak orang dianggap penting. Ketika itu saya merasakan ketakutan dalam pikiran saya. Saya ingin bebas, tapi saya sendiri belum bisa untuk melepaskan ikatan.
Saya seperti bayangan, abu-abu, tidak jelas.
Perlahan-lahan, saya mulai menyalahkan keadaan. Saya beranggapan bahwa saya sekarang ini adalah hasil bentukan dari orang lain. Padahal teman saya itu mencoba meyakinkan saya bahwa walaupun diri saya ini adalah hasil bentukan, nyatanya saya sendiri yang memang tidak pernah melawan. Jadi semuanya salah siapa? Menurut teman saya itu, sayalah yang salah.
Saya masih takut, dan hingga kini belum menemukan jawaban. Jika saya benar-benar ingin bebas, sanggupkah saya untuk menerima seluruh konsekuensi yang ada?
Saya rasa, sebagai manusia normal jawabannya adalah tidak.
Saat itu, saya menjawab bahwa saya takut. Saya takut dengan banyak hal, hingga bahkan terkadang saya takut dengan realitas yang ada. Saya selama ini berusaha untuk keluar dari realitas yang telah dibentuk oleh lingkungan saya, keluarga saya. Saya ingin mandiri dan memiliki otonomi sendiri terhadap diri saya. Intinya, saya ingin bebas.
Tapi terkadang saya berpikir, saya seperti menyalahi aturan yang ada. Jika saya ingin bebas, maka saya akan menyalahi hal-hal yang mungkin bagi banyak orang dianggap penting. Ketika itu saya merasakan ketakutan dalam pikiran saya. Saya ingin bebas, tapi saya sendiri belum bisa untuk melepaskan ikatan.
Saya seperti bayangan, abu-abu, tidak jelas.
Perlahan-lahan, saya mulai menyalahkan keadaan. Saya beranggapan bahwa saya sekarang ini adalah hasil bentukan dari orang lain. Padahal teman saya itu mencoba meyakinkan saya bahwa walaupun diri saya ini adalah hasil bentukan, nyatanya saya sendiri yang memang tidak pernah melawan. Jadi semuanya salah siapa? Menurut teman saya itu, sayalah yang salah.
Saya masih takut, dan hingga kini belum menemukan jawaban. Jika saya benar-benar ingin bebas, sanggupkah saya untuk menerima seluruh konsekuensi yang ada?
Saya rasa, sebagai manusia normal jawabannya adalah tidak.
Random
Yang telah pergi biarlah berlalu. Cukup menyimpannya menjadi kenangan, bukan. Hanya saja saya masih mencoba untuk menata kembali.
Saya rasa terkadang pura-pura itu perlu.
Ah, sudahlah.
Saya rasa terkadang pura-pura itu perlu.
Ah, sudahlah.
Aku..
Aku jatuh cinta, padanya yang berada di seberang.
Ia seperti bintang jatuh, hanya sekelebat bayangannya yang mampu ku lihat.
Ia begitu bebas, begitu kekal dalam kebekuan.
Sementara aku di sini terjebak pada masa yang tak terikat,
pada sahara yang menyesatkan dan terkadang begitu memuakkan.
Ia seperti hiasan yang terpajang pada etalase kaca di pertokoan pinggir jalan.
Dengan harga yang aku tahu tak mungkin sanggup aku eja.
Aku serupa penonton, penikmat dari jauh.
Penonton yang hanya sanggup menikmati keberadaannya tanpa ada ekspektasi.
Aku hanyalah kenyataan yang tersamarkan.
Friday, February 15, 2013
Sepi...
"Memang dalam suatu hubungan itu pasti mengenal perpisahan. Seperti umur dan cuaca, tak ada yang kekal."
Perpisahan itu masih meninggalkan jejak yang tak mengenal waktu. Tetapi saya rasa memang harus begitu. Memang setiap manusia akan saling meninggalkan. Namun tetap saja akan datang orang-orang baru yang akan mengisi kekosongan, walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Saya harap begitu...
Akhir-akhir ini saya merasa sepi. Bukan rasa sepi karena tidak ada teman atau orang-orang di dekat saya. Rasa sepi ini berbeda. Rasanya kosong. Mungkin psikis saya yang merasa kesepian, karena sejujurnya akhir-akhir ini saya hanya mendapatkan pengalaman dan kepuasan dalam batas fisik.
Akhir-akhir ini juga saya sedang senang kembali pada kebiasaan lama; berjalan-jalan sendirian. Entah kenapa suasana kota malam hari kembali menarik saya untuk mempererat ingatan pada lintasan-lintasan kenangan. Saya menatapi lampu-lampu kota dengan pikiran melayang-layang sembari membelah keramaian yang menurut saya tak biasa. Hanya satu yang tak ingin saya ingat, tetapi justru hal itulah yang mendominasi pikiran saya akhir-akhir ini.
Memang, terkadang memori yang paling ingin dilupakan itu justru menjadi memori yang paling teringat...
Kali ini saya menyadari betapa sepinya hidup saya saat ini. Tidak datar ataupun stagnan, hanya saja sudah lama saya tak merasakan euforia maupun aliran katarsis. Saya sedang jenuh, mungkin.
Setiap orang memiliki rasa sepi. Itu hanya menjadi bagian dari babak kehidupan, kan?
Malam hari, dengan rasa sepi yang dingin.
Thursday, February 14, 2013
Kau, Aku dan Dua Perempuan Lainnya
Aku tak habis pikir, bagaimana bisa aku bisa jatuh pada seseorang seperti kamu. Mungkin aku terlampau kagum pada pribadimu yang tak pedulian itu. Ah, sepertinya perlu aku tegaskan lagi. Pribadimu yang tak peduli pada perkataan orang lah yang membuatku kagum.
Kau pernah berkata bahwa aku berada di dunia antara. Di satu sisi aku ingin bebas, namun di sisi lain aku tak bisa lepas dari ikatan sosial dengan manusia lain. Nyatanya hidupku memang seperti boneka dan terlalu beraturan. Aku mendamba kebebasan namun tak tahu cara untuk menggapainya, Aku terlalu takut pada akibat-akibat yang akan timbul jika aku memaksakan untuk bebas. Sementara kamu telah terbiasa untuk tak mempedulikan hal-hal seperti itu. Bagiku, kau telah mendapatkan kebebasanmu sendiri.
Aku jatuh padamu, namun sayangnya kau tidak. Sebelum bertemu denganku, kau telah lebih dulu terjatuh pada dua orang yang entah bagaimana memiliki suatu hal yang saling mengkaitkan, dan sialnya begitu pula denganku. Kami bertiga memiliki suatu hal serupa. Suatu hal yang dulu aku banggakan, namun kini aku benci. Menurutmu, hal itu adalah kutukan. Kutukan, karena pada akhirnya kami harus berurusan dengan kau.
Berurusan denganmu meninggalkan banyak hal, namun selalu berakhir dengan satu hal; rasa sesak. Ya, diantara kami bertiga memang aku lah yang datang paling terakhir, namun sayangnya aku tidak menjadi yang terakhir. Begitu pula dengan dua perempuan lainnya. Sayangnya kau tak memilih dan memang tak dipilih, bahkan aku pun tak mau meskipun aku telah semakin dalam jatuh padamu. Aku merasa aku tak memiliki hak apapun karena aku hanyalah pendatang, mungkin juga pengusik. Dan mungkin kau memang orang yang salah bagiku.
Tolong doakan saja, semoga lain kali aku bisa menemukan orang yang tepat. Orang yang tak meninggalkan luka terlalu dalam sepertimu.
Kau pernah berkata bahwa aku berada di dunia antara. Di satu sisi aku ingin bebas, namun di sisi lain aku tak bisa lepas dari ikatan sosial dengan manusia lain. Nyatanya hidupku memang seperti boneka dan terlalu beraturan. Aku mendamba kebebasan namun tak tahu cara untuk menggapainya, Aku terlalu takut pada akibat-akibat yang akan timbul jika aku memaksakan untuk bebas. Sementara kamu telah terbiasa untuk tak mempedulikan hal-hal seperti itu. Bagiku, kau telah mendapatkan kebebasanmu sendiri.
Aku jatuh padamu, namun sayangnya kau tidak. Sebelum bertemu denganku, kau telah lebih dulu terjatuh pada dua orang yang entah bagaimana memiliki suatu hal yang saling mengkaitkan, dan sialnya begitu pula denganku. Kami bertiga memiliki suatu hal serupa. Suatu hal yang dulu aku banggakan, namun kini aku benci. Menurutmu, hal itu adalah kutukan. Kutukan, karena pada akhirnya kami harus berurusan dengan kau.
Berurusan denganmu meninggalkan banyak hal, namun selalu berakhir dengan satu hal; rasa sesak. Ya, diantara kami bertiga memang aku lah yang datang paling terakhir, namun sayangnya aku tidak menjadi yang terakhir. Begitu pula dengan dua perempuan lainnya. Sayangnya kau tak memilih dan memang tak dipilih, bahkan aku pun tak mau meskipun aku telah semakin dalam jatuh padamu. Aku merasa aku tak memiliki hak apapun karena aku hanyalah pendatang, mungkin juga pengusik. Dan mungkin kau memang orang yang salah bagiku.
Tolong doakan saja, semoga lain kali aku bisa menemukan orang yang tepat. Orang yang tak meninggalkan luka terlalu dalam sepertimu.
Kenangan...
Dulu kau pernah berkata bahwa suatu saat kau akan pergi, menghilang dan melupakan. Bagimu masa lalu tak pernah penting dan kau memang tak ingin menyimpan kenangan. Yang telah lalu tak akan pernah berulang dan kau tak ingin mengingatnya. Bagimu kehidupan adalah saat ini dan masa depan.
Kau kerap memperolok aku dengan kegandrunganku terhadap masa lalu. Bagiku menelusuri jejak kehidupan manusia adalah suatu hal yang menarik, namun bagimu hal tersebut sungguh tidak berguna dan membosankan. Terkadang kupikir kau menganggap bahwa masa lalu adalah luka dan kau tak ingin mengenangnya, sedangkan aku kau anggap begitu senang mengungkit-ungkit masa lalu. Nyatanya kau dan aku memang berbeda.
Aku teringat dengan pertemuan terakhir kita di sudut kamarmu yang selalu kau biarkan berantakan. Setiap aku bertanya kenapa, kau selalu berkata bahwa keadaan kamarmu yang seperti itu membuatmu nyaman. Kau tak suka diintervensi oleh orang lain dan lebih suka berbuat semau hati. Aku masih teringat dengan obrolan kita di suatu malam. Kau berkata bahwa kau lebih memilih untuk dijauhi oleh orang lain namun kau tetap menjadi dirimu sendiri dan berbuat semau-maumu. Kau tidak ingin menjadi palsu dan menuruti keinginan orang jika itu tidak sesuai dengan hatimu.
"Aku tidak mengerti."
"Kau memang tidak akan pernah mengerti..."
Kau ingin melupakan dan mungkin juga dilupakan. Tetapi kau tahu, bahwa aku tak akan pernah lupa. Dan hingga kini pun aku tetap tak bisa berhenti mengingat, bahkan hingga waktu-waktu setelah kau pergi.
Semoga kau baik-baik saja, dan semoga kau bahagia. Selamat menempuh jalan masing-masing. Terimakasih, untuk telah memcipta kenangan bersamaku.
Kau kerap memperolok aku dengan kegandrunganku terhadap masa lalu. Bagiku menelusuri jejak kehidupan manusia adalah suatu hal yang menarik, namun bagimu hal tersebut sungguh tidak berguna dan membosankan. Terkadang kupikir kau menganggap bahwa masa lalu adalah luka dan kau tak ingin mengenangnya, sedangkan aku kau anggap begitu senang mengungkit-ungkit masa lalu. Nyatanya kau dan aku memang berbeda.
Aku teringat dengan pertemuan terakhir kita di sudut kamarmu yang selalu kau biarkan berantakan. Setiap aku bertanya kenapa, kau selalu berkata bahwa keadaan kamarmu yang seperti itu membuatmu nyaman. Kau tak suka diintervensi oleh orang lain dan lebih suka berbuat semau hati. Aku masih teringat dengan obrolan kita di suatu malam. Kau berkata bahwa kau lebih memilih untuk dijauhi oleh orang lain namun kau tetap menjadi dirimu sendiri dan berbuat semau-maumu. Kau tidak ingin menjadi palsu dan menuruti keinginan orang jika itu tidak sesuai dengan hatimu.
"Aku tidak mengerti."
"Kau memang tidak akan pernah mengerti..."
Kau ingin melupakan dan mungkin juga dilupakan. Tetapi kau tahu, bahwa aku tak akan pernah lupa. Dan hingga kini pun aku tetap tak bisa berhenti mengingat, bahkan hingga waktu-waktu setelah kau pergi.
Semoga kau baik-baik saja, dan semoga kau bahagia. Selamat menempuh jalan masing-masing. Terimakasih, untuk telah memcipta kenangan bersamaku.
Subscribe to:
Posts (Atom)