Pada akhirnya semua akan pergi meninggalkan,
perlahan...
Tuesday, April 5, 2016
Mungkin saya sedang mengalami kejenuhan luar biasa, hingga saya jarang sekali melakukan hal-hal yang dulu saya suka. Membaca, menulis, bahkan travelling hanya jadi cerita untuk saat ini. Apakah saya stagnan? Tidak juga. Saya hanya sedang melakukan suatu hal yang lain.
Tapi saya kangen menulis, sangat. Walaupun pada akhirnya yang saya tulis hanyalah hal-hal absurd atau random. Tapi kehidupan terus berjalan, terus berubah, begitu pula saya. Kondisi saya saat ini sudah tak banyak memberikan kesempatan untuk memberikan waktu bagi diri saya sendiri. Sementara saya masih harus melakukan banyak hal untuk orang lain.
Kehidupan saya benar-benar berubah ketika saya--akhirnya--memutuskan bekerja. Walaupun jujur saja, keputusan saya untuk bekerja di tempat saya saat ini tidak saya lakukan untuk diri saya sendiri. Ada banyak hal, banyak tanggung jawab yang harus saya penuhi sehingga saya harus mengambil keputusan yang teramat besar. Dan dengannya, saya kehilangan sebagian kehidupan saya, mimpi saya.
Ya, mungkin jika saya sudah tak punya tanggungan apa-apa untuk orang lain, saya bisa pergi ke tempat yang saya inginkan.
Tapi itu bukan sekarang, terlebih saya telah terikat dengan begitu banyak hal. Mungkin dari luar akan ada beberapa orang yang sepertinya iri dengan kehidupan saya. Seperti segalanya tampak mudah bagi saya. Sama seperti saya yang hingga kini juga banyak memiliki ke-iri-an dengan kebebasan orang lain dalam menentukan pilihan.
Memang, suatu hal yang belum dimiliki akan tampak sangat menarik, bukan?
Monday, December 14, 2015
Spesial?
Hal yang paling menyedihkan adalah ketika saya memiliki keinginan yang belum tercapai seumur hidup, dan ketika harapan itu sudah begitu besar, saya (lagi-lagi) tak mendapatkannya. Bahkan untuk hal kecil di hari spesial saya, oleh orang yang juga spesial.
Rasanya saya tak ingin lagi berharap...
Pesan Singkat
Saya ingin menangis ketika membaca pesan singkat ini yang dikirimkan oleh ibu saya. Saya sadar, dalam umur 24 tahun ini, saya masih belum bisa menjadi anak yang benar-benar berbakti untuk orang tua saya. Maafkan saya, bu...
Random
Hal tersulit untuk saya lakukan saat ini adalah berdamai...
Betapa sulitnya, karena membutuhkan keikhlasan yang luar biasa untuk mencapainya...
Friday, April 3, 2015
Happiness (?)
"Happiness, doesn't take its time to judge, who should get its taste..."
(Frau - Water)
Tuesday, March 17, 2015
B
Allah menjawab doa manusia melalui berbagai cara. Dalam kasus saya, Allah menjawab doa saya melalui seseorang yang kemudian secara perlahan memasuki kehidupan saya.
Namanya B.
Pertemuan singkat kami telah mampu membuat saya menerima hal-hal yang sebelumnya ingin saya hindari, lupakan. Meskipun secara perlahan, saya mulai dapat berbaikan dengan masa lalu, dengan berbagai macam kelelahan dan luka hati. Terutama dalam melepaskan ingatan menyesakkan tentang seseorang lalu yang sempat hadir dalam hidup saya dan memporakporandakan diri saya.
B telah membantu saya untuk memperbaiki hubungan dengan waktu. Dan dengannya, saya merasa menjadi orang yang baru, yang mampu berlari di tengah berbagai macam kekangan. Dengannya, justru saya merasa bebas...
Selamat datang pada hidup dan pikiranku yang rumit, B..!!
Wednesday, March 11, 2015
Kenapa?
Apakah saya sudah sedemikian berubah?
Saturday, January 17, 2015
Kenangan
Seorang teman saya pernah menulis status di mukabuku:
"untuk hidup, manusia membutuhkan tiga hal: sandang, pangan dan kenangan.."
Sandang dan pangan memang termasuk dalam kebutuhan pokok manusia, primer dan tak bisa dielakkan. Dan bagi saya, kenangan pun menempati posisi yang istimewa, setidaknya untuk tetap membuat saya terjaga, bahwa saya masih hidup. Kenangan itu, yang menjaga akal sehat saya tetap pada tempatnya. Kenangan itu, yang pada akhirnya membentuk emosi dan karakteristik saya, seaneh apapun itu.
Pagi ini, saya merasa sedikit sendu. Saya semakin kalah oleh waktu, dan ruang saya pun semakin sempit. Dalam beberapa waktu ini, saya kembali akan meninggalkan suatu hal, suatu tempat. Dan mungkin yang akan tertinggal hanyalah sebentuk kenangan. Saya akan mengenang, tapi saya tak tahu, apakah mereka yang saya tinggalkan juga akan mengenang saya..
Proses meninggalkan kali ini sangat berat, sungguh. Saya masih belum bisa sepenuhnya ikhlas, meski sesungguhnya tidak ada yang mengikat saya di tempat lama itu. Mungkin saya masih belum puas mencari sesuatu yang memiliki keterikatan semacam itu, jadi meninggalkannya pun seakan-akan mengartikan bahwa saya kehilangan kesempatan untuk mencari. Sementara di tempat baru yang saya tuju, saya memiliki semacam keterikatan yang justru belum saya inginkan, setidaknya untuk saat ini. Tapi saya tidak memiliki pilihan lain yang lebih rasional dan nyata. Dan saya memang harus bertanggungjawab dengan pilihan itu.
Saya ingin pergi dan meninggalkan dalam diam, meski rasanya tidak sopan. Saya hanya tidak ingin menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang akan saya tinggalkan kelak. Dan saya tidak siap dengan komentar. Payah bukan? Tapi saya telah terlanjur lelah, terutama dengan proses untuk mengikhlaskan itu..
Saya tidak tahu, akan menjadi orang seperti apa di tempat baru nanti. Apakah kenangan baru akan membentuk saya menjadi orang yang berbeda? Entahlah. Meskipun saya tahu, ada hal-hal dalam diri saya yang tidak ingin saya hilangkan. Semoga perubahan yang ada akan membawa kebaikan pada diri saya.
Hidup adalah sebuah proses. Meninggalkan juga adalah sebuah proses. Setiap manusia memang akan selalu memiliki proses, saya sadar itu. Tapi mungkin yang saya butuhkan saat ini hanyalah waktu yang sedikit lebih lama, untuk menikmati saat-saat kebebasan saya di tempat lama, dan menciptakan lebih banyak lagi kenangan...
Sunday, January 11, 2015
Tanpa Pertanyaan
Ada kalanya, saya tidak siap untuk bertemu dengan orang lain. Saya tidak siap dengan berbagai pertanyaan yang dengan menjawabnya butuh usaha yang justru akan menyakiti saya secara batin. Saat ini, saya sedang ingin sendirian tanpa ada pertanyaan. Dengan begitu, saya rasa saya akan masih baik-baik saja.
Saturday, December 27, 2014
Pulang?
Saya tak tahu, apakah umur dua puluh tiga ini akan menjadi titik balik, atau hanya akan berakhir sama seperti rentang umur sebelumnya. Sementara saya semakin jatuh pada perenungan-perenungan akan hidup, mau menjadi seperti apakah saya. Apakah saya akan masih bersikeras untuk melakukan pencarian untuk pencapaian-pencapaian yang bahkan belum diketahui kepastiannya? Atau akankah saya menyerah dan kembali, pulang...
Namun saya tak tahu, apakah saya akan menemukan rumah yang sama untuk pulang...
Waktu semakin menjauhi saya. Dan semalam saya tersadarkan dengan status keperempuanan dan kedudukan sebagai anak pertama dalam keluarga kecil saya. Kesadaran itu begitu memberikan beban moral, dan secara perlahan mengikis keegoisan yang saya miliki, berikut kebebasan diri saya. Saya tak bisa terus menghindar.
Orang tua saya adalah yang terbaik yang bisa saya miliki, dalam segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara semakin lama saya merasa semakin kecil, dengan segala kekeraskepalaan yang selama ini saya simpan. Dunia saya seperti terlalu berpusat pada diri saya sendiri, sementara saya semakin menjauh dari keinginan akan pencapaian orang tua yang tersirat dari sorot mata mereka. Saya merasa bersalah. Saya rindu mereka.
Mungkin memang sebaiknya saya pulang, meski sejenak...
Wednesday, December 17, 2014
DuaPuluhTiga
Berbeda dengan satu, dua ataupun tiga tahun yang lalu, 14 Desember kemarin sengaja saya rayakan dengan kesendirian. Kala itu saya merasa tak siap untuk bertemu dengan siapapun dan berbagi kabar dengan sejumlah keengganan. Saya ingin menikmati sepanjang hari itu dengan kebebasan dan kebisuan, bukan hiruk pikuk yang semu dengan bermacam-macam topeng ekspresi. Rasanya aneh bagi saya untuk menjejak angka duapuluhtiga, sementara saya merasa semakin kehilangan waktu untuk melakukan beberapa hal. Memang, pada akhirnya sebagian manusia terkalahkan oleh waktu yang tak pernah puas.
Pada hari itu, saya membiarkan diri saya tenggelam dalam arus memori dan kilas balik. Setidaknya dengan itu, saya dapat tetap mengingat siapa dan seperti apa diri saya. Saya tenggelam pada berbagai lamunan perjalanan, baik yang sudah maupun belum saya jalani. Saya merasa bahwa saya masih memiliki jarak dengan apa-apa yang selama ini saya cari, meskipun saya tak tahu apakah jarak tersebut semakin menjauh atau justru saling mengejar. Entahlah.
Semoga Allah selalu melindungi saya.
Saturday, December 13, 2014
Malam
Malam ini, saya baru menyadari bahwa menaiki bianglala dapat terasa begitu memabukan.
Omong-omong, selamat bereksistensi, dear me... :)
Monday, December 8, 2014
Selfnote
Sunday, November 30, 2014
Random
Hujan. Tiba-tiba saya rindu membaca buku tanpa keterburuan yang memaksa, ditemani sepiring pisang goreng dan segelas teh manis hangat. Di tengah perantauan, saya ingin pulang. Saya rindu "rumah".
Wednesday, November 26, 2014
Siapa yang Tahu
Siapa yang tahu hati perempuan?
Perempuan, ia pandai melukis dan bersandiwara.
Ia dapat begitu terbuka, namun pandai menutup diri dan mengunci hati.
Ia bisa sehangat matahari pagi dan sedingin tatapan mati.
Ia begitu hidup, dan juga mati.
Siapa yang tahu hati perempuan?
Ah, bukankah hati adalah milik masing-masing orang, katanya...
Kesadaran
"kehilangan itu lebih menyakitkan pada prosesnya, bukan pada suatu hal bersifat kebendaan sebagai obyeknya. Melainkan pada kesadaran bahwa manusia telah mengalami kehilangan. Jika kesadaran itu tidak ada, kenyataan mengenai hilangnya sesuatu tidak akan terasa menyakitkan..."
Saturday, November 8, 2014
Wednesday, November 5, 2014
November Rain
Malam ini, untuk kesekian kalinya, saya berada dalam suatu perjalanan kereta. Menuju ke barat tepatnya, ke sebuah kota yang begitu rimba bagi saya. Sebuah kota yang, jika saya boleh memilih, tidak saya minati untuk menjadi tempat saya untuk "pulang".
Malam ini, dalam sepenggal perjalanan saya, hujan turun dengan derasnya. Ini hujan pertama di bulan November untuk saya. Hujan ini membuat saya kembali memeras memori. Kenangan akan hal-hal yang dulu begitu menyenangkan, hingga kenangan tentang hal-hal yang hingga kini masih sulit untuk saya bicarakan. Ada alasan tertentu, pada setiap hal yang tidak terungkapkan. There are words, better unheard, better unsaid...
Seperti biasa, saya suka perjalanan kereta, karena saya bisa mengamati berbagai macam orang. Kali ini, di depan saya duduk seorang ibu muda, beserta seorang anak perempuannya yang masih balita. Tidak ada yang aneh dari kedua orang tersebut. Akan tetapi, saya melihat suatu hal yang luar biasa darinya: cinta.
Tak banyak memang yang bisa saya ceritakan, selain bahwa ibu muda itu meladeni anaknya yang sedang rewel di sepanjang perjalanan. Tapi dari situ saya menemukan cinta, dimana seorang perempuan muda mengorbankan satu bagian besar hidupnya untuk satu makhluk kecil yang pasti akan memberikan sebentuk kesedihan dan kebahagiaan yang nyata. Ia memiliki alasan dan tujuan, dan terikat dengan cintanya. Sementara saya di sini masih berlarian tak tentu arah, mencari hal-hal yang belum pasti, atau bahkan tak memiliki ujung kepastian.
Seperti hujan, yang akan kembali menjadi laut. Akankah saya menemukan hal yang sama?
Saturday, October 25, 2014
Tanya
Aku sering bertanya-tanya, akankah masih ia mengingatku? Akankah mau ia mengingatku?
Sementara aku tak bisa lupa, tentang bagaimana ia menjadi titik terendah dalam masa laluku. Namun tanpanya, aku mungkin tak pernah bisa sampai pada titik dimana aku berada kini.
Pada akhirnya, kita saling mengusir keberadaan satu sama lain.
Pada sebuah akhir yang tak berawal.