Sunday, December 18, 2011

PERBATASAN

Saya masih berdiri di batas senja, memarahi langit yang menelan sang jingga. Mengulang kembali kesia-siaan itu. Ah, bukankah itu tak perlu untuk melawan takdir. Maka biarkanlah langit, tanah, dan lautan berseru, di antara tangis yang tergugu, di sela-sela doa yang terabaikan.

Maka saya terdiam disini. Terdampar, dan masih mencoba mengetuk pintu kebebasan. Berharap ia dapat membuka sedikit, memberikan celah untuk masuk, menyelinap.

Bukankah itu menyenangkan, untuk terbang mengepakkan sayap. Ya, sayap pemberianmu sayang. Sayap dengan rangka yang teramat rapuh. Namun kau telah mengikatnya cukup kuat, hingga mampu mengangkat seluruh beban yang ikut saya bawa. Kau memberi saya kesempatan untuk melempar jauh kerikil-kerikil itu, ke jalan tak berujung di luar jendela kotak.

Dan kini saatnya bulan tenggelam, bersembunyi di balik punggung malam. Adakah lagi yang kau sesalkan? Selain cahaya yang semakin meredup, tak lagi menyilaukan. Kau takut akan kungkungan gelap, sementara nyala itu pelan-pelan menghilang dari bola matamu.

Doa-doa memanjat, mendesak keluar dari atap pembebasanmu. Tenang saja, saya masih berdiri di perbatasan, menunggu pagi yang membebaskan terang.

Thursday, December 15, 2011

BERANJAK

Image taken from random googling

Itu hanyalah masalah waktu, tentang bagaimana detik-detik itu berlarian. Bukan masalah umur yang membawa perubahan, tetapi itu hanyalah kita, tentang seberapa siap kita untuk menyambut waktu, berdamai dengannya.
Kemarin saya bertemu kembali dengan 14 Desember ke-20 dalam hidup saya. Sekali lagi waktu mengalahkan saya, dan saya belum berbuat apa-apa. Masih banyak hal yang tak sengaja saya lewati, bahkan banyak moment-moment kecil yang saya sesali karena saya tak sempat untuk mengalaminya. Bahkan lebih banyak hal yang saya sesali, karena apa yang saya lakukan masih bisa terhitung dengan mudah.

Perubahan umur itu bukan hanya masalah tentang tubuh yang semakin menua. Tetapi semoga saja perjumpaan saya kembali dengan 14 Desember ini memberikan perubahan, sebagai penjejak awal dari segala kebaikan.
Ah, saya sudah punya embel-embel puluhan sekarang, nggak ada lagi si belas-belas itu. Saya semakin beranjak tua, tetapi apakah saya semakin dewasa?
Padahal saya masih pingin seperti anak kecil itu, yang masih bebas berlari-larian, berceloteh riang sambil bermain bola atau layangan di sore hari. Saya masih kepingin memiliki kepolosan anak kecil . . .
Hari kemarin, saya menyadari, bahwa hidup hanya sesederhana itu. Kehidupan, kebahagiaan itu berasal dari hati. Satu doa saya di pengulangan hari itu, seberat apapun hidup, sesulit apapun langkah saya, atau seberat apapun beban saya, semoga hidup saya selalu dilimpahi senyuman. Senyuman tulus penerimaan, karena hidup bukan hanya tentang meminta, tetapi menerima.

Saturday, December 10, 2011

GEMPA LITERASI

Saya kemarin menghadiri acara di aula Suara Merdeka (Jl. Kaligawe Semarang). Acara ini semacam workshop kepenulisan bersama Gol A Gong yang bertajuk "Gempa Literasi". Gempa Literasi di sini maksudnya adalah menghancurkan kebodohan, terutama lewat membaca dan menulis.

Sebenarnya Jum'at kemarin Gol A Gong sudah menyambangi kampus saya (FIB Undip) dalam acara yang diselenggarakan atas kerja sama antara KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) dan Teater Emka. Awalnya saya tidak tahu bahwa ada Gol A Gong di lantai 1 kampus. Begitu tahu, saya langsung pingin ikut lihat. Padahal waktu itu saya sedang berada di lantai 3 dan sedang menunggu narasumber untuk diwawancara. Jadinya saya nontonnya bolong-bolong.

Gol A Gong sempat bercerita mengenai masa lalunya. Ia mulai menulis sejak umur 12 tahun, di tengah segala keterbatasannya. Perlu diketahui, tangan kiri Gol A Gong sudah cacat sejak kecil. Namun semangatnya untuk membaca dan menulis semakin tumbuh, tatkala Ayahnya berkata, "Ini buku, bacalah! Maka kamu akan lupa bahwa kamu cacat".

"Buku itu wanita (oke, dalam kasus ini kata wanita perlu diubah menjadi pria, karena saya perempuan), maka nikahilah buku . . ." Kata Gol A Gong.
"Buku itu tanda, maka kenali maknanya . . ." Kata Dayat, salah seorang teman saya. Oia, Dayat ini berhasil mendapatkan sebuah buku Gol A Gong yang berjudul Menggenggam Dunia lewat kata-kata itu. Ternyata sebuah kalimat pun bisa sangat berharga ya.

Saya jadi teringat dengan masa kecil saya. Dulu, saya sudah bercita-cita untuk kuliah di jurusan sastra Indonesia, walaupun keinginan itu sempat ditentang orang tua saya. Saya sempat memiliki mimpi-mimpi tentang dunia sastra, seperti menjadi penulis dan bermain teater. Bacaan saya semenjak SD adalah buku-buku terbitan Balai Pustaka, seperti Salah Asuhan, dll (Saya lupa judul-judulnya). Bahkan majalah Horison pun sudah saya lahap, walaupun pada masa itu saya tidak terlalu mengerti karena diksinya yang terlalu nyastra.

Sering saya berpikir kalau saya salah jurusan. Saya tidak pernah menyesal masuk jurusan Sejarah, hanya saja saya memiliki minat yang sangat besar untuk mempelajari sastra. Jujur saja, terkadang saya iri pada teman-teman saya yang berasal dari jurusan Sastra Indonesia. Di jurusan saya sendiri, tidak banyak orang yang nyambung dengan saya. Tetapi begitu saya main dengan teman-teman dari Sastra Indonesia, saya seperti menemukan potongan diri saya yang sempat hilang.

Friday, December 9, 2011

PERMEN KAPAS

image was taken from here
Sekali lagi aku terkenang dengan moment itu, saat berjalan di sore hari, menyapukan tangan pada hamparan ilalang. Dan kau datang dengan kesan yang begitu manis, semanis permen kapas. Kau tahu, dari dulu aku suka permen kapas, tentang bagaimana mereka bisa begitu manis dan lembut. Manis yang begitu menggigit, dan aku tak pernah peduli. Kau bilang gigiku bisa bolong-bolong. Tak apalah. Rasa suka ini masih lebih besar dibandingkan dengan rasa takut nanti akan sakit gigi.

Tetapi kau tahu, aku tak peduli dengan permen kapas itu kala aku melihat senyummu. Ternyata melihatmu tersenyum memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dari sekadar menikmati permen kapas di sore hari. Kau bilang kau tidak mau membawakanku permen kapas. Tetapi aku tidak peduli. Melihatmu tersenyum sudah cukup membuatku sakit gigi.

Kau bilang kau akan sering-sering mengajakku ke pasar malam, melihat kerlap-kerlip lampu di setiap wahana yang ingin aku naiki. Kau senang melihatku kegirangan saat aku terpana melihat penjual permen kapas ada di mana-mana. Tetapi itu tidak perlu, bercakap-cakap denganmu sudah cukup membuat pikiranku berseru-seru ramai, lebih ramai dari keramaian celoteh anak kecil di pasar malam.

Dan permen kapas itu, apakah kau ingat? Satu-satunya permen kapas besar yang kau belikan untukku. Kau tahu, aku menyimpan permen kapas itu begitu lama, karena aku tak sanggup memakannya. Bukan karena aku takut sakit gigi. Aku hanya tidak mau kenangan itu hilang bersama setiap sapuan rasa manis yang mencair di mulut.

Tetapi kau ternyata sama saja dengan permen kapas itu, begitu cepat menghilang dengan menyisakan sedikit cecapan rasa manis.

Saya menemukan tulisan ini di diary lama saya. Tiba-tiba saya teringat dengan sepotong kecil kenangan itu, saat kemarin di sore hari saya kembali menikmati permen kapas. Permen kapas pertama yang saya makan setelah kenangan itu. Ternyata rasanya masih sama. Manis dan lembut, dan saya masih suka.

Thursday, December 8, 2011

YOU ARE (PRETENDING TO BE) A GOOD FRIEND

Saya punya banyak teman. Ya, tidak sebanyak itu juga. Saya bukan orang yang populer-populer amat. Teman saya di kota baru ini hanya berada di seputaran teman kuliah dan organisasi. Selebihnya hanya teman kos dan teman-teman lainnya yang terkadang menjadi tong sampah tempat saya meluapkan emosi. Mungkin ada sedikit juga teman-teman lain, yang terkadang hanya bertemu dan menukar sapaan saja.

Di antara sejumlah teman-teman itu tentu saya banyak memiliki teman perempuan. Sebenarnya saya susah untuk dekat dengan seseorang. Akrab mungkin bisa, tetapi tetap saja hati saya tidak bisa menjadi dekat. Saya agak kurang suka dengan istilah "sahabat". Menurut saya, tidak ada orang yang rela berteman tanpa timbal balik. Ketulusan di zaman sekarang sudah menjadi hal yang terlalu mahal dan hampir tak terbeli.

Saya susah dekat dengan seseorang, bukannya tanpa alasan. Orang-orang yang saya temui hingga kini kebanyakan berteman hanya sebatas kenal dan ngobrol sana-sini. Bahkan banyak juga yang berpura-pura berteman. Saya sendiri bingung dengan konteks kata pertemanan. Apakah bisa seseorang dibilang teman, bila di depan dia (sok) perhatian, tetapi di belakang ternyata dia banyak membicarakan. Bahkan ada juga teman yang menghubungi hanya saat dia membutuhkan. Jadi teman itu apa? Seseorang yang bisa dimanfaatkan?

Rata-rata teman saya suka bergosip. Tidak hanya yang perempuan, bahkan yang laki-laki pun malah lebih sering membicarakan orang. Saya terkadang jengah, sehingga hanya berhati-hati mendengarkan dan tidak mau ikut-ikutan. Saya sendiri pun merasakan, apa yang saya kerjakan sering menjadi topik pembicaraan teman-teman saya itu.

Saya bukannya orang yang anti sosial. Saya juga tidak mau sok suci dengan mengaku tidak pernah membicarakan orang. Tetapi setidaknya saya berusaha untuk tidak bergosip dan membicarakan urusan-urusan orang lain yang tidak penting. Bagi saya, teman itu haruslah saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Saya pun kali ini memilih untuk diam, dan berusaha menjadi seorang teman yang bisa menjaga rahasia orang lain.

Salah satu teman saya pernah bilang, kita ini makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Tetapi terkadang saya merasa lelah bila harus terus-terusan menjadi boneka. Lelah rasanya bila harus terus mendengarkan apa kata orang lain, dimana diri kita harus menjadi baik di mata orang lain, sedangkan di dalam diri sendiri berkecamuk banyak penolakkan. Saya seperti sulit untuk menjadi diri sendiri.

Wednesday, December 7, 2011

ERROR

Hari ini sebenarnya saya kenapa? Seharian berjalan dengan tatapan kosong. Apa ini karena pengaruh mata? Kaca mata saya memang sedang patah, sehingga saya terpaksa memakai contact lens berhari-hari. Lebih parahnya, mata saya yang kanan iritasi, dan selama berhari-hari perihnya masih terasa. Bahkan terkadang saya harus terus menutup mata saya karena tidak tahan. Padahal merah-merahnya sudah hilang. Alhasil selama berhari-hari saya terpaksa memakai contact lens hanya untuk mata kiri saya.

Saya sudah berniat untuk membetulkan kaca mata saya, tetapi ada saja halangannya. Saya masih belum sempat. Lagi pula sepertinya kaca mata saya memang sudah harus pensiun. Umurnya sudah dua setengah tahun. Tetapi saya sedang tidak punya uang, sedangkan untuk meminta ke orang tua rasanya segan. Soalnya rumah saya sedang di renovasi dan pasti membutuhkan dana ekstra.

Saya sekarang masih kaget. Setengah jam yang lalu motor saya ditabrak oleh mobil di belokan yang menuju kampus jurusan saya. Motor saya kena, di bagian knalpot. Sedih rasanya. Saya mau marah pun tidak bisa, saya terlalu kaget, sementara pikiran saya malah nge-blank. Setelah ditabrak saya hanya terdiam lama, dan kemudian buru-buru memasuki parkiran fakultas saya. Saya bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang berkerumun dan orang yang menabrak saya. Saya baru bisa berpikir ketika saya sudah di parkiran. Ketika saya cek keadaan motor saya, ternyata penutup knalpotnya hancur . . . :(

Lemas sekali rasanya. Sampai-sampai saya tidak bisa berjalan tegak, terlalu limbung. Apalagi setelah saya ingat, mobil yang menabrak saya mirip dengan mobil dosen saya. Tetapi supirnya mas-mas, masih muda. Saya jadi khawatir. Mungkin itu salah satu alasan saya terdiam lama. Saya tidak ingin ada masalah, dan saya tidak suka menjadi pusat perhatian.

Sebenarnya ada apa dengan saya. Sepertinya ini bukan hanya masalah mata saja. Terlalu aneh bila hanya karena mata, pikiran saya bisa error selama berhari-hari. Mungkin saya harus beristirahat dulu, menenangkan diri dan mendinginkan pikiran.

Thursday, December 1, 2011