Tuesday, December 4, 2012

ORANG ANEH MACAM SAYA

Orang aneh macam saya bukan tipe yang mudah dipahami. Seperti benang kusut, ketika dicoba untuk diurai malah akan bertambah kusut. Orang aneh macam saya lebih suka memendam perasaan, introvert mereka bilang. Orang aneh macam saya lebih suka melamun, bengong sendirian di tengah keramaian, karena sesungguhnya dunia pikiran saya lebih ramai dan menarik. Orang aneh macam saya mungkin bukan menjadi pilihan nomor satu untuk dilirik, tapi akan menjadi orang terakhir yang tetap ada, tetap tinggal.

Orang aneh macam saya mungkin bukan orang paling bahagia, karena lebih sering memastikan kebahagiaan orang lain. Orang aneh macam saya mungkin terlihat sulit berekspresi, tapi bisa menjadi orang yang paling tulus.Orang aneh macam saya suka menari-nari, bernyanyi, tertawa, dan menangis sendiri, karena sulit untuk berekspresi lebih di depan orang lain.

Orang aneh macam saya tidak suka keramaian, apalagi berada di tengah obrolan tidak penting. Orang aneh macam saya bisa menjadi orang paling pendiam sekaligus paling cerewet. Orang aneh macam saya bisa terlihat seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, sibuk dengan dunianya sendiri.

Orang aneh macam saya sulit berkata-kata dalam omongan, tapi lebih suka berkata lewat tulisan. Orang macam saya memang aneh, katamu, kan?

Wednesday, November 14, 2012

SEMOGA

Saya boleh teriak ga?

Saya pengin teriak keras-keras sampai guling-guling karena kecapekan. Rasanya otak saya kepenuhan dan isinya udah meluber kemana-mana. Nah, saya yang bingung nyari wadah buat luberan isi "otak" malah jadinya cuma bengong-bengong doang, bingung mau ngapain.

Sudah beberapa waktu ini banyak hal yang saya lakukan dan pada akhirnya malah tidak berguna dan menghasilkan apa-apa, useless. Jadinya saya juga sempat uring-uringan ga jelas. Apalagi kalau ingat dengan deadline hawe (LPM Hayamwuruk), tema majalah dan proposal skripsi. Kepala saya rasanya kayak ditumpuki batu-batu kali yang berat banget. Dan ga tau kenapa, akhir-akhir ini di pikiran saya cuma ada dua hal; Hawe dan (calon) skripsi, hmm...

Nekat ga sih, saya yang sudah termasuk angkatan tua, sudah mulai persiapan skripsi tapi masih (mencoba) tetap aktif di organisasi . . .
Ah, toh pada awalnya saya saja yang kepedean, yakin bahwa saya pasti bisa untuk menghandle semuanya. Tapi ternyata saya salah, pada akhirnya juga saya malah kewalahan sendiri untuk membagi pikiran.

Saya butuh liburan, kayaknya. Penginnya sih pergi ke laut atau gunung, atau minimal pergi dari kota mimpi, walaupun tujuannya masih ga jelas. Dan dari beberapa minggu yang lalu sebenarnya saya sudah punya banyak rencana untuk pergi-pergi, termasuk pada hari libur nasional di minggu ini. Tapi, tapi, semua rencana malah gagal. Ada saja hal-hal di luar dugaan yang datang silih berganti. Sementara saya sudah beberapa kali membatalkan acara luar kota yang tidak terlalu saya prioritaskan, jadi menyesal rasanya. Ah, sepertinya saya memang ga ditakdirkan untuk rehat sejenak deh... :(

Ga tau kenapa minggu-minggu ini kebanyakan yang saya lakukan berujung pada satu kata: useless. Semoga minggu-minggu kedepan apa-apa yang saya lakukan tidak lagi berujung pada kata useless . . .

Ya, semoga.

Sunday, November 4, 2012

DUNIA ANTARA

Orang-orang datang, orang-orang pergi. Tak ada yang menetap selain bekas yang ditinggalkannya. Entah itu berbentuk memori, luka atau kenangan.

Beberapa waktu ini saya merasa diri saya sedang bermasalah. Bahkan karena terlalu berat memikirkannya,  saya sering mual-mual ingin muntah, sakit perut, hingga demam di malam hari. Ada banyak hal yang mempengaruhi mood saya akhir-akhir ini. Saya pikir setelah saya pulang dan rehat sejenak, masalah saya bisa berkurang. Memang iya, saya tidak terlalu memikirkan masalah-masalah itu, tapi entah kenapa ada satu-dua hal yang malah membuat saya semakin bermasalah. Ternyata tidak semudah itu ya untuk membentuk lupa.

Saya bingung, dan saya banyak mempertanyakan banyak hal. Segala hal terasa samar dan tak teraba. Saya merasa banyak hal yang berubah dari diri saya, dan saya kewalahan menghadapinya. Jadinya saya lebih sering merasa bingung untuk melakukan apa. Lalu saya harus bagaimana untuk mengerti keadaan? Sementara masalah-masalah saya muncul silih berganti saat saya bertemu dengan orang-orang yang justru dari merekalah saya mengharapkan penyelesaian untuk banyak masalah saya.

Saya merasa sangat sepi kali ini. Sepi yang berbeda dari biasanya. Saya yang merasa tidak sanggup pada akhirnya berusaha mencari orang lain, minta ditemani. Saya merasa kali ini jika saya sendirian saya akan meledak. Tapi tidak semua hal bisa saya ungkapkan ke orang lain, dan pada akhirnya yang saya lakukan adalah berdiam diri. Saya masih belajar untuk menerima, untuk melepaskan, walaupun saya tahu konsekuensi dari proses itu. Konsekuensi yang setara dengan kehilangan salah satu bagian dari diri saya.

Kata seorang teman yang menjadi salah satu tempat saya mengadu, saya sedang berada di dunia antara. Dalam artian saya masih bingung untuk memutuskan akan jadi apa diri saya. Saya yang begini adanya, menjadi diri sendiri, atau menjadi apa yang diharapkan oleh orang lain. Sementara hampir sepanjang hidup saya, saya sering dipaksa untuk menjadi orang yang diharapkan orang lain. Mungkin saya lebih mirip robot yang dibentuk oleh orang-orang di sekitar saya. Saya lelah, teramat sangat. Semenjak dulu pun saya sudah terbiasa untuk memberontak dan melarikan diri. Karena ego membuat saya tidak ingin menjadi siapa pun. Saya hanya ingin bebas menjadi diri apa yang saya inginkan tanpa ada yang mendikte. Tapi konsekuensi dari hal itu adalah saya akan terus mengalami kesepian. Dan saya benci itu.

Masalah saya nyatanya tidak memiliki jalan untuk selesai. Tapi saya harus memilih, bukan? Dan itu tidak mudah, karena apapun jalan yang saya pilih nyatanya akan membunuh satu bagian dari diri saya, entah apa.

Pertanyaannya adalah, sudah siapkah saya?

Thursday, October 25, 2012

FREEDOM

Selamat jalan, selamat menempuh jalan masing-masing.

Kemarin, setelah saya pulang ke rumah dan melakukan perjalanan lagi, saya menyadari banyak hal. Mengenai rasa bahagia, marah, takut, rindu, hingga kebebasan. Satu hal yang saya sadari, kebebasan tak selamanya melahirkan rasa "bebas" seutuhnya. Karena kebebasan yang selama ini saya paksakan juga melahirkan satu hal: rasa sepi.

Dan saya semakin menyadari satu hal, tidak ada kebebasan yang benar-benar mutlak. Manusia selamanya akan terjebak pada manusia lainnya, pada situasi, keadaan, bahkan pada pikiran dan perasaannya sendiri. Bahkan untuk menjadi mati pun tidak memberikan kebebasan apa-apa. Apa kebebasan mutlak itu semu? Bisa jadi.

Ah, saya jadi ngelantur lagi. Dari dulu tujuan utama saya adalah pencapaian akan kebebasan itu. Tapi saya semakin menyadari bahwa usaha saya tak membuahkan apa-apa. Apa saya gagal? Tidak juga. Banyak hal yang telah saya dapatkan, terutama kesadaran akan realitas dan penerimaan akan segala hal. Saya kini sedang mencoba berhenti untuk menyalahkan apa pun.

Minggu depan, setelah saya kembali ke kota mimpi, saya telah bertekad akan banyak hal. Bertekad untuk melupakan dan membuka diri. Bertekad untuk mencoba tidak terlalu terikat dengan perasaan. Saatnya saya untuk meninggalkan terlebih dahulu, meninggalkan orang-orang yang mencoba menahan saya namun tak pernah mau mengerti saya. Saya ingin pergi kemana-mana, mungkin hingga saya menemukan orang yang benar-benar bisa mengikat saya, memberikan tempat untuk saya pulang.

Setidaknya saya ingin bebas untuk menjadi diri saya sendiri . . .

Thursday, October 18, 2012

SELFNOTE

Menjadi orang yang dinomorduakan itu menyebalkan ya. Rasanya menjadi yang tidak dipentingkan dan diperhatikan itu sungguh sesak. Egois memang, karena hampir setiap manusia memiliki sifat "keakuan", entah itu dominan atau tidak. Entahlah, ditengah kesensitifan saya yang sedang kumat-kumatnya, saya merasa sesak dengan kenyataan bahwa beberapa orang-orang terdekat saya, yang bahkan terkadang saya pedulikan melebihi diri saya sendiri, sedikit demi sedikit seakan melupakan keberadaan saya. Saya merasa menjadi orang cadangan, yang baru diperbolehkan untuk beraksi bila dibutuhkan. Semacam pelarian, tidak penting.

Saya hanya sedih. Saya sedang membutuhkan bantuan, dukungan, tetapi yang saya dapatkan hanyalah penyalahan. Sementara di keluarga saya sendiri seringnya keinginan saya itu menjadi prioritas nomor sekian, tidak dipentingkan. Lalu buat apa saya ada, jika nyatanya hidup saya adalah milik orang lain, dimana hanya ada mereka, mereka, dan mereka.

Untuk sekali ini, saya ingin menjadi orang yang egois, boleh kan . . .

Wednesday, October 17, 2012

SELFNOTE

Saya sedang tidak baik-baik saja, lagi . . .
Suasana hati saya kembali buruk, ga tau kenapa. Tiba-tiba saya bisa jadi sangat sensitif. Karena beberapa alasan juga sih, sepertinya akhir-akhir ini sedang ada beberapa orang yang terus berusaha membuat saya kesal.

Saya sedang kesepian, saya akui itu. Orang-orang yang dekat dengan saya seperti jauh. Lingkungan saya tidak sepi, tetapi seperti ada jarak yang memisahkan saya dengan mereka. Saya seperti kehilangan kendali, tenggelam dalam dunia milik sendiri. Sementara mereka juga terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing, dan saya dipaksa untuk mengikuti. Saya lelah, langkah saya sedang terlalu berat.

Saya sedang merasa kurang nyaman dengan beberapa hal. Saya seperti berada di tempat yang salah dengan kondisi yang salah pula. Saya seperti orang asing yang ga tau apa-apa. Saya cuma orang asing, dan tidak ada yang menyenangkan untuk menjadi terasingkan.

Saya merasa banyak hal yang salah pada diri saya akhir-akhir ini. Sifat mudah sinis saya keluar lagi pada akhirnya, dan saya susah mengendalikannya. Jadinya malah saya yang rugi sendiri.
Ah, saya pengin menyepi, tapi saya ga mau sendirian . . . :(

Monday, October 15, 2012

AKU BERMIMPI

Pada akhirnya semua yang ada akan pergi meninggalkan. 
Lalu kenapa saya tidak memulainya duluan . .


Aku bermimpi, bisa melihat dunia,
berlari menembus padang ilalang, menjelajahi kaki langit.
Aku bermimpi, bisa melihat dunia,
mengarungi laut biru, menembus batas.

Mungkin pada akhirnya saya yang harus meninggalkan terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya ditinggalkan.
Cukup dengan bermimpi, maka saya bebas, tak terikat . . .